" SUMUR SONGO CANDIGATAK, BENARKAH MAKAM KYAI MOJO, GURU SEPIRITUAL PANGERAN DIPONEGORO ..??? "
Setelah mengadakan kunjungan ke sendang Pitu Cabean Kunti, rasanya belum lengkap kalau tidak mengunjungi sebuah wilayah yang ramai dengan Jejak Peradaban Hindu Klasicnya.
Desa Candigatak, Kecamatan Cepogo,
Kabupaten Boyolali. Terdapat komplek bangunan kuno berupa sumur yang jumlahnya mencapai Sembilan Bangunan. Dengan bentuk dan ukuran kedalaman yang berbeda beda. Warga sekitar menyabutnya dengan
Situs Sumur Songo. Berjumlah sembilan bangunan tersebar di beberapa area yang berbeda. Artinya, keberadaan sembilan situs tersebut tidak menjadi satu dalam sebuah wilayah yang sama. Akan tetapi tersebar diberbagai Dusun, di wilayah seputaran Desa Candigatak. Sumur sumur di bangun secara berseberangan, di sepanjang aliran
Sungai Blondo, yaitu sungai yang menjadi pembatas wilayah antar Dusun. Candigatak, mendengar sebutan wilayah itu, seolah mengingatkan sebuah warisan yang telah di tinggalkan oleh leluhur kita. Penggambaran sebuah bangunan periode hindu klasic, yang pernah berperan dan ikut mewarnai kehidupan di masa itu. Sehingga, sampai saat ini kenangan itu masih tetap terjaga dengan baik. Hinggga di jadikan toponimi sebuah wilayah pemukiman. Kira kira adakah jejak bangunan lainnya, selain bangunan sumur songo.
 |
| Kyai Mojo |
Sebelum pembahasan mengenahi obyek yang di maksud, di dalam satu komplek sumur songo terdapat makam salah satu tokoh yang namanya mirip dengan Pahlawan Nasional. Yang memiliki gelar dan nama yang sama dengan tokoh Kyai Mojo, Guru Sepiritual dari Pangeran Diponegoro. Apakah sosok tokoh yang dimakamkan di kompllek sumur songo benar benar Kyai Mojo, Guru Sepiritual dari Pangeran Diponegoro. Tertera tulisan sebagai prasasti yang berada pada nisan, yang terbaca Kiai Mojo, wafat pada Senin legi, tanggal 9 ba'da mulud, tahun1860. Banyak yang mengenal, tokoh yang di sebutkan dalam informasi nisan adalah Guru spiritual
Pangeran Diponegoro. Bahkan ada sedikit cerita yang beredar di kalangan masyarakat. Tokoh Kyai Mojo, pernah membantu pertempuran di wilayah boyolali, saat melawan
penjajah belanda. Sebelum keberangkatan ke medan perang, komplek sumur songo pernah di jedikan tempat persinggahan sementara waktu. Di komplek sumur songo juga, tokoh Kyai Mojo menyusun setrategi pertempuran untuk melawan belanda di Boyolali.
Sedangkan Kyai Mojo, Guru sepiritual Pangeran Diponegoro wafat pada tanggal 20 Desember, tahun 1849. Beliau meninggal di tempat pengasingan di
Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara. Setelah di tangkap oleh belanda pada tahun 1928. Saat
Perang Jawa masih berlangsung. Makam beliau kini berada di puncak bukit, Desa Wuluan, Minahasa, Sulawesi Utara. Jadi sudah jelas, bahwa makam yang beerada di komplek situs sumur songo, bukanlah makam tokoh Palawan Nasional Kyai Mojo. Mungkin tokoh lain, yang secara kebetulan memiliki gelar dan nama yang sama. Kabar tentang kebenaran makam ini masih simpang siur. Ada yang berpendapat hanya sebagai petilasan, atau tempat persinggahan sementara Kyai Mojo dan ada pula yang meyakini sebagai makam. Tapi setelah mendengarkan informasi selanjutnya. Pendapat dari diri saya pribadi menyatakan, ini bukan makam, hanya replika makam yang di keramatkan. Kenapa demikian .. ??? Pada tahun 2002, lokasi keberadaan sumur songo lebih banyak di temukan batuan yang terbentuk karena alam, di sertai beberapa batuan yang di bentuk oleh manusia. Yaitu, beberapa dari panel batuan candi yang di peruntukan konstruksi pagar dari sumur itu sendiri. Ada salah satu tokoh sepiritual yang membuka lahan tersebut, mencari sumber kebenaran lewat ritual yang di jalaninya. Dan itu tidak berdasar, dan tidak berlaku untuk kajian sejarah. Ingat, ini bukan makam, akan tetapi replika makam yang sengaja di keramtankan.
Sesuai dengan sebutannya, situs sumur songo memang kedapatan bangunan sumur kuno yang jumlahnya sembilan bangunan. Akan tetapi, secara keseluruhan tidak terpusat pada satu wilayah saja. Bangunan dari sumur songo tersebar diberbagai wilayah dusun, di Desa Candigatak. Untuk kunjungan di awali dari komplek bangunan sumur yang pertama dan kedua. Karena secara kebetulan tata letak kedua bangunan tersebut sangat berdekatan, hanya berjarak kisaran 20 meter. Di tempat keberadaan kedua sumur tersebut, memang banyak sumber mata air yang keluar dari bawah celah celah akar pepohonan besar seperti, pohon beringin, pohon bulu, dan pohon pule. Jadi kedua bangunan sumur tersebut di naungi pepohonan yang rimbun dan memiliki batang pokok yang keras. Sumur yang pertama, dengan panel panelnya masih membentuk konsep bangunan awal. Walau pun, dengan kenyataannya, komponen komponen tersebut di tata tidak semestinya.
Dan terdapat dua obyek berupa batu lumpang dan batu lesung. Seperti hal umumnya, batu lumpang adalah alat yang di fungsikan untuk menumbuk, atau alat yang di ciptakan untuk mempemudah suatu pekerjaan. Sedangkan
watu lesung itu sendiri, di buat dan di fungsikan sebagai alat untuk penampungan air. Kedua obyek memiliki fungsi yang berbeda. Untuk panel dari bangunan sumur yang pertama, masih memiliki beberapa hiasan yang terpasang. Diantaranya, panel
antefiks yang keberadaanya terdapat pada bagian ujjung depan pagar bangunan. Panel seperti ini seharusnya ada dua buah. Akan tetapi pada kenyataanya hanya terlihat satu buah saja. Terdapat satu relief yang terpahat hiasan flora, sekuntum bunga yang sudah mekar. Bunga jenis apa belu dapat di ketahui bentuknya. Keduanya memiliki perbedaan dari segi bangunan dan segi ukuran. Dari segi panel memang memiliki kesamaan, sedangkan untuk lebar dan kedalaman sumur keduanya memiliki perbedaan.
 |
| Sumur Pertama |
 |
| Sumur ke Dua |
Sumur pertama dan kedua, memiliki bentuk kotak bujur sangkar dari bibir sumur hingga sampai ke dasar sumur. Dengan bangunan dinding masih menggunakan panel panel batuan kotak yang tersusun dengan sempurna. Untuk ukuran lebar dari keduanya memiliki perbedaan. Lebih besar sumur pertama jika di banding dengan sumur yang ke dua. Perihal demikian mengingatkan sebuah perkomplekan sendang pitu cabean kunti yang sama sama di wilayah cepogo. Beda penyebutan obyek, akan tetapi memiliki kesamaan dalam konsep bangunan.
Jelajah Ungaran
jelajahkarungrungan.blogspot.com
 |
| Sendang ke Tiga |
 |
| Sendang ke Tiga |
Untuk bangunan sumur yang ketiga, terletak berjauhan dengan sumur yang pertama dan ke dua. Walau pun tata letaknya masih sama dengan kedua sumur tersebut. Di pinggir sungai blondo, pembatas wilayah seluas dusun. Bangunan sumur ini tidak memiliki kesamaan dengan istilah penyebutannya. Sekilas hampir menyerupai sendang kuno. Dan bangunan sumur ini mengingatkan sebuah bangunan dikomplek sendang pitu cabean kunti. Memiliki kesamaan konsep bangunan dengan sendang Sidotopo Cabean Kunti, berbentuk kotak bujur sangkar presisi. Lebar sumur kisaran 2,5 x 2,5 meter. Dugaan, kedalaman sumur ke tiga hampir memiliki kesamaan dengan ukuran kedalaman sumur pertama dan kedua.
 |
| Sumur ke Tiga |
 |
| Sumur ke Tiga |
Tersusun dari dua jenis batuan yang berbeda, antara lain jenis batuan terbentuk dari alam, dan batuan yang sengaja di bentuk dari pahatan manusia. Penyusunan batu sepertinya mendapatkan perlakuan yang tidak aslinya. Karena terlihat dari penyusunannya yang tidak rata, dan tidak saling berkaitan. Separuh dinding bagian atas menggunakan batu alam, dan separuhnya menggunakan panel yang aslinya. Bahkan dinding bagian bawah juga mendapatkan perlakuan yang sama. Di mungkinkan, bangunan ini pernah memiliki pagar pembatas yang sama seperti dengan sumur pertama dan ke dua. Letak sumur ke tiga terdapat pada bidang tanah berdinding atau bertebing. Dugaan sumur ke tiga pernah terkena abrasi tanah longsor, jika di perhatikan dari tata letaknya yang lebih rendah ketimbang tanah yang lebih tinggi di sebelahnya. Terlihat dari bagian panel panelnya berupa punggung pagar yang memiliki hiasan berupa antefiks sambung yang menempel tetap di bagian sisi sisinya.
 |
| Sumur ke Empat |
Sumur ke empat bisa di bilang masih sempurna dengan wujud konsep bangunan awalnya. Dengan bentuk bibir sumur yang masih tertata dengan rapi. Masih menggunakan atau masih di terapkannya komponen panel secara melingkar dan berurutan. Bangunan sumur ke empat, menggunakan dua jenis material yang berbeda. Pada panel batu lapis pertama, menggunakan bahan baku batu andesit. Sedangkan untuk dinding dalam bagian atas setelah lapisan batu pertama. Komponen lapis ke dua dari atas, di lapisi menggunakan susunan batu bata merah. Dugaan material batu bata tersebut bukanlah bahan material yang terbilng kuno. Akan tetapi, serangkaian material batu bata buatan baru. Untuk konsep susunan batu bata masih mengikuti konsep bangunan aslinya. Susunan batu bata merah memiliki ketinggian kisaran 1,5 meter dari atas ke bawah, dan tersusun separuh dari kedalaman sumurnya. Setelah susunan batu bata, susunan berikutnya menggunakan material batuan andesit yang terpahat sesuai dengan bentuk dalam bagian sumur. Bagian bawah tidak di bangun secara melingkar seperti pada bagian atasnya. Di bangun seperti ruangan kamar dengan bentuk bujur sangkar. Sudut dinding bagian sisi utara ke timur telah mengalami roboh, di sebabkan abrasi tanah di dalamnya. Sehingga, bentuk bangunan dalam sumur seperti berongga hampir menyerupai Goa.
 |
| Sumur ke Empat |
 |
| Sumur ke Empat |
Jika di lihat dari atas, sebenarnya susunan atau penataan komponen bangunan sumur bagian dalam dasar sangat rapi. Sangat singkron dengan panel panelnya yang masih terlihat kokoh. Mungkin karena saking lamanya usia dari bangunan sumur tersebut, mengakibatkan komponen batuan melorot dan tidak presisi dengan penataan awalnya. Konon ceritanya, sumur ke empat terdapat batu lesung yang di fungsikan untuk penampungan air. Akan tetapi, batu lesung tersebut sengaja di angkat, dan di masukan ke dalam sumurnya. Karena alasan apa perlakuan seperti itu di kerjakan. Sedangkan untuk kepastian sebuah alasan belum dapat di ketahui. Di seputaran bangunan sumur ke empat ini, terdapat satu pohon beringin yang kemungkinan memiliki usia di atas ratusan tahun. Pohon tersebut berdiri dengan daun lebatnya, hingga menaungi bagunan sumur ke empat.
 |
| Sumur ke Lima |
 |
| Sumur ke Lima |
Kunjungan yang berikutnya bangunan sumur yang ke lima. Jarak sumur ke lima dengan ke tiga bangunan sumur lain sangat berjauhan. Beda dengan jarak sumur ke lima dan ke empat, kisaran 25 meter. Untuk mengunjungi bangunan sumur ke empat dan ke lima, harus menyusuri jalan dan masuk ke dusun yang masih di wilayah Desa Candigatak. Dan tata letak sumur ke lima dan ke empat, masih di tepian aliran sungai Blondo. Rindangnya pohon beringin dan pohon bulu, melingkupi keberadaan letak sumur yang ke lima. Untuk bangunan sumur ini memiliki perbedaan dari segi konsepnya. Sumur yang ke lima memiliki konsep bangunan yang sama dengan sumur yang ke empat. Hanya beda pada dinding bagian dalam yang memiliki bentuk ruangan bujur sangkar. Sumur ke empat dan ke lima tidak sama dengan bangunan sumur pertama, kedua, dan ketiga. Bangunan sumur ke lima masih mengikuti konsep bangunan sumur sumur pada umumnnya. Berbentuk lingkaran hingga sampai ke dasar bagian bawah. Walau pun dengan kenyataanya, sumur ke lima masih tersusun rapi dengan komponen batuan asli. Cuma bangunan tersebut sengaja di tutup atau di lapisi dengan campuran material pasir dan bahan perekat. Dugaan bangunan dinding sumur bagian atas luar pernah roboh. Sehingga, komponen batu penyusun di tata ulang, dan di tutup dengan lapisan cor supaya bangunan tersebut semakin kuat dan tidak roboh lagi.
 |
| Sumur ke Enam |
 |
| Sumur ke Enam |
Keberadaan sumur ke enam tidak begitu jauh dengan lokasi sumur ke empat dan ke lima. Berada di seberang jalan dan di bawah jembatan disisi sungai Blondo. Bangunan yang satu ini memiliki kesamaan konsep dengan bangunan sumur pertama, kedua, dan ke tiga. Perbedaan bentuk bangunan terletak pada segi bentuknya saja. Jika bangunan sumur pertama, kedua, dan ketiga berbentuk bujursangkar, Sedangkan untuk bangununan sumur ke enam ini berbentuk persegi panjang membujur timur ke barat. Nasib yang di alami sumur ke enam ini, memiliki kesamaan dengan bangunan sumur ke lima. Bagian dinding sumur sama sama di imbuhi lapisan dengan material cor. Walau pun di dalamnya masih menggunakan komponen batuan yang asli.
 |
| Sumur ke Enam |
Material dinding sumur, mulai dari bibir hingga sampai dasar sumur memiliki bahan yang sama. Walau pun bagian dinding atas di lapisi material cor, sedangkan bagian dinding tengah sampai ke bawah dasar sumur masih menggunakan panel panel komponen batuan yang aslinya. Konon ceritanya, setiap sumur kedapatan batu lesung di pinggiran luar. Batu lesung tersebut memiliki fungsi yang sama yaitu di pergunakan sebagai penampungan air. Akan tetapi untuk sampai saat ini, batu lesung tersebut sudah tidak tampak kelihatan di seputaran sumur ke enam. Informasi yang berlanjut tidak di beritahukan keberadaan obyek yang di maksud. Antara di masukan ke dalam sumur, atau ada unsur kesengajaan di curi orang yang kurang bertanggung jawab.
Untuk menuju ke komplek sumur ke tujuh, ke delapan, dan ke sembilan, terdapat reruntuhan bangunan Candi yang hanya menyisakan beberapa fragmen batuan pengisi, dua fragmen yoni, dan satu panel umpak penyangga tiang. Semua tertata dan terawat dengan baik di bawah pohon pule. Selain material dari batu andesit, di lokasi juga bisa menemukan material bekas bangunan berupa batu bata merah kuno atau Banon. Di duga, bangunan candi ini pernah berdiri lebih dari satu bangunan. Dengan bukti 1 yoni dengan ukuran besar, dan satu yoni dengan ukuran sedang. Selain itu, bangunan bangunan candi ini di bangun menggunakan alas dari banon. Jadi konsep bangunannya memiliki kesamaan dengan bangunan Candi Sewu yang berada di Klaten, komplek Candi Prambanan. Dengan urutan pembangunan sebagai berikut. Tanah yang akan di bangun percandian, sebelumnya di beri lapisan berupa batu bata merah kuno atau banon. Seperti biasanya, ukuran dari banon tersebut memiliki ketebalan 9 cm, lebar 24 cm, dan panjang mencapai 36 cm. Tergantung dengan kontur tanah, kepadatan tanah yang terpilih untuk di bangun komplek percandian. Kalau tanah tersebut gembur, atau lunak, pastinya lapisan banon akan semakin tebal dan banon yang di butuhkan akan semakin banyak. Dan jika sebaliknya, kontur tanah di nilai memiliki kepadatan, kebutuhhan banon yang akan di jadikan lapisan semakin lebih sedikit. Setelah banon tertata, dan di yakinkan pembanunan candi akan aman. Batu lapis pertama dari panel bangunan candi di letakan di permukaan banon yang sudah tertata berlapis dan di gelar dengan lebar.
 |
| Candi Gatak |
Jejak bangunan kuno ini lah, yang pada akhirnya di jadikan nama atau toponimi suatu wilayah setingkat Desa. Candi Gatak, dengan sekte keyakinan hindu siwa, bangunan atau komplek percandian ini pernah berdiri dengan kokoh dan megah. Pusat dari bangunan candi, atau bangunan utama candi di duga titik pusatnya yang sekarang ditumbuhi pohon pule. Jadi, bisa di prediksikan, bekas bangunan candi utama berada di bawah akar pohon pule. Kira kira jika di adakan eskavasi, apakah masih ada struktur batur candinya .. ???
 |
| Sumur ke Tujuh |
 |
| Sumur ke Delapan |
Untuk menuju ke sumur ke tujuh dan ke delapan, perjalanan ini di rasa paling jauh. Sebenarnya lokasi ke dua bangunan sumur ini berada berdekatan dengan sumur pertama, kedua dan ke sembilan. Akan tetapi, petunjuk jalan yang sudah berlaku memang harus demikian. Untuk kunjungan, supaya urut harus memutari wilayah seluas Dusun di Desa Candigatak. Kedua bangunan sumur ke tujuh dan ke delapan, hampir memiliki kesamaan jarak dengan sumur pertama dan sumur ke dua. Itu artinya, kedua bangunan tersebut masih dalam satu komplek yang sama. Tata letak kedua sumur masih di tepi aliran sungai blondo. Di bawah rerimbunan pohon Bambu, pohon Beringin, dan pohon Bendho.
 |
| Sumur ke Tujuh |
Kedua sumur memiliki kesamaan dari segi konsep bangunannya. Sama sama berbentuk kotak bujur sangkar akan tetapi memiliki ukuran yang berbeda. Untuk bangunan sumur ke tujuh lebih kecil jika di banding dengan bangunan sumur ke delapan. Dengan ukuran 80 cm x 80 cm. Untuk kedalaman belum dapat di ketahui. Kondisi bangunan tidak kurang dari apa pun. Jika di perhatikan dari komponen sumur, masih dengan tata letak yang asli. Hanya saja ada beberapa komponen lapis pertama dari atas, terlepas dari konekting semetinya. Mulai dari lapis ke dua dari atas, susunan komponen batuan masih kokoh tersusun hingga sampai ke dasar sumur. Tidak memiliki pagar pembatas yang tinggi seperti bangunan sumur ke empat, ke lima dan ke enam. Di samping sumur ke tujuh, sebenarnya terdapat satu buah watu lumpang dan satu buah watu lesung. Akan tetapi, yang tersisa hanya watu lesungnya saja yang memiliki ukuran 60 cm x 70cm. Sedangkan untuk nasib dari watu lumpang memiliki cerita yang sama dengan komplek sumur ke empat dan ke enam. Obyek yang di duga watu lesung dengan sengaja di masukan ke dalam sumur. Perihal alasan kenapa dan ada apa, informasi selanjutnya tidak dapat di ketahui.
 |
| Sumur ke Delapan |
 |
| Sumur ke Delapan |
Tepatnya berada di sebelah selatan, dengan jarak kurang lebih hanya 20 meter saja. Terdapat bangunan sumur dengan urutan yang ke delapan. Bangunan ini yang paling istimewa dari pada sumur lainnya. Jika di perhatikan dari kelengkapan panel panelnya. Bangunan sumur yang memiliki bentuk bujursangkar dengan ukuran 120 cm x 120 cm dengan kondisi yang masih lengkap. Tidak kurang dari satu panel pun yang berpindah tempat. Bangunan sumur ini tidak memiliki dinding pembatas seperti bangunan sumur ke empat, lima, dan ke enam. Yang menggunakan pagar pembatas setinggi pinggang orang dewasa. Bangunan sumur ke delapan hanya terpasang empat komponen yang terangkai membentuk kotak bujur sangkar pada lapis pertama dari atas. Dan komponen komponen adalah yang di sebut dengan bibir sumur.
 |
| Sumur ke Sembilan |
Untuk menuju ke sumur yang kesembilan, harus melalui atau menyeberangi sungai. Sebenarnya sangat dekat sekali dengan jarak dari ke empat sumur. Jaraknya berdekatan dengan komplek sumur pertama dan ke dua, dan berdekatan dengan komplek sumur ke tujuh dan ke delapan. Bangunan sumur ke sembilan paling beda jika di bandingkan dengan ke delapan sumur lain. Jika ke delapan sumur di buat, dan di bangun pada bidang tanah yang datar, untuk bangunan sumur ke sembilan ini, malah di bangun pada dinding tanah atau tanah yang berbatur. Bangunan fisik sumur ke sembilan berbentuk kotak membujur ke arah selatan ke utara. Memiliki nasib yang sama dengan bangunan sumur ke empat, lima dan ke enam. Yaitu, batuan penyusun aslinya ditutup atau di lapisi dengan material cor. Keberadaan bangunan sumur ke sembilan di bawah rimbunnya pohon bambu. Dengan debit air yang keluar dari celah celah baturan.
Apa fungsi dari pada ke sembilan sumur tersebut
 |
| Sumur ke Dua |
 |
Lesung, Sumur, Lumpang
|
Mitlogi Hindu kuno memberitahukan bahwa, sumber mata air adalah tempat bermainnya para Dewa. Dengan adanya sumber mata air di wilayah Desa Candigatak, secara umum telah memberitahukan bahwa desa tersebut adalah tanah yang sangat subur. Yang bisa menghasilkan ketika di kelola oleh manusia, yang bisa memberikan manfaat, sehingga menumbuhkan peradaban besar dan berkembang. Jadi pada dasarnya, ketika Raja menetapkan dan menunjuk suatu wilayah untuk pembangunan candi, tanah tersebut akan di ukur tingkat kesuburannya. Jika memang tanah memenuhi persyaratan tertentu, Sang Raja akan memerintahkan Silpasastra untuk membangun tempat pemujaan tersebut. Maka dari itu, tidak heran ketika wilayah candigatak di pilih oleh sang raja untuk di berdirikan bangunan candi dengan kelengkapan fasilitas sesucinya. Berarti memang wilayah desa candigatak memiliki kontur tanah yang subur dan banyak memiliki sumber mata air yang melimpah. Bukti yang masih bisa di pastkan, adanya sisa reruntuhan bangunan candi di seputaran komplek sumur songo. Fungsi dari pada sumur songo adalah, selain di manfaatkan airnya oleh penduduk kala itu, situs sumur songo di anggap memiliki sumber mata air yang suci. Dan air tersebut di manfaatkan untuk pemujaan dewa dari keyakinan hindu klasic sebagai sarananya.
 |
Antefiks Sumur Pertama
|
 |
Sumur pertama
|
 |
Sumur pertama
|
 |
| Sumur Pertama |
 |
Komplek sumur pertama dan ke dua
 | Sumur ke dua
|
 | Sumur ke dua
 | Sumur ke dua
|
|
|
|
|
 |
| Sumur ke tiga |
 |
| Relief Bunga |
Komentar
Posting Komentar