KOMPLEK MAKAM KASEPUHAN DESA BAKULAN LOR, KECAMATAN CEPOGO

" PROSES ESKAVASI MAKAM KASEPUHAN, LANGGAM PAKUBUWONO PERIODE 1800 AN AWAL HINGGA PASCA PERANG JAWA "

Makam Sesepuh
Sebelum

Tujuan awal kita sebenarya mengadakan blusukan dengan obyek jejak hindu buddha di wilayah Desa Bakulan Kidul, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Kami akan mengunjungi salah satu tempat yang secara kebetulan terdapat jejak mataram hindu. Berupa dua buah yoni, satu buah panel kemuncak, dan satu buah panel penghias atap bangunan candi berupa antefiks.  Akan tetapi, di dalam perjalanan kita di kejutkan dengan melihat pohon yang lumayan besar dan lebat daunnya. Kita berfikir bahwa tempat dengan pohon besar identik ada jejak hindunya. Memang benar, ketika rombongan menuju ke lokasi yang kita maksud, ternyata kita di perlihatkan komplek makam kasepuhan yang terbilang cukup luas. Memang komplek makam ini secara generasi telah diteruskan fungsinya, sebagai pemakaman umum milik warga Bakulan Lor. Akhirnya kita memutuskan untuk masuk ke komplek makam tersebut. Dengan harapan bisa menemukan jejak peradaban klasic hindu buddha. Karena memang di wilayah kabupaten boyolai, khususnya di lereng Gunung Merbabu banyak sekali temuan jejak jejak leluhur Nusantara.

Nisan Langgam PB
Sesudah

Dari apa yang kita harapkan ternyata tidak membawakan hasil. Malah kita di hadapkan dan di perlihatkan dengan makam makam kasepuhan dengan periode yang lumayan cukup tua. Sempat kita berfikir untuk mengulang blusukan ke komplek makam ini di keesokan harinya. Karena sore itu mengingatkan sudah menjelang asyar dan awan tertutup mendung. Saat kita akan beranjak dan keluar dari dalam komplek pemakaman, terlihat salah satu makam yang tata letaknya berada di bawah pohon Pule. Dengan kondisi yang sangat memprihatinkan, dan kurang terawat. Sebelum keluar dari komplek pemakaman, sempat mengadakan sedikit rundingan di antara kita keterkaitan pengangkatan atau menaikan. Ide yang keluar dari dalam pikiran itu serba mendadak. Dan menurut keputusan kami, makam tersebut harus segera di angkat. Kita tau, bahwa tindakan yang kita ambil sangat tidak baik, artinya kita mengangkat makam tokoh Desa, tanpa sepengetahuan warga masyarakat, dan tanpa ijin. Semua itu kita lakukan karena ada rasa empati yang tumbuh terhadap makam tokoh yang di maksud. Dengan barat hati yang memaksa untuk melakukannya, dan ada rasa takut di salahkan, kita nekad mengerjakan tersebut tersebut. Tidak butuh waktu lama, kegiatan penyusunan makam tokoh sudah terlaksana. Walau pun sengaja, kita tidak munculkan secara keseluruhan, dan masih ada beberapa panel jirat  yang tersusun dua lapis. Kita terbentur dengan waktu, sedangkan suasana sudah mulai gelap, dan ritik hujan datang tak di undang  mengguyur raga. Untuk keputusan akhir, keesokan harinya kita berempat mengunjungi komplek makam itu lagi. Perihal rencana kemarin penyusunan makam akan di lakukan secara besar besaran. Kita bagi tugas sore itu, dengan perjalanan pulang,mkita mengadakan obrolan kecil di atas kendaraan. Beberapa teman yang berdomisili di cepogo mengambil tugas mencari tokoh desa, dan sesepuh desa. Prihal permintaan ijin untuk menaikan makam yang kita tuju. Ijin yang di berlakukan dan di tujukan, terutama tokoh Masyarakat seperti Pak RW, tokoh Agama, dan beberapa Warga Masyarakat sekitar. Alhamdulillah, seketika itu ijin dan wewenang di berikan kepada kita. Di perkenankan untuk mengangkat atau menaikan makam kasepuhan yang sudah lama tertimbun tanah.

Makam Ulama PR
Sesudah

Di komplek makam Desa Bakulan Lor, memang menyimpan jejak sejarah yang tidak luput dari peradaban islam. Sebuah peradaban besar yang berkembang di masa itu. Semakin ramai ketika muncul sebuah aturan aturan yang melarang tindakan tindakan yang sekiranya merugikan. Maka dari itu, sebuah wilayah yang memiliki sosok Pemimpin menerapkan aturan atau perundangan yang berlaku, dan di hormati pada masa itu. Sehingga memunculkan tata letak administrasi sebuah wilayah yang di pimpin para pejabat pemerintahan. Pejabat dari Kasultanan mau pun dari Kasunanan. Pejabat yang di pilih langsung oleh pimpin, Raja atau Sultan. Dan tetap berjalan dari masa ke masa walau pun sudah berganti periode kepemimpinannya.  Komplek makam desa bakulan lor, telah menunjukan keterkaitan peubahan masa kepemimpinan itu. Dengan adanya jejak peradaban Islam yang memunculkan makam makam kasepuhan. Jejak itu mulai muncul sejak dari masa pemerintahan Mataram Islam Amangkurat. Dengan menunjukan typologi nisan tahun 1700 an akhir dan, tahun 1800 an awal. Berangsur hingga makam makam dengan nisan periode Pasca Perang Dipnegoro dari Langgam Hamengkubuwono mau pun Langgam Pakubuwono.

Makam Ulama PR
Makam Ulama PR

Selain makam makam tokoh pejabat pemerintahan dari tiap periodenya. Makam makam tokoh ulama dari berbagai periode juga muncul di komplek pemakaman desa bakulan lor. Makam ulama dari periode 1700 an akhir, hingga makam ulama periode PAsca Perang Diponegoro. Tokoh ulama di komplek makam ini banyak di tempati oleh ulama ulama perempuan. Selain sebagai ulama, tokoh perempuan satu ini juga menjabat di pemerintahan kala itu. Memilik dua gelar yang berbeda status sosialnya. Gelar ulama dan gelar pejabat pemerintahan.

Langgam Tembayat PB
Langgam PB tokoh PR

Di dalam komplek pemakaman, terdapat sebuah bangunan yang merujuk pada sebuah ruangan. Akan tetapi hanya menyisakan Vondasinya saja. Di dalam ruangan tersebut hanya terdapat dua pusara makam tokoh yang di tuakan. Akan tetapi, mulai dari sini kejanggalan itu muncul. Ruangan dengan ukuran kurang lebih 10 meter x 8 meter hanya terdaat 2 makam tokoh saja. Bahkan, makam kedua tokoh tersebut beradea pada bagian sisi selatan sudut timur. Sedangkan, untuk lahan di sebelah utara makam keduanya kosong dan lebar. Itu artinya, dugaan ruang atau lahan kosong tersebut pernah ada makam sosok tokoh yang di sepuhkan  mulai dari periode angka tahun, mau pun sepuh dari nasab ke ilmuannya. Jika menurut cerita warga setempat, saat kita temui dan sedikit menggali informasi tentang kondisi komplek makam. Kedua warga tersebut menyebutkan, bahwa lahan kosong, yang berada di dalam ruangan kamar, dulu memang ada beberapa makam yang tertata secara sejajar dari timur ke barat. Sisa dari tata letak makam itu, diingatan dan di ceritakan kembali oleh warga setempat. Dan memberikan gambaran saaat tokoh yang memberi informasi masih usia Sekolah Dasar. Jika semua terlihat, atau bangunan makam itu terlihat kemungkinan ada kisaran 8 sampai 10 makam yang berada di dalam ruangan ini.

Satu Makam Dua
Nisan berbeda
Nisan Kartasura
Pra Giyanti

Setelah memberikan keterangan dari hasil ingatan yang masih melekat, warga masyarakat ijin kembali ke rumah masing masing. Dan kami pun dengan tujuan awal kita, menaikan makam sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tidak membutuhkan waktu begitu lama, makam yang kita naikan selesai dan terangkat sesuai dengan harapan kita. Pada saat akan melakukan eskavasi lanjutan, ada sebuah pusara yang agak beda, tidak sama dengan makam makam pada umumnya. Kedapatan makam tersebut memiliki perbedaan pada komponen terpenting, yaitu dua nisan yang berbeda. Setelah kita amati, dengan pengamatan nisan salah satu memang memiliki perbedaan dari periode  masanya. Nisan satu dengan langgam pakubuwono perioe 1800an awal, berjenis kelamin perempuan. Sedangkan nisan yang satu lebih tua periodenya, menunjukan atau memberikan keterangan Pra Giyanti, atau belum terjadinya perjanjian Giyanti. Pikiran kita mulai berasumsi, apakah nisan ini adalha nisan pindahan dari lahan yang di duga kosong, yang berada di dalam ruangan. Berarti memang ada makam tokoh yang lebih tua dari periode angka tahunnya. Yang mengisi ruangan yang menyisakan bangunan vondasi saja.

Makam pertama yang
kita eskavasi 

Kenapa makam dengan langgam Hamengkubuwono dimakamkan di wilayah kekuasaan Kasunanan Pakubuwono. Jawabanya adalah, Tidak ada yang melarang ketika tokoh dari Ksunanan Surakarta mengabdikan dirinya ke Kasultanan Jogjakarta. Bahkan sebaliknya, Tokoh dari Kasultanan Jogjakarta mengabdikan diri ke Kasunanan Surakarta. Itu sah sah saja dan tidak ada undang undang yang berlaku kusus pejabat pemerintahan. Tidak harus Pejabat pemerintahan Jogjakarta harus mengabdi ke Kasultanan Jogja, tidak serta merta pula, tokoh dari kasunanan Surakarta harus mengabdikan diri ke surakarta. Tukar pemuda dan kebudayaan sudah berlaku di jaman itu. Jadi ketika salah satu tokoh pejabat pemerintahan ada yang meninggal, Akan tetap di makamkan di wilayah kekuasaan dari pemimpin yang di embannya. Di buatkanlah prasasti dua belah batu nisan, yang menjadi identitas atau ciri khasnya daerah atau wilyah tokoh tersebut berasal.



Nisan langgam Hamengkubuwono

Nisan langgam Hamengkubuwono

Nisan langgam Pakubuwono

Nisan langgam Hamengkubuwono

Nisan langgam Pakubuwono

Nisan langgam Pakubuwono

Nisan langgam Pakubuwono

Nisan langgam Hamengkubuwono

Nisan langgam Pakubuwono

Nisan langgam Tembayat Pakubuwono






Komentar

Postingan populer dari blog ini

SITUS CANDI DI MAKAM WALIULLOH KHASAN MUNADI

WATU LUMPANG DAN UNFINIS YONI KENDALI SODO

MAKAM WALIULLOH SYECH SUDJONO DAN KE DUA SAHABATNYA