GUNUNG MIJIL, KOMPLEK MAKAM KYAI CINDE AMOH DAN KYAI ABDULROZAD
MAKAM KYAI CINDE AMOH, KYAI ABDULROZAD GUNUNG MIJIL DAN PETIRTAAN CANDI KEWARIGAN
![]() |
| Makam Kyai Cinde Amoh Dan Kyai Abdulrozad Gunung Mijil |
Masih di Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, dan masih menelusuri jejak jejak kejayaan leluhur Nusantara.
Kisah itu tak lekang oleh waktu, masih menyelimuti jejak sejarah peradaban masa itu. Dengan di balut cerita rakyat yang kental dengan berbagai macam bentuk kesakralan sebuah tempat. Sehingga mampu memunculkan rasa yang sangat peka dan kuat. Di dorong rasa keingintahuan dari sebuah rasa penasaran. Menapaki jejak langkah sejauh mata memandang, dan mengikuti kata hati. Seolah olah menyusuri lorong waktu untuk melihat keindahan masalalu. Kedamaian terasa menyapa, kegembiraan terasa sangat girang. Bahkan hiruk pikuk ramahnya sukma yang menyatu dengan alam, seolah ikut menyapa. Semua telah memberitahukan dengan isyarat, seolah olah berkata " Wahai sang pewarisku, mampukah menunjukan baktimu kepadaku, walau pun hanya sekedar mengenal, dan menjaga warisanku .. ??? ". Semua terdiam dan terpaku, naluri tak mampu bercumbu. Bahkan, mengutarakan sebuah kalimat pun, terdiam dan tak mampu. Walau pun sekedar sapaan yang termangu antara mampu dan tidak mampu, semua terasa kelu dan berlalu dengan perasaan sendu.
![]() |
| Candi Petirtaan Kewaringan |
Setelah mengadakan kunjungan di beberapa obyek yang terkenal dengan kemistisannya, yang terkenal dengan legenda atau pun cerita rakyatnya, dan terkenal dengan keexoticsannya. Yaitu sebuah tempat yang memnyimpan banyak kenangan dan tinggalan yang masih terjaga hingga sampai saat ini. Sebuah tempat yang damai dan tentram, yang di naungi oleh alam. Dan jika kita berada di dalam area obyek tersebut, seolah olah ikut merasakan kedamaian di masa itu. Di mana para leluhur hidup rukun, damai dan selalu berdampingan dengan alam. Kehidupan yang selalu bergantung dengan kebaikan alam. Ketika alam memberi, leluhur kita menerima. Ketika sudah menerima, leluhur kita akan memberi, dan menjaga. Karena istilah tabur tuai, dan hukum karma masih berlaku. Di setiap aturan dari sang penguasa, aturan dari tokoh agama, memberikan pelajaran yang mengandung pesan moral. Segala bentuk dari aturan selalu dipatuhi, di ajarkan, di sampaikan dan sangat di keramatkan. Yang paling jelas, suasana seperti itu lah yang membuat kaki ini ingin melangkah, berkunjung dan mengingat masa lalu kembali. Walau pun dengan kenyataanya, tidak pernah dan tidak akan mengalami.
![]() |
| Candi Petirtaan Kewaringan |
Komplek sendang kuno yang di kenal dengan sebutan sendang Pitu Cabean Kunti. Beberapa sumber mata air alami yang keluar dari dalam perut bumi. Berada di dalam satu wilayah, yang mampu memberikan kehidupan dari masa ke masa. Oleh para pendahulu sumber sumber mata air itu di buatkan tempat penampungan, di manfaatkan untuk sarana kehidupan sehari hari. Lengkap dengan bangunan megah dan nampak akan wibawanya. Hanya terangkai dan tersusun dari bahan baku batu alam saja. Yang terpahat dan di ukir sesuai penggambaran karakter wilayahnya. Bahkan bahan material itu sangat mudah di dapatkan. Setiap sumber mata air memiliki bentuk dan konsep bangunan yang sama. Seolah memberitahukan bahwa, bangunan bangunan itu yang sengaja di buat supaya tidak ada unsur perbedaan dari segi sosial. Dengan konsep yang di balut dengan penggambaran alam, tentang kearifan lokal, sendang sendang tersebut memiliki daya tarik tersendiri dari setiap bangunannya. Sehingga, para pengunjung semakin ramai berdatangan. Dari berbagai element masyarakat, dan bukan dari daerah saja, akan tetapi kunjungan itu datang dari luar daerah dan luar wilayah. Para pengunjung memanfaatkan situasi yang di nilai sangat baik baginya. Kunjungan untuk sebuah penelitian, dan kunjungan yang mengkaji tentang tingkatan sepiritual.
![]() |
| Candi Petirtaan Kewaringan |
Perjalanan ini tidak berhenti sampai di situ saja, kunjungan berlanjut di sebuah obyek pemakaman kuno yang berada di pucak perbukitan. Sebuah tempat yang di anggap paling istimewa, dan menyimpan banyak tentang jejak sejarah yang bermakna bagi bangsa. Gunung Mijil, sebuah tempat yang sengaja di pilih untuk memuliakan para tokoh yang berpengaruh di masanya. Yang berperan serta membantu jalannya sistem pemerintahan. Memikirkan setrategi untuk kemajuan demi pekembangan sebuah wilayah. Hingga mampu menciptakan rasa aman, damai, dan tentram. Banyak yang berpendapat, berasumsi, tentang siapa tokoh tokoh yang bersemayam di dalam komplek makam tersebut. Yaitu dua tokoh yang mampu di ingat yang telah di sebutkan. Setiap tokoh yag di ingat telah menyadang dengan gelarnya masing masing. Tokoh yang pertama, dalam berbagai periode sering di sebutkan. Mulai dari akhir kejayaan kerajaan majapahit, hingga sampai abad ke 19 awal. Kyai Cinde Amoh, adalah tokoh yang sangat populer di berbagai masa. Memiliki kisah dan sepak terjang dalam pertempuran besar. Terlibat secara langsung dan di anggap sebagai ujung tombaknya sebuah pertempuran. Selain tokoh senopati perang dari kerajaan Majapahit, Kyai Cinde Amoh juga di ceritakan sebagai panglima perang dari Mataram. Banyak versi cerita yang sudah beredar di kalangan masyarakat luas. Kepopulerannya tidak hanya di Jawa Tengah saja, di kalangan Masyarakat Jawa Timuran pun juga demikian. Selain itu juga di sebutkan sebagai tokoh yang memiliki hubungan, kedekatan langsung dengan Pepunden atau pemimpinnya. Dedikasi yang loyal kepada pemimpinnya, tokoh tersebut mampu menghipnotis hampir sebagian besar masyarakat di Pulau Jawa kususnya. Selain gelar kepahlawanan, tokoh satu ini juga di anggap sebagai guru sepiritual dari pemimpinnya. Semakin penasaran, sebenarnya beliau itu siapa, cerita fiktif, dongeng belaka, atau memang ada jejak sejarahnya.
![]() |
| Makam Kyai Cinde Amoh Dan Kyai Abdulrozad Gunung Mijil |
Untuk tokoh yang kedua, adalah tokoh yang memiliki gelar yang sama dengan sebutan Kyai Abdulrozad. Memiliki sepak terjang yang sama dengan Kyai Cinde Amoh. Kedua tokoh tersebut pernah berjuang mengusir penjajah belanda. Dan beberapa perlawanan yang dipelopori oleh keduanya yang terjadi di wilayah Boyolali. Dalam cerita, kedua tokoh tersebut terlibat perang yang paling heroik. Perang yang terjadi di wilayah Tegalrejo, Magelang, yang terkenal dengan perang diponegoro tahun 1825 sampai 1830, atau lebih di kenal dengan sebutan perang jawa, atau Dee Java OorLog.
![]() |
| Makam Kyai Cinde Amoh Dan Kyai Abdulrozad Gunung Mijil |
Desa Gunung Mijil, Kelurahan Mliwis, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, menyimpan jejak sejarah yang memiliki perbedaan dari segi bangunan. Tersimpan dua obyek yang pada akhirnya kita explore secara keseluruhan. Walau pun tujuan awal, untuk blusukan ke sebuah komplek pemakaman yang berada di puncak gunung. Akan tetapi, sesampainya di kaki gunung langkah itu terhenti. Buka sebuah halangan yang menghadang, langkah itu terhenti karena kedapatan melihat sebuah obyek yang sangat menarik untuk dikaji dan di jadikan pokok inti bahasan. Untuk menambah wawasan dan pengetahuan bab sejarah. Obyek yang di maksud berupa bangunan sendang kuno yang tinggal puing puingnya saja. Lebih di kenal oleh masyarakat luas dengan sebutn Situs " Candi Petirtaan Kewaringan ". Obyek tersebut berada di sisi jalan penghubung, di sebelah kiri menuju ke puncak Gunung Mijil. Berjarak 500 meter dari cabean kunti, 400 meter dari sendang suci mojo, 325 meter dari sendang sedayu, dan 250 meter dari sendang kedung maayit. Berupa jejak Hindu Klasic, obyek ini memiliki banyak sisa sisa dari sebuah bangunan kuno berupa petirtaan. yang kemudian obyek tersebut di bangun secara permanen menggunakan material bahan cor. Di bentuk seperti kolam renang, dengan sumber mata air yang masih mengalir jernih. Beberapa potongan panel dari bangunan tersebut, di tata pada bagian bibir kolam. Lumayan banyak, hanya bagian bagian batuan pengisisi saja. Sejenis komponen penghias seperti kemuncak, atau pun komponen antefiks, tidak terlihat sama sekali pada tumpukan itu. Entah di amankan oleh warga, atau malah ikut di jadikan material bangunan baru. Berada di bawah pohon beringi yang rindang, sendang itu masih di manfaatkan airnya oleh warga masyarakat sekitar. Selain untuk kebutuhan sehari hari, air sumber dari sendang tersebut juga di manfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.
![]() |
| Candi Petirtaan Kewaringan |
Telah di temukan beberapa potongan arca yang masih bisa teridentifikasi. Sebelum dan sesudahnya mendapatkan laporan, akhirnya potongan potongan arca tersebut di pindahkan ke Musium Rumah Arca di Boyolali kota. Jenis jenis arca yang di pindahkan adalah, arca Siwa, Arca Dewi Durga Mahisasuramardini, arca Agastya, arca Ganesha, dan arca Nandi. Secara keseluruhan, arca arca tersebut dalam kondisi tidak utuh lagi. Belum dapat di ketahui untuk denah bangunan dari petirtaan tersebut. Apakah murni berbentuk kolam yang besar, atau kah memiliki kesamaan dengan komplek sendang Cabean Kunti. Jika di ingat, jarak diantara kedua perkomplekan situs tersebut tidak terlalu jauh. Anggap saja masih berdampingan di antara keduanya, hanya berbeda wilayah desa saja. Sangat sulit untuk di identifikasi bentuk dari pada bangunan petirtaan ini. Karena, sebagian besar dari panel panel bangunan tersebut sudah tersebar di berbagai sudut petirtaan. Mungkin ketidak tahuan warga setempat, beberapa komponen dari panel bangunan telah di manfaatkan untuk pembangunan jalan dan kolam. Dengan suasana yang asri, petirtaan atau sendang tersebut memiliki jejak sejarah yang tidak mungkin untuk di lupakan.
![]() |
| Dasingan Tayin Singo Tanoyo |
Tidak jauh dari situs Candi Petirtaan Kewaringan, tepatnya berada di sisi sebelah timur. Nampak sebuah Gunung kecil dan tidak terlalu tinggi. Memiliki akses jalan yang dapat di tempuh dengan menggunakan sepeda motor, mobil, mau pun jalan kaki. Gunung Mijil sebutannya, sebuah tempat yang telah di pilih untuk bersemayam jazad para tokoh tokoh penting yang berpengaruh kala itu.
Dari sini mulai ada kebimbangan dalam berfikir, sebab nama tokoh Kyai Cinde Amoh ada memiliki banyak versi. Dari sini akan kita bahas dengan menggunakan tiga versi yang berbeda beda.
![]() |
| Makam Kyai Cinde Amoh Dan Kyai Abdulrozad Gunung Mijil |
Fersi yang pertama, di kisahkan bahwa, Kyai Cinde Amoh makamnya berada di Imogiri, Bantul, Jogjakarta. Makam tokoh yang satu ini berada di luar pagar komplek makam kasepuhan Sultan Agung Hanyokrokusumo. Memiliki Langgam nisan Periodel Mataram Islam Sultan Agung Hanyokrokusumo. Komplek makam beliau, berada di luar pagar sisi timur. Selain Gelar Cinde Amoh, beliau juga mendapatkan Gelar Kyai Randu Kawuk. Karena, di sebelah sisi timur, di tepi jurag, terdapat pohon Randu Alas yang ukurannya lebih dari ukuran sewajarnya. Dan pohon randu tersebut, sekarang sudah mati, dan sudah tidak ada tunas yang hidup. Dalam Jejak Mataram Islam, di beritahukan bahwa tokoh Kyai Cinde Amoh adalah penasehat sekaligus Guru Sepiritual Sultan Agung Hanyokrokusumo. Makam beliau tidak di jadikan satu dengan kerabat Keraton, karena beliau, tokoh cinde amoh tidak memiliki jalur nasab keturunan raja raja jawa.
![]() |
| Makam Kyai Cinde Amoh Dan Kyai Abdulrozad Gunung Mijil |
Untuk Versi yang kedua, Tokoh Kyai Cinde Amoh letak lokasi makamnya berada di wilayah Kampung Ponggalan, Desa Karangmiri, Giwangan, Jogjakarta. Terdapat di puncak bukit kecil atau orang jawa sering menyebut dengan sebutan Gumug. Dekat dengan aliran sungai Gajah Wong. Belum menemukan catatan Khusus untuk tokoh yang di sebutkan pada versi kedua ini. Akan tetapi, dalam kajian pembacaan typologi nisan tokoh ini, memiliki langgam Tangguh Tembayata, dengan angka periode Mataram Islam Amangkurat awal 1700 an.
![]() |
| Makam Kyai Cinde Amoh Dan Kyai Abdulrozad Gunung Mijil |
Untuk Versi yang ke tiga, makam Kyai Cinde Amoh terletak di Kelurahan atau Kecamatan Prajurit Kulon, Kabupaten Mojokerto, Provinsi Jawa Timur. Makam tersebut di percaya sebagai makam sosok tokoh yang mempunyai peranan penting sebagai tokoh yang ahli di bidang pengisisan ilmu kanuragan. Yang di kususkan untuk para Prajurit prajurit perang dari Kerajaan Majapahit. Bahkan di sebutkan bahwa tokoh Cinde Amoh bukanlah nama seorang tokoh atau figur masyarakat yang di kenal luas karena bidang keahliannya, hingga sampai saat ini. Cinde Amoh merujuk pada sebuah kain selendang yang lapuk, karena faktor waktu atau termakan usia, atau kain selendang yang sudah usang, yang sering digunakan oleh sosok di balik nama tersebut.
![]() |
| Mas Royo Singo Potro |
Sosok tokoh Kyai Cinde Amoh, banyak menimbulkan perdebatan tentang keaslian dari tokoh yang di maksud. Sedangkan, seperti pada pernyaat di atas, bahwa tokoh tersebut memiliki sepak terjang yang begitu panjang. Hingga nama gelar tersebut di pakai sampai periode yang di anggap muda. Pemakaian gelar biasanya mengacu pada salah satu karakter tokoh yang di idolakan Hingga, seolah olah nama tokoh yang di maksud tidak pernah pudar atau hilang dari peredaran. Atau malah, nama gelar tersebut sengaja di pakai atau di sandang oleh anak turun atau ahli warisnya. Sehingga bisa saja terjadi, nama gelar di pakai oleh ahli warisnya dari keturunan pertama hingga sampai keturunan yang termuda. Antara di mana tata letak makam tokoh Kyai Cinde Amoh yang aslinya, jawabanya adalah semua benar. Dan kebenaran itu harus ada kajian, penelitian yang benar benar berdasarkan sumber dan narasumber. Simpel saja, adalah kebenaran dari batu nisan yang bisa menceritakan semuanya.
![]() |
| Ini bukan nisan, melainkan dua buah panel dari bangunan candi yang sengaja di manfaatkan sebagai nisan |
![]() |
| Ini merupakan panel panel dari punggung pagar sebuah bangunan mataram hindu merupakan bagian dari pagar pembatas yang mengelilingi sebuah bangunan. Di alih fungsikan untuk pagar pembatas makam |
![]() |
| Tanpa Keterangan Nisan Langgam Tembayat HB |
![]() |
![]() |
| Mas Royo Singo Sandikoro |





















Komentar
Posting Komentar