BUKTI JEJAK SEJARAH KASULTANAN JOGJA DI KECAMATAN SUMOWONO

" MAKAM PEJABAT PEMERINTAHAN DAN MAKAM TOKOH KYAI DARI KASULTANAN JOGJAKARTA "


Langgam HB Pasca P. Giyanti

Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat adalah sebuah kerajaan Islam di Pulau Jawa yang berdiri pada tahun 1755 setelah Perjanjian Giyanti. Merupakan satu dari tiga pewaris Kesultanan Mataram. Saat ini, Yogyakarta merupakan bagian dari Daerah Istimewa dalam administrasi Indonesia. Gelar Sultan sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini menjadikan Yogyakarta sebagai satu-satunya monarki yang memiliki pengaruh politik di Indonesia.

Setelah ditandatanganinya Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) antara Pangeran Mangkubumi dan VOC di bawah Gubernur-Jendral Jacob Mossel, maka Kerajaan Mataram dibagi dua. pendiri Kesultanan Yogyakarta yakni Pangeran Mangkubumi resmi diangkat sebagai Sultan bergelar Hamengkubuwana I dan berkuasa atas setengah daerah Kerajaan Mataram. Sementara itu Susuhunan Pakubuwana III tetap berkuasa atas setengah daerah lainnya dengan nama baru Kesunanan Surakarta dan daerah pesisir tetap dikuasai VOC. Usaha-usaha untuk meredam peperangan yang terjadi di Jawa saat itu berakhir dengan perjanjian damai, yang kemudian dikenal oleh rakyat Jawa sebagai bentuk Palihan Nagari (pembagian negara), atau dikenal juga sebagai Perang Takhta Jawa Ketiga.

Nisan Langgam HB Pasca Giyanti

Sultan Hamengkubuwana I kemudian segera membuat ibu kota kerajaan beserta istananya yang baru dengan membuka daerah baru (jawa: babat alas) di Hutan Paberingan yang terletak antara aliran Sungai Winongo dan Sungai Code. Ibu kota berikut istananya tersebut dinamakan Ngayogyakarta Hadiningrat dan lansekap utama berhasil diselesaikan pada tanggal 7 Oktober 1756. Para penggantinya tetap mempertahankan gelar yang digunakan, Hamengku Buwono. Untuk membedakan antara sultan yang sedang bertakhta dengan pendahulunya, secara umum, digunakan frasa " ingkang jumeneng kaping...ing Ngayogyakarta Hadiningrat " (bahasa Indonesia: "yang bertakhta ke .... di Yogyakarta"). Selain itu ada beberapa nama khusus atau gelar bagi Sultan, antara lain Sultan Sepuh (Sultan yang Sepuh/Tua) untuk Hamengkubuwana II, Sultan Mangkubumi untuk Sultan Hamengkubuwana VI, atau Sultan Behi (Sultan Hanga[Behi]) untuk Sultan Hamengkubuwana VII.

Makam Kyai Basyuran HB

Mengikuti kerajaan Mataram, wilayah Kesultanan Yogyakarta pada mulanya dibagi menjadi beberapa lapisan yaitu Nagari Ngayogyakarta (wilayah ibu kota), Nagara Agung (wilayah utama), dan Manca Nagara (wilayah luar). Keseluruhan wilayah Nagari Ngayogyakarta dan wilayah Nagara Agung memiliki luas 53.000 karya (sekitar 309,864500 km persegi), dan keseluruhan wilayah Manca Nagara memiliki luas 33.950 karya (sekitar 198,488675 km persegi). Selain itu, masih terdapat tambahan wilayah dari Danurejo I di Banyumas, seluas 1.600 karya (sekitar 9,3544 km persegi).

Nisan HB Pasca P. Giyanti

Nagari Ngayogyakarta meliputi:

1. Kota tua Yogyakarta (di antara Sungai Code dan Sungai Winongo), dan

2. Daerah sekitarnya dengan batas Masjid Pathok Negara.

Nagara Agung meliputi:

1. Daerah Siti Ageng Mlaya Kusuma (wilayah Siti Ageng [suatu wilayah di antara Pajang dengan Demak] bagian timur yang tidak jelas batasnya dengan wilayah Kesunanan),

2. Daerah Siti Bumijo (wilayah Kedu dari Sungai Progo sampai Gunung Merbabu),

3.  Daerah Siti Numbak Anyar (wilayah Bagelen antara Sungai Bagawanta dan Sungai Progo),

4. Daerah Siti Panekar (wilayah Pajang bagian timur, dari Sungai Samin ke selatan sampai Gunungkidul, ke timur sampai Kaduwang), dan

5. Daerah Siti Gadhing Mataram (wilayah Mataram Ngayogyakarta [suatu wilayah di antara Gunung Merapi dengan Samudra Hindia]).

HB Pasca Perang Jawa

Manca Nagara meliputi:

1. Wilayah Madiun yang terdiri dari daerah-daerah:

- Madiun Kota - Magetan - Caruban - Sebagian Pacitan;

2. Wilayah Kediri yang meliputi daerah-daerah: - Kertosono - Berbek - Godean - Kalangbret - Ngrowo;

3. Wilayah Surabaya yang meliputi daerah Japan (Mojokerto);

4. Wilayah Rembang yang meliputi daerah-daerah: - Jipang (Ngawen) dan - Teras Karas (Ngawen);

5. Wilayah Semarang yang meliputi daerah-daerah: - Selo atau Seselo (makam nenek moyang raja Mataram) - Warung (Kuwu-Wirosari) - Sebagian Grobogan.

Makam Kyai Basyuron HB

Wilayah-wilayah Kesultanan tersebut bukan sebuah wilayah yang utuh, tetapi terdapat banyak enklave maupun eksklave wilayah Kesunanan dan Mangkunegaran. Wilayah-wilayah tersebut merupakan hasil dari Perjanjian Palihan Nagari yang ditandatangani di Giyanti. Perjanjian itu juga disebut Perjanjian Giyanti. Dalam perjalanan waktu wilayah tersebut berkurang akibat perampasan oleh Daendels dan Raffles. Setelah Perang Diponegoro selesai pada tahun 1830, pemerintah Hindia Belanda akhirnya merampas seluruh wilayah Manca Nagara. Pada tahun itu pula ditandatangani Perjanjian Klaten pada 27 September 1830 yang menegaskan wilayah dan batas-batas Kesultanan Yogyakarta dengan Kesunanan Surakarta. Wilayah Kesultanan Yogyakarta hanya meliputi Mataram dan Gunungkidul dengan luas 2.902,54 km persegi. Di wilayah tersebut terdapat enklave Surakarta (Kotagede dan Imogiri), Mangkunegaran (Ngawen), dan Pakualaman ( Kabupaten Kota Pakualaman ).

Nisan HB Pasca P. Giyanti

Daftar kekuasaan Kasultanan Jogjakarta yang di sebutkan manca negara atau negara luar termasuk semarang, adalah sebuah wilayah yang mengalami perubahan yang signifikan. Yang di tanda tangani dengan melemahnya kontrol dari Kasultanan, atas lahan dan meningkatnya Intervensi VOC. Perpecahan menjadi dua kubu antara Kasultanan Jogjakarta dan Kasunanan Surakarta membuat pengelola agraria terpecah, dan fokus pada komoditas export.

Berikut adalah kondisi pertanian pasca Perjanjian Giyanti:

Pecahnya Lahan Pertanian: Perjanjian Giyanti membagi wilayah Mataram menjadi dua, yakni Kasunanan Surakarta di bawah Pakubuwono III dan Kasultanan Yogyakarta di bawah Hamengkubuwono I. Hal ini mengakibatkan pembagian wilayah kekuasaan yang juga berdampak pada pemecahan lahan pertanian.

Dominasi VOC dan Monopoli Perdagangan: Setelah perpecahan, VOC memperkuat cengkeramannya pada ekonomi Mataram, terutama dengan memonopoli perdagangan komoditas ekspor seperti beras dan hasil bumi lainnya.

Penyempitan Lahan Pertanian Tradisional: Kekuasaan lokal melemah, mengakibatkan lahan pertanian keraton banyak yang lepas ke pengusaha atau pihak asing. Hal ini menyebabkan menyempitnya lahan pertanian tradisional di daerah Jawa Tengah.

Alih Fungsi Lahan ke Tanaman Ekspor: Lahan yang subur mulai difokuskan untuk menghasilkan tanaman ekspor. Guna memenuhi permintaan pasar Eropa, mengurangi fokus pada tanaman pangan.

Pergeseran Penguasaan Lahan: Akibat hutang keluarga kerajaan kepada pengusaha (termasuk pengusaha Cina), tanah-tanah warisan keraton menjadi milik pihak ketiga. Hal ini di sebabkan melemahkan posisi Raja dan petani lokal. Petani Menjadi Buruh: Petani lokal berjuang menghadapi persaingan dari perkebunan besar yang didukung Belanda, sehingga banyak petani terpaksa menjual lahan mereka atau bekerja sebagai buruh tani dengan upah rendah.

Nisan HB Pasca P. Giyanti
Meskipun dalam masa sulit, Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta berupaya meningkatkan pendapatan Negara dan kesejahteraan Rakyat melalui pengelolaan sektor pertanian secara mandiri di wilayahnya.

Setelah perjanjian giyanti, Raja dari Kasultanan Jogjakarta telah memerintahkan beberapa Pejabat untuk memimpin sebuah wilayah di bawah kekuasaanya. Termasuk melibatkan para tokoh Agama seperti Ulama dan Kyai. Untuk berperan serta membantu dan menjalankan demi kelancaran sistem pemerintahan Kasultanan. Perihal seperti ini, tidak hanya terjadi di wilayah Semarang saja. Akan tetapi, secara menyeluruh, semua wilayah yang berada di bawah kekuasaan Kasultanan Jogjakarta. Jadi tidak heran ketika sebuah wilayah pernah di pimpin tokoh tokoh dari salah satu Kerajaan, secara pasti akan meninggalkan jejaknya. Menjadikan sebuah simbol bahwa wilayah tersebut pernah dipimpin oleh tokoh penting dari pemerintahan masa itu. Tanpa adanya catatan penting yang bisa di jadikan sebuah rujukan untuk mengkaji sejarah. Komplek pemakaman memiliki peranan penting untuk di jadikan referensi sebuah penulisan berupa artikel. Selain berupa wujud bangunan, atau berupa tinggalan yang berada di sebuah wilayah. Berbicara tentang sejarah melalui kontek beberapa komplek pemakaman. Adalah bukti nyata jejak sejarah yang telah mengisi kisah kehidupan di masa itu. Karena bangunan makam adalah sebuah prasasti yang memberikan keterangan tentang tokoh yang di makamkan. Keterangan tentang  jabatan di dalam sistem pemerintahan, keterangan tentang nasab keilmuan, dan keterangan tentang dari pemerintahan mana tokoh tersebut berasal.

Area Bekas Rawa

Di komplek makam Pagongan, Dusun Bumen, Desa Bumen, Kecamatan Sumowono, terdapat dua komplek makam yang di Sepuhkan, atau di pundenkan. Beberapa informasi tentang tokoh yang di makamkan, dapat dirangkum lewat pahatan batu nisannya. Sebagai bukti bahwa, wilayah ini jelas jelas pernah memiliki sosok pemimpin dari kalangan Pejabat Ningrat.

Komplek Makam Pagongan

Terbukti dengan adanya makam makam kasepuhan di wilayah tersebut. Berada di lereng Gunung Ungaran sisi sebelah selatan. Dua komplek pemakaman kasepuhan, yang tata letaknya saling bersebelahan, hanya terpisah oleh lahan produktif berupa sawah dan pertanian. Kedua makam tersebut berjarak kisaran 60 meter di antaranya. Sebuah wilayah yang di kenal oleh masyarakat sekitar dengan sebutan pagongan. Kalimat pagongan memiliki unsur cerita berkaitan dengan alam musik jawa berbentuk Gong. Sebelum mendapatkan sebutan pagongan, wilayah itu berupa sumber mata air dengan debit yang lumayan cukup besar. Oleh para tokoh pendahulu, sumber air itu bisa berhenti dengan beberapa syarat yang harus di penuhi. Yang pertama, mengadakan selamatan, di mana sumber mata air itu berada. Acara selamatan memberikan tanda bahwa, hasil bumi yang di berikan kepada lapisan masyarakat sumowono sangat melimpah. Bentuk wujud syukur masyarakat sumowono kepada ALLAH SWT. Yang telah memberikan keberkahan dan kerakhmatan atas hasil bumi yang melimpah. Syarat yang kedua, penutupan sumber mata air itu menggunakan alat musik jawa berupa Gong. Sebab, jika persyaratan tersebut tidak di penuhi, " Rejone Jaman " istilah penyebutan dalam bahasa jawa, atau berangsurnya waktu, wilayah sumowono akan berubah menjadi rawa yang sangat besar dan tidak mungkin ada pemukiman.

Nisan Periode 1900 an

Komplek makam yang pertama, berada di sisi sebelah barat lahan persawahan. Sedangkan untuk tokoh yang di makamkan belum dapat di ketahui nama mau pun gelarnya. Akan tetapi, di komplek makam ini bisa di lihat sejumlah pusara dengan pahatan batu nisan yang sangat sederhana. Terpahat kotak persegi panjang, dengan guratan tunggal, ganda, mau pun tiga, yang memberikan keterangan jenis kelamin orang yang di makamkan. Banyak pula bangunan jirat makam yang di jadikan pembatas. Komponen jirat berbentuk kotak pipih, dengan pahatan yang menyerupai batuan penyusun bangunan candi. Di dalam komplek makam ini, hanya terdapat nisan nisan langgam pantura, dan langgam Hamengkubuwono dengan periode angka tahun 1900 an awal. Ada satu bangunan cungkup berada pada tata letak teras paling atas. Bangunan itu di dirikan untuk menaungi dua pusara tokoh yang di keramatkan. Sedangkan untuk nama atau gelar kedua tokoh tersebut belum dapat di ketahui pastinya. Disamping itu, makam kedua tokoh tersebut juga di bangun secara permanen. Dengan bahan material cor, dan di lapisi bahan keramik untuk lantai. Sangat di sayangkan, nisan yang di anggap sebagai prasasti, yang bisa memberikan keterangan sudah tidak terlihat lagi. Dugaan, nisan nisan tersebut ikut di kubur di bawah bangunan yang permanen.  Dengan kondisi demikian, kedua tokoh yang di makamkan tidak dapat di kaji untuk mencari keterangannya.

Nisan HB 1900an awal

Ada kisah cerita yang sangat menarik di wilayah Bumen. Konon ceritanya, ada seorang saudagar kaya yang berasal dari Negeri Rum. Rum adalah bangsa yang berasal dari daerah Arab. Tokoh tersebut mengembara, atau hijrah dari tempat asalnya menuju ke wilayah sisi selatan lereng gunung ungaran, sebuah peradaban yang lumayan ramai di masa itu, yang di sebut  yaitu sumowono. Tokoh tersebut di percaya salah satu orang yang pertama kali membuka peradaban Desa Bumen yang pertama kali. Sehingga, oleh warga masyarakat, tokoh tersebut di angkat menjadi bayan, atau tokoh sesepuh Desa. Hingga mendapat bergelar atau mendapatkan julukan dengan sebutan Kyai Rumpak Boyo. Kyai adalah tokoh yang di tuakan, Rum adalah nama wilayah tokoh tersebut berasal, dan mendapatkan imbuhan kalimat Pak. Menjadi Rumpak yang memiliki arti tradisi silaturrakhmi. Sedangkan boyo peralihan kalimat dari Bayan. Sedangkan bayan itu sendiri memiliki arti tokoh yang di tuakan di sebuah wilayah setingkat Dusun. Jadi sebutan gelar Kyai Rumpak Boyo adalah, Seorang tokoh yang di tuakan dari bangsa arab yang gemar bersilaturrakhmi. Akan tetapi, meninggalnya tokoh tersebut tidak di makamkan di desa Bumen. Kyai Rumpak Boyo dimakamkan di atas puncak bukit atau gumug, sebuah dusun yang berada di Desa Lanjan, dusun Larangan sebutannya. Tokoh Kyai Rumpak Boyo di makamkan dalam satu komplek pemakaman bersama dengan istrinya.

Komplek Makam Pagongan

Komplek makam berbentuk punden berundak yang memiliki 5 teras. Dan setiap teras di bentengi dengan menggunakan bahan material batu alam. Komplek makam tersbut masih di manfaatkan untuk pemakaman warga karangwetan, hingga sampai saat ini. Tidak ada sama sekali bentuk bangunan makam dengan periode yang lebih tua. Mulai dari teras pertama paling bawah, hingga teras ke lima paling atas hanya terdapat makam dengan periode angka tahun 1900 an awal saja. Suasana komplek makam ini sangat sejuk, karena di tumbuhi dan di payungi rerimbunan pohon beringin dan pohon bulu yang lumayan besar untuk ukuran diameter lingkar batangnya. Beralih ke komplek makam pagongan yang satunya. Komplek pemakaman ini berada di sebelah timur lahan persawahan. Berada pada bidang tanah yang memiliki dataran tinggi, berdampingan dengan jalan penghubung antar wilayah kabupaten. 

Di komplek makam ini, pokok bahasan tentang pahatan nisan akan semakin menarik. Karena, di komplek makam pagongan yang satu ini, pahatan nisan dari yang muda, hingga pahatan nisan yang tergolong lebih tua juga ada. Mulai dari periode tahun 1900 an awal, hingga periode Pasca Perjanjian Giyanti. Dari pejabat pemerintahan hingga tokoh yang memiliki nasab keilmuan yang bergelar Kyai. Selain nisan dengan perbedaan periode angka tahun, ternyata di komplek makam yang satu ini, bisa melihat secara langsung jenis jenis dari perbedaan pahatan nisan. Pahatan nisan Demak Adipati Unus, pahatan nisan dengan langgam Tembayat, Pahatan nisan langgam Pantura, Pahatan nisan HB ( Hamengkubuwono ) pasca Perang Jawa, Pahatan nisan HB ( Hamengkubuwono ) periode 1800 an awal, hingga pahatan nisan HB ( Hamengkubuwono ) dengan periode pasca Perjanjian Giyanti.

Langgam Demak Adipati Unus

Pokok bahasan akan menunjukan nisan dengan periode yang tergolong lebih muda. Yaitu, nisan dengan langgam Adipati Unus. Ada keunikan dalam penyebutan kusus untuk nisan ini. Memiliki perbedaan di antara kedua wilayah. Untuk wilayah pantura jalur semarang, demak, dan mungkin wilayah pantura lainnya, sering di sebutkan dengan langgam Demak Adipati Unusan. Dengan alasan, nisan ini lahir di daerah Demak, dan di pergunakan untuk nisan makam Pati Unus atau Pangeran Sedo Ing Lepen. Yaitu seorang tokoh penerus tahta dari Kerajaan Demak. Raden Adipati Unus adalah Raja Demak ke tiga. Yang makamnya berada di belakang Masjid Agung Demak jadi satu dengan makam Ayahnya yang bernama Sultan Fattah atau Raden Fattah, Sultan Demak pertama, beserta kakaknya Sultan Trenggono, Raja Demak ke dua. Perbedaan penyebutan itu dapat kita ketahui di wilayah Jepara. Pahatan nisan dengan langgam demikian, lebih di kenal dengan sebutan nisan sedayu. Alasanya, nisan sedayu atau nisan adipati unus menjadi ciri khas nisan nisan para tokoh ulama atau pun pejabat pemerintahan yang berada di jepara. Nisan dengan pahatan demikian, dapat kita jumpai di komplek makam Kasepuhan, Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara. Komplek makam Sultan Hadirin dan Ratu Kalinyamat, yang berada di belakang Masjid Kasepuhan Astana Sultan Hadirin.

Langgam Demak Adipati Unus

Tidak berhenti sampai di situ saja, keunikan dari nisan ini ternyata mengadopsi salah satu bangunan periode hindu sekte wisnu. Sebuah panel iconik, yang berada di komplek bangunan induk Candi Sukuh. Relief Kala Mrga candi sukuh berada di batur Dewa Ruci, yang menerangkan detail tentang alam kandungan. Dari proses mengandung, hingga sampai melahirkan. Relief tersebut memiliki arti yang sangat dalam, yang di anggap sebagai pesan moral di dalam kehidupan. Untuk meningkatkan sepiritualitas dalam kehidupan yang penuh makna. Arti yang terkandung dalam relief tersebut adalah " Sangkan, Paraning Dumadi artinya Seko Ngendi, Arep Ning Ngendi. Dalam bahasa Indonesia,  Asalmu dari mana dan mau ke mana ". Kisah bertahannya nisan ini sama dengan nisan Langgam tembayat. Lahir dari periode demak, dan berakhir hingga periode abad 20 an awal.

Nisan Langgam Tembayat

Salah satu nisan dengan pahatan yang sangat unik, nisan ini lebih di kenal dengan sebutan langgam tembayat. Jenis nisan seperti ini, banyak di temukan atau berpusat di komplek makam Sunan Tembayat, Kabupaten Klaten. Dengan pahatan demikian, nisan jenis ini berbahan baku dari material batuan putih. Seolah ciri khas itu melengkapi proses perjalanannya. Mulai dari bahan, hingga pahatan, sejak periode Demak, hingga sampai abad ke 20 an awal, perjalanan itu tidak memiliki perbedaan. Perbedaan akan terlihat dari ukuran besar kecilnya bangunan makam, dan kesederhanaan pahatan nisan. Semakin tua usia pahatan, semakin besar dan rumit ukirannya. Sebaliknya, semakin muda pahatan nisan akan semakin sederhana dan semakin mengecil dari segi ukurannya.

Langgam HB 1900 an awal

Selain langgam nisan Adipati Unus dan nisan langgam tembayat, yang memiliki periode yang sama. Nisan HB ( Hamengkubuwono ) periode 1900 an awal, juga ikut melengkapi keberagaman nisan nisan di komplek pemakaman ini. Nisan dengan pahatan demikian, selain di komplek makam Pagongan, nisan jenis ini banyak ditemukan di komplek pemakaman Simbah Nyai Kuning, Dusun Berokan, Desa Kembangkuning, Kecamatan Bandungan, berbahan baku dari batu andesit. Material batu jenis ini sering dimanfaatkan oleh leluhur kita untuk digunakan membangun Candi. Memiliki kesamaan bahan, dengan nisan nisan HB periode pasca perang diponegoro, periode 1800 an awal dan nisan periode pasca perjanjian giyanti yang berada di komplek makam Pagongan ini.

Langgam HB Pasca P. Giyanti

Pahatan nisan yang sangat artistik ini, seolah olah penggambaran kehidupan sosok tokoh yang di makamkan. Dengan bangunan yang megah, seolah memberitahukan derajad sebagai manusia sudah di atas segalanya. Nisan dengan pahatan demikian, adalah langgam Hamengkubuwono pasca Perjanjian Giyanti. Pahatan nisan yang hampir mendekati ciri khas nisan periode Mataram Sultan Agung dan Mataram Amangkurat. Kesamaan yang terletak pada samping kanan dan kiri tubuh nisan berupa kembang awan, yang di jadikan identitas nisan nisan pendahulunya. Permukaan tubuh nisan, pada bagian depan dan belakang terdapat kesamaan pula berupa tumpal. Sedangkan tumpal itu sendiri memiliki dua penggambaran, antara tumpal keris dan tumpal tombak. sedangkan pembeda untuk membaca periode angka tahunya terletak pada bagian kaki nisan, sedangkan pembeda untuk identitasnya terletak pada bagian mustaka.

Langgam HB Pasca P. Giyanti

Sekilas kalau di lihat, seolah makam ini hanya ada satu saja. Akan tetapi, dengan adanya panel lain yang memiliki kesamaan dalam bentuk pahatan sudah memberikan penjelasan bahwa, di tempat ini terbaring jazad dua orang tokoh yang pernah memiliki sepak terjang di periode yang sama. Dugaan makam yang satu ini berjenis kelamin laki laki. Dari konsep tata letak makamnya berada di sisi barat atau berada di depan makam tokoh perempuan. Makam dengan nisan yang lengkap, bangunan jirat lengkap walau pun terlihat hanya satu lapis saja, memberikan keterangan bahwa, tokoh yang di makamkan adalah seorang perempuan. Kemungkinan, makam dengan kondisi bangunan yang rusak parah, tanpa adanya batu nisan, adalah makam seorang tokoh laki laki, suami dari tokoh perempuan yang di maksud. Kedua makam ini di bangun secara permanen, menggunakan bahan material cor. Dan sangat beruntung, kedua nisan tidak ikut di hilangkan, dan di ganti dengan nisan yang baru. Karena, kasus seperti ini sudah umum terjadi di kalangan masyarakat luas. Niatnya bagus, ingin memuliakan makam tokoh yang pernah berjasa di suatu wilayah. Akan tetapi, secara tidak sadar, atau secara tidak langsung, cara seperti itu malah merusak dan menghilangkan unsur sejarahnya. Sangat beruntung masih bisa mengenali nisan dari salah satu tokoh, walau pun nisan yang satunya sudah tidak terlihat di permukaan. Belum dapat di ketahui tentang siapa kedua tokoh yang di maksud. Hanya informasi dari hasil pembacaan langgam nisan, kedua tokoh tersebut adalah pejabat pemerintahan dari Kasultanan Jogjakarta. Tokoh Abdi dalem yang di utus kusus untuk berperan serta membantu demi kelancaran sistem pemerintahan Kasultanan Jogjakarta.

Langgam HB Pasca P. Giyanti

Langgam nisan dengan periode yang sama, di komplek makam pagongan ada 3 pusara. Yang lebih menarik untuk di kupas adalah nisan sosok Ulama yang bergelar Kyai. Baru kali ini melihat nisan terpahat dengan tulisan yang menyebutkan nama gelar dan nama tokohnya. Terpahat dengan menggunakan tulisan huruf arab pegon dengan ejaan bahasa jawa, yang terbaca " Kiyahi Basyuran ". Walau pun nisan dalam kondisi patah pada bagian tubuhnya, langgam nisan ini masih bisa terbaca dengan jelas. Karena, beberapa penghias yang menjadi ciri khas masih melekat pada tubuh nisan  bagian kanan dan kiri, tersisa walau pun hanya setengah dari bentuk aslinya. Kesamaan penghias kembang awan, tidak jauh berbeda dengan pahatan nisan satu komplek yang berjenis kelamin perempuan. Dengan status periode dan langgam yang sama. Pembeda hanya terletak pada bagian pinggang nisan saja, yaitu bidang hias seni ukir yang di sebut dengan Patran.

Langgam HB Pasca P. Giyanti

Pahatan nisan, dan bangunan jirat ini terbilang paling istimewa di komplek makam pagongan. Kenapa demikian .. ??? Selain pahatan nisan dengan ornamen patran dan hiasan kembang awan, komponen  pajirat juga memiliki seni ukir yang artistik. Berupa suluran atau pahatan flowra, yang sering terdapat pada relief relief bangunan candi hindu buddha. Hiasan itu terpahat mengelilingi komponen jirat pada lapisan bagian ke tiga. Hiasan yang terpasang pada bagian ujung tiap jirat, telah memberikan kesan kemewahan bangunan makam ini. Seolah menunjukan dan memberikan informasi tentang kokoh yang di makamkan bukan orang sembarangan. Selain pejabat pemerintahan, tokoh yang di makamkan juga memiliki nasab keilmuan yang sangat mumpuni di bidang sepiritual dan Agama. Pahatan bentuk dari komponen seperti ini, telah mengadopsi dari panel penghias bangunan candi yang di sebut dengan Antefiks. Bangunan makam dan nisan Kyai Basyuran berbahan baku dari batu andesit. Jenis material yang sering di pergunakan, atau sering di manfaatkan oleh leluhur untuk membangun tempat pemujaan, berupa candi.

Selain makam makam sepuh dari berbagai periode, dari berbagai langgam, di komplek makam pagongan kususnya, juga di temukan beberapa komponen yang di duga dari bangunan candi. Sedangkan untuk cerita yang berkembang, lokasi yang di pilih untuk di jadikan makam, sama sekali tidak pernah berdiri bangunan candi. Kira kira, komponen batuan candi tersebut berasal, atau pindahan dari wilayah mana .. ???  


Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perang Jawa

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perang Jawa

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perang Jawa

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
1900 an awal

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
1900 an awal

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Pantura
Periode1900 an awal

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Pantura
Periode1900 an awal

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Pantura
Periode1900 an awal



Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti

Langgam HB ( Hamengkubuwono ) Periode
Pasca Perjanjian Giyanti





Komentar

Postingan populer dari blog ini

SITUS CANDI DI MAKAM WALIULLOH KHASAN MUNADI

WATU LUMPANG DAN UNFINIS YONI KENDALI SODO

MAKAM WALIULLOH SYECH SUDJONO DAN KE DUA SAHABATNYA