DI UMBUL JUMPRIT ADA MAKAM TOKOH DARI KERAJAAN MAJAPAHIT
'' ADA MAKAM TOKOH DARI MAJAPAHIT DI KOMPLEK UMBUL JUMPRIT, KIRA KIRA MAKAM SIAPA ''
![]() |
| Gapura Paduraksa |
![]() |
| Kera Penghuni |
Umbul Jumprit berada di wilayah Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Kawasan Umbul Jumprit terletak di lereng Gunung Sindoro dengan ketinggian 2100 mdpl di atas permukaan air laut. Kira kira berjarak 26 kilometer dari pusat kota Temanggung. Umbul Jumprit di tetapkan sebagai wana wisata sejak tahun 1987 oleh dinas Pemkab setempat. Umbul Jumprit memiliki kisah legenda, atau cerita rakyat yang berkaitan dengan penokohan yang berasal dari kerajaan Majapahit. Di ceritakan bahwa tokoh tersebut adalah Pangeran Singoprojo, merupakan penasehat dan ahli nujum Prabu Brawidjaya ke V. Pergi meninggalkan Kerajaan Majapahit dengan membawa pengawal seekor kera putih bernama Ki Dipo. Yang menjadi alasan tokoh tersebut meninggalkan kerajaan adalah, Pangeran Singoprojo, yang kemudian mendapatkan gelar Panembahan Ciptaning, atau Ki Jumprit tidak mau tunduk dengan Raja Demak di karenakan perseteruan politik antara ajaran Siwa Buddha dan ajaran Islam. Sehingga, tokoh yang di maksud lebih memilih meninggalkan Kerajaan Majapahit, melanglang buana mencari tempat untuk menyatu dengan alam. Dari arah timur, menuju ke selatan, dari keselatan menuju ke barat. Setelah pengembaraannya berlangsung, maka berhentilah Pangeran Singoprojo di salah satu tempat, tepatnya di lereng Gunung Sindoro. Menurut pengamatannya, tempat tersebut sangat cocok untuk melakukan tingkatan sepiritual. Tempat yang di pilihnya adalah, terdapat sumber mata air yang terletak di bawah rerimbunan pohon pohon yang sangat besar. Di tempat itulah Pangeran Singoprojo melaksanakan pertapaanya. Pertapaan itu di lakukan atau berlangsung sangat lama, sehingga Pangeran Singoprojo meninggal dan di makamkan di tempat tersebut.
Versi cerita lain juga mengisahkan
![]() |
| Ke Maqom dan Sendang |
![]() |
| Ke Maqom dan Sendang |
Di percaya bahwa umbul jumprit merupakan petilasan Ki Jumprit atau tempat bertapa tokoh yang di maksud saat meninggalkan Kerajaan Majapahit. Pertapaan itu di lakukan secara menyendiri, akan tetapi ada yang menemani di dalam prosesnya. Seekor kera penghuni umbul dengan nama sebutan Ki Dipo. Ki Jumprit meninggalkan kerajaan, saat ayahnya menunjuk beliau menjadi raja sebagai penggantinya. Akan tetapi, tawaran itu di tolak oleh Ki Jumprit dengan alasan, bahwa Ki Jumprit sudah tidak menginginkan harta benda, jabatan, yang bergemerlapan di dunia. Ki Jumprit memilih untuk mengasingkan diri, bertapa, dan memilih untuk hidup bersatu dengan alam.
![]() |
| Ruangan Maqom |
![]() |
| Pintu Maqom |
Sejak tahun 1987, mata air umbul Jumprit menjadi salah tempat pengambilan air suci saat prosesi untuk keperluan acara Tri Suci Waisak. Air tersebut di arak menuju ke Candi Borobudur yang nantinya akan di pergunakan sebagai sarana sembahyangan umat Buddha. Banyak yang mempercayai bahwa air dari umbul jumprit memiliki kualitas sepiritual yang sangat baik. Bukan di acara tertentu saja, air dari umbul jumprit di pergunakan sebagai sarana penyembuhan penyakit Medis atau non medis. Banyak yang berkunjung dengan memanfaatkan air tersebut untuk mandi, dan juga untuk di minum. Secara geografis, sumber mata air umbul jumprit merupakan hulu dari sungai Progo, di Kabupaten Temangggung. Berada di kawasan wana wisata Cagar Alam, di bawah rimbunnya tanaman endemik berupa Pinus, Pohon Angsana atau Sono keling, dan Pohon Beringin dan di huni berbagai macam spesies jenis kera.. Sehingga, membuat suasana di lingkungan umbul jumprit semakin mistis dan sakral. Ketika masuk di dalam komplek umbul jumprit, ada pemandangan yang tidak seperti biasanya. Di mana terdapat sumber mata air yang muncul di berbagai sudut dan celah goa, tempat tersebut juga terdapat komplek pemakaman dua tokoh. Tokoh yang pertama dengan sebutan Eyang Jumprit Kakung, sedangkan makam tokoh yang ke dua.
![]()
| ||
Banyak yang bertanya tentang benar dan tidaknya, antara makam atau tempat yang di makamkan.
Mari kita kupas, kalau pendapat dari diri saya pribadi memberikan pernyataan itu bukan makam, melainkan mungkin petilasan. Kenapa demikian .. !!! Mudah saja sebenarnya untuk memahami antara makam dan tidaknya. Kita ambil inti pokok dari sumber cerita rakyat atau legendanya, yang sudah tercatat dari berbagai sumber atau literasinya. Bahwa, tokoh yang di maksud dengan sebutan Pangeran Singoprojo, memiliki sepak terjang di akhir kejayaan Majapahit. Berarti dalam konteknya, awal Kejayaan Kasultanan Demak. Sedangkan sang tokoh memiliki keyakinan yang sudah tertanam di dalam dirinya. Keyakinan secara turun temurun dari leluhur yang sudah disebutkan memeluk ajaran Siwa Buddha. Ketika yang di tokohkan meninggal dunia, tidak mungkin akan di lakukan prosesi penguburan. Karena secara ilmiah dari segi keyakinan, tokoh tersebut bukan pemeluk keyakinan Muslim. Dengan kepastiannya tokoh yang di maksud akan di kremasi, ngaben dalam istilah adat di Pulau Dewata atau Pulau Bali, istilah penyebutan dari Kerajaan Pra Islam di sebut Dengan Pendarmaan. Sedangkan prosesi pendarmaan itu tidak semudah yang kita bayangkan. Sebagai sumber pembanding, di ambil dari sebuah Prasasti Gajah Mada yang juga di kenal sebagai Prasasti Shingasari. Adalah sebuah prasasti keluaran tahun 1273 caka atau 1351 masehi. Yang di temukan di shingasari, Malang, Jawa Timur. Prasasti ini di buat atau di keluarkan oleh Maha Patih Gajah Mada untuk mengenang pembangunan Caitya ( bangunan suci / monumen ) untuk menghormati Raja Kertanegara dan para Brahmana yang gugur saat pemberontakan Jayakatwang. Jadi tidak mungkin, ketika tokoh yang memiliki Gelar Pangeran atau Ahli Nujum dari Kerajaan Majapahit, ketika meninggal tidak di perlakukan sama seperti halnya Mangkatnya Maha Raja Kertanegara dan para Brahmana. Tanpa adanya Prasati, tanpa adanya Pendarmaan, dan tanpa adanya bangunan Candi tempat penyemayaman abu jenah. Dan kalau itu memang benar benar makam tokoh penting dari kerajaan Majapahit, dari segi bangunan tidak mungkin sesederhana itu. Untuk penghormatan terakhir, akan di pilihkan tempat yang sesuai dengan gelar dan jabatannya. Misalnya di tempat yang lapang atau di atas perbukitan. Tidak mungkin di lembah yang penuh dengan sumber mata air, berlembab dan dingin. Tidak mungkin berada di bawah tempat pemandian, atau tidak mungkin pula berada di celah celah tebing.
![]() |
| Sumber Mata Air |
Sekarang kita berbicara kontek yang di maksud dengan makam dan Maqom
Makam, dari bahasa yunani kuno tumbos yang artinya Gundukan atau monumen pemakaman. Adalah tempat penyimpanan jenazah orang yang sudah meninggal. tempat penyimpanan jenazah bisa di atas atau di bawah tanah di kubur. Sangat bervariasi dalam bentuk ukuran dan makna budayanya. Makam merupakan salah satu bentuk monumen pemakaman tertua, yang memiliki fungsi baik segi sarana pemakaman atau pun sebagai ungkapan keyakinan atau agama itu sendiri.
Maqom adalah, tingkatan atau kedudukan seseorang di hadapan sang penciptanya. Di capai melalui usaha untuk mencapai tingkatan sepiritual dengan sungguh sungguh. Secara etimologis berarti tenpat berdiri atau posisi. Istilah ini juga bisa merujuk pada sebuah tempat suci. Di balik itu semua, salah satu ciri orang naik maqom adalah ketika dia bisa menemukan pertemuan dari dua paradok. Dua paradok yang bertemu pada konsep yang lebih tinggi. Sebagai contoh, Iblis asosiasinya di anggap buruk atau memang buruk. Sedangkan Malaikat asosiasinya baik. Dua diantaranya sangat berlawanan. Sedangkan keduanya di satukan dalam kkonsep Pengabdian. Iblis berbuat atas perintah ALLOH SWT. Sama juga dengan Malaikat, malaikat berbuat atas perintah ALLOH SWT. Kemudian dua di antaranya bisa di lihat dalam bungkus sebuah pengabdian dengan cara yang berbeda. Ketika kamu menemukan itu sudah naik satu tingkatan maqomu.
![]() |
| Makam Ki Jumprit |
Apakah boleh tempat tersebut di jadikan kunjungan untuk meningkatkan sepiritual walau pun beda keyainan. Sangat di perbolehkan, kenapa demikian, karena tempat tersebut di buat dan di desain khusus untuk para pengunjung, tanpa melihat ras, kasta, dan tingkatan. Semua dari keyakinan yang berbeda bisa berkunjung di tempat yang sangat sakral ini. Di sini boleh melakukan lafalan doa sesuai dengan keyakinannya masing masing. Di tempat inilah seyogyanya, Bhenika Tunggal Ika Itu Tumbuh. Tanpa ada perbedaan dari segi keyakinan.
Memang dari segi konstruksi bangunan Gapura, ornamen dari pahatan yang terdapat pada permukaan Gapura depan dan belakang, mengadopsi dari bangunan Candi bercorak Hindu, mau pun Buddha. Hiasan yang berada di atas ambang pintu bangunan gapura adalah, karakter dewa waktu yang di sebut dengan Kala. Bahkan, untuk arca penjaga pintu masuk ke komplek Makam, mau pun ke sumber mata air, juga terkonsep dari budaya Hindu dan Buddha. Arca dengan sikap duduk di antara satu kaki, dengan memegang gadha, di sebut dengan arca Dwarapala. Selain itu, di dalam komplek yang di duga makam, juga terdapat beberapa arca yang dapat di kenali. Terlebih adalah, pahatan arca berbentuk tokoh pewayangan yang mendapat banyak julukan. Sang pamomong, Ismaya, Badranaya. Tokoh pewayangan sering di sebut dengan Semar. Selain itu, ada arca Dewi Kwan Im, jelas menerapkan Konsep ke Buddaan. Dua arca berjenis kelamin Laki laki dan Perempuan, ikut menghiasi ruang komplek yang di duga makam tersebut. Dua arca beda jenis itu menggambarkan sepasang Pengantin yang sedang mengapit Sang Ismaya. Semua itu bukan berarti di peruntukan hanya satu atau dua keyakinan saja melainkan, berbagai keyakinan boleh mengunjungi, bermunajad, berdoa kepada sang Khaliq, di tempat tersebut. Karena, secara menyeluruh memiliki filosofi masing masing.
Di tempat sumber mata air yang utama, terdapat jembatan membentang hingga sampai ke sudut Go'a. Pada bagian Ujung tersebut juga terdapat bangunan berbentuk Gapura yang memiliki ruangan, dengan langgam Majapahitan. Gapura itu di sebut dengan Gapura Bentar, jelas jelas mengadopsi dari bangunan Candi Ringin Lawang yang berada Jawa Timuran. Di balik Gapura terdapat sebuah ruangan yang terdapat arca Semar, dengan posisi berada di sudut ruang paling dalam. Di bagian luar ruangan sebelah kanan, sudut tepi paling kanan, juga terdapat sosok arca yang sama. Tokoh pewayangan Semar banyak menghiasi ruang lingkup tempat yang di sakralkan ini. Semua simbol simbol yang berada di area komplek makam, juga yang terdapat pada sumber mata air utama, semua memiliki filosofi yang sangat positif. Ketika ini di pecahkan, yakin lah. Tingkatan sepiritualmu akan bertambah satu maqom.










Komentar
Posting Komentar