CANDI NGEMPON ATAU CANDI MUNCUL, JEJAK HINDU SIWA DI KECAMATAN BERGAS

 CANDI MOENCOEL ATAU CANDI NGEMPO, JEJAK KLASIC PERADABAN HINDU SIWA DESA NGEMPON, KECAMATAN BERGAS


Candi Ngempon
Candi Ngempon
Kehidupan masa lalu memang banyak menceritakan tentang kegiatan yang sudah di lakukan oleh para pendahulu. Dari sebuah tindakan hingga memunculkan sebuah cerita. Yang kenyataannya masih berbingkai sebuah pertanyaan dan perlu adanya sebuah jawaban. Keterbatasan untuk menjawab karena minimnya sebuah informasi yang di nyatakan kurang atau tidak akurat. Sedangkan, akurasi jawaban harus berpatokan pada sumber atau literasi sebuah penelitian yang benar benar sudah di laksanakan. Banyak sekali jejak jejak sejarah yang di bahas berdasarkan cerita rakyat secara turun temurun. Sedangkan fakta ketika di lapangan memberikan sudut pandang yang berbeda. Karena cerita itu tidak di dasari dari beberapa pedoman, dengan adanya sebuah fakta yang mampu berbicara. Berdasarkan bukti sebagai saksi tentang jejak kehidupan di masa lalu. Memang banyak sekali cerita rakyat yang terdengar dan tersebar, alkisahlah kalimat awalan sebagai pembungkus yang menceritakan sesosok tokoh yang mencermikan tentang wibawa kepemimpinan, mau pun kejayaan sebuah wilayah. Sehingga mampu menembus sikap kepercayaan yang menjadi doktrin untuk sebuah kebenaran. Timbulnya kepercayaan masyarakat tentang cerita itu, hingga menjadikan sebuah perilaku yang di tradisikan, bahkan sampai di adakan peringatan untuk tiap tahunnya. Akan sangat kesulitan untuk menanam sebuah kebenaran, atau menjelaskan sebuah fakta yang sudah ada. Dan semua itu telah menjadi budaya yang sebenarnya hampa, atau kosong. Tradisi itu masih tetap di jalankan hingga sampai sekarang, bahkan setiap wilayah mempunyai dan menyimpan kehampaan dari cerita itu.

Candi Ngempon
Candi Ngempon
" Sama halnya yang terjadi pada komplek percandian ini. Bahwa candi ngempon memiliki kisah cerita yang sudah ramai dan tidak asing lagi di telinga masyarakat. Konon Ceritanya, ada seorang pemuda yang memiliki atau gemar dengan kegiatan memancing. Suatu ketika, pemuda tersebut menentukan hari untuk mengisi kegiatannya. Dengan memancing di sebuah sungai yang menjadi pembatas kedua wilayah. Siang hari yang terik, mendadak mendung yang mengisyaratkan akan terjadi hujan. Lantas, tidak selang lama, hujan turun dengan rintik mendekati deras. Di saat yang bersamaan, ada seorang kakek kakek tua yang sedang kebingungan mencari tempat untuk berteduh. Entah kenapa, dengan keadaan mendung di sertai rintik hujan, kakek kakek tersebut mengumpulkan batu yang di pungut dari kali. Tidak membutuhkan selang waktu yang lama, kakek kakek tersebut dengan keberhasilannya membangun beberapa tempat untuk berteduh. Dan pemuda yang sedang dalam kondisi masih memancing di panggil oleh kakek kakek itu, dan di suruh berhenti dari kegiatannya. Dan di persilahkan untuk berteduh terlebih dahulu untuk menunggu hujan sampai reda. Antara Pemuda dan sosok kakek kakek yang di sebutkan dalam cerita rakyat, tidak di ketahui asal keduanya dari mana, bahkan nama di antaranya itu siapa, dan kejadiannya karena apa. Hanya saja, kakek kakek itu di ceritakan dengan nama gelar sebutan mbah wali saja "

Candi Ngempon

Candi Ngempon

Lebih di kenal dengan candi ngempon, jejak peradaban masa klasic ini pernah berdiri megah pada masanya. Candi Ngempon atau di sebut juga Candi Muncul, adalah salah satu bangunan candi bercorak hindu siwa yang berada di Desa Ngempon, Kecamatan Bergas, Kabupaten Semarang. Berjarak sekitar 2 kilometer dari pusat perbelanjaan di karangjati. Candi ngempon di duga berdiri atas sembilan bangunan candi, akan tetapi hanya 4 saja yang bisa di restorasi. Karena, dari ke empat komponen bangunan candi telah menunjukan persentase di atas 65 persen masih mampu untuk di berdirikan kembali. Walau pun, beberapa komponen yang asli telah rusak, harus diganti dan di buatkan komponen baru yang sesuai dengan kapasitas bentuk aslinya. Sedangkan, ke lima dari bangunan candi yang di nyatakan rusak pada komponennya di bawah 40 persen tidak bisa di restorasi kembali. Bahan baku dari meterial bangunan candi itu sendiri, menggunakan material batuan Andesit. Di mana batuan andesit itu merupakan material batu yang memiliki tingkat kadar kerasnya sangat tinggi. Dan jenis material batu ini yang sering di manfaatkan atau di pergunakan untuk membangun bangunan candi yang berada di wilayah sleman, magelang, klaten dan jogja. Seperti bangunan candi borobudur, candi sewu, candi sojiwan, candi prambanan, candi plaosan lor dan plaosan kidul. Dan masih banyak lagi bangunan bangunan candi yang besar dan megah, yang di bangun menggunakan material batuan andesit. Sepintas, bangunan candi ini hampir memiliki kesamaan pada konstruksi bangunannya. Mulai dari bentuk fisik berdirinya bangunan dan denah tata letak bangunan. Akan tetapi, kalau di lihat secara teliti, ada salah satu bangunan candi yang memiliki ukuran agak lebih besar. Memiliki banyak ornamen penghias yang begitu ramai, pahatan relief yang sangat detail dengan penggambaran suasana atau keadaan alam sekitar. Bangunan candi yang di maksud adalah menghadap ke arah Barat, berdampingan dengan bangunan yang di duga candi apit. Kalau merujuk pada sebuah nama dari bangunan candi itu sendiri. Bangunan candi ini dulunya berfungsi sebagai tempat untuk penggemblengan para kasta Brahmana untuk di didik menjadi Empu atau Mpu. Baik di bidang olah sepiritual kanuragan, sastra budaya, mau pun tingkatan ilmu kerohanian. Oleh sebab itu, keberadaan berdirinya bangunan candi ini di kenal dengan sebutan Ngempon, yang berasal dari kalimat Empu, atau ngempu.

Candi Ngempon

Candi Ngempon

Dalam catatan beberapa sumber menyebutkan bahwa, bangunan candi itu di temukan oleh salah satu petani wilayah setempat. Yang sedang beraktifitas menggarap lahan sawahnya, dengan tujuan untuk di tanami jenis tanaman padi. Dalam catatan beberapa sumber menyatakan, temuan itu terjadi pada tahun 1952, dan temuan pertama berupa salah satu komponen dari bangunan candi. Berupa batu berbentuk kotak polos dengan jenis material batu andesit. Ketika kegiatan mencangkul di lanjutkan, petani tersebut berangsur menemukan secara bertahap dan semakin banyak temuan panel panel tersebut. Selain temuan panel dari bangunan candi, telah di temukan 10 buah arca antara lain, arca durga mahisasuramardini, arca ganesha, arca kinara dan kinari, arca nandi, arca siwa, arca mahakala dan nandiswara, arca agastya, dan arca siwa maha dewa. Secara keseluruhan, arca arca tersebut di boyong dan di simpan di salah satu museum yang berada di kota semarang, yaitu museum Ronggowarsito. Pada tahun 1952, Dinas dari Purbakala menyusun sebuah bangunan candi dari reruntuhan tersebut. Dalam perkembangannya, pada tahun 2006, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, menyusun lagi sebuah candi yang ukurannya agak kecil dari susunan yang pertama. Di lokasi ini telah di temukan kembali sembilan titik denah dari bangunan candi. Akan tetapi, untuk sampai saat ini hanya 4 bangunan saja yang di rekonstruksi. Sedangkan untuk ke 5 bangunan, sampai saat ini hanya menyisakan komponen yang rusak dari bangunan yang di maksud.

Candi Ngempon

Candi Ngempon

Candi ngempon mengalami kerusakan yang sangat parah akibat terkena longsor tanah yang berada di sisi sebelah selatan komplek percandian. Material longsor itu telah memporak porandakan dan menutup secara keseluruhan komplek percandian ngempon. Hingga pada tahun 1952, laporan berupa catatan dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah menginformasikan dengan status temuan candi ngempon oleh petani setempat. Untuk catatan tentang terjadinya tanah longsor belum dapat di ketahui kejadian pastinya. Akan tetapi pada tahun tersebut, lokasi yang terdampak longsor sudah di ubah menjadi lahan persawahan yang produktif. Dugaan, longsor itu terjadi sebelum masuk periode abad ke 20_an awal.

Candi Ngempon

Candi Ngempon

Konstruksi bangunan candi ini tidak sama seperti bangunan bangunan candi pada umumnya. Yang memiliki postur yang tinggi, besar, dan memiliki ruangan utama yang setiap orang dapat memasukinya. Tidak sama seperti perkomplekan candi gedong songo, perkomplekan candi sewu, perkomplekan candi klero, dan perkomplekan candi candi lainnya, di jawa tengah mau pun di jawa timur. Banyak yang menyebutkan tanpa adanya kajian dari konstruksi bangunan tersebut. Bahwa bangunan candi ngempon di bangun sebagai taman pemujaan yang di peruntukan oleh salah satu puteri raja kala itu. Banyak juga dugaan bahwa bangunan candi ngempon adalah tempat menuntut ilmu para penganut ajaran hindu siwa pada jamannya. Mempelajari tentang ajaran keyakinan, dan meningkatkan ilnmu sastra di bidang kehidupan. Untuk menyatakn perihal demikian, bukti bukti yang mendukung untuk memberikan informasi yang demikian belum di kaji secara terang terangan. Apakah mungkin, belum di ketemukannya sebuah obyek yang mampu memberikan sebuah jawaban.

Candi Ngempon

Candi Ngempon

Kedua pendapat di ini menyebutkan tentang fungsi dari pada bangunan candi selain taman doa adalah tempat penempaan ilmu sastra para empu. Kedua pendapat tersebut memberi keterangan tentang kesamaan dari segi bangunan, berupa konstruksi bangunan candi untuk tempat pemujaan. Artinya, taman doa memiliki bangunan candi, dan tempat penempaan ilmu sastra untuk menjadi empu juga memiliki bangunan candi. Pada inti bahasannya, kedua dugaan tersebut sama sama memiliki bangunan candi. Pahatan jenis arca yang mengarah ke sekte siwa. Di antara keduanya, ada satu yang menggugurkan atau mematahkan pendapat fungsional dari bangunan candi tersebut. Yaitu, jika memang benar bangunan candi tersebut di peruntukan para empu untuk menuntut ilmu, seharusnya ada satu bangunan atau beberapa bangunan yang di sebut dengan Dharmasala. Yaitu sebuah bangunan atau tempat yang di sediakan untuk belajar bagi para siswa siswanya. Sedangkan, di komplek bangunan candi ngempon itu sendiri, obyek yang di maksud tidak ada sama sekali. Hanya di sebutkan dalam catatan 9 buah denah atau setruktur dari bangunan candi.

Kolam Pemandian C. Ngempon

Kolam Pemandian C. Ngempon
 
Dengan bentuk dan konstruksi bangunan candi yang demikian. Artinya, bangunan candi ngempon di bangun tidak sama seperti bangunan candi pada umumnya. Memiliki ruangan utama yang kecil atau sempit. Bahkan orang pun tidak dapat untuk masuk ke dalam ruang utamanya. Saya pribadi berpendapat atau mengasumsikan bahwa, bangunan candi ngempon sebagai tempat untuk pendarmaan. Jadi, setelah pembakaran mayat, abu sisa dari pembakaran di masukan ke dalam tempat berupa bejana kecil, atau guci kecil. Yang selanjutnya akan disimpan di dalam ruangan candi tersebut, sebelum akhirnya di larung ke sungai atau ke laut. Candi ngempon adalah bangunan candi, di fungsikan untuk pendarmaan tokoh penting yang sudah meninggal. Jawaban dari saya pribadi di saat mendapatkan pertanyaan kenapa bangunan candi ngempon itu keccil, tidak besar seperti bangunan candi pada umumnya.

Kinara
Kinari

" Kinara dan Kinari adalah makhluk yang berasal dari kahyangan, akan tetapi kedua makhluk itu Bukan dari kalangan Dewa. Kinara dan Kinari adalah dua makhluk dengan bentuk menyerupai burung pada bagian anggota bandannya, memiliki sayap, memiliki dua kaki menyerupai kaki burung, memiliki ekor, akan tetapi bentuk dari kepalanya adalah, kepala manusia. Kedua Makhluk ini mendapatkan tugas dari para dewa untuk menjaga Pohon Kalpataru ".

Di luar pagar perkomplekan bangunan candi ngempon. Lebih tepatnya berada di sisi selatan, terdapat temuan struktur yang di duga bangunan candi, dan pernah di lakukan eskavasi dari dinas terkait. Cerita tentang penemuannya tidak jauh beda dengan awal penemuan bangunan candi ngempon. Bukan itu saja, di atas tanah yang berteras, bagian paling atas, terdapat 2 buah sendang dengan sebutan sendang pucung dan sendang blondo. Keseluruhan sendang tersebut masih memancarkan sumber mata air yang masih aktif hingga sampai saat ini. Lebih tepatnya, keberadaan ke dua sendang tersebut berada di bawah rimbunan pohon bambu. Selain mata air yang memiliki mitologi tentang sumber kehidupan, kata lain menyabutkan, sebuah tempat bermain dan berkumpulnya para dewa. Kali telon, kali tempuran, atau kali yang memiliki dua arus yang berbeda, saling bertemu dan menjadi satu arus. Ternyata memiliki mitologi yang sama dengan status sumber mata air. Dan memang benar, selain dekat dengan sumber mata air, bangunan candi di bangun di dekat pertemuan dua arus sungai yang saling bertemu.

Kolam Pemandian

Kolam Pemandian

Selain bangunan candi, temuan berupa struktur kolam di awal tahun 1990 an. Yaitu sebuah pemandian kuno, dengan mata air yang bersumber dari dalam perut bumi. Sumber mata air itu memiliki suhu yang tidak seperti biasanya. Akan tetapi, sumber mata air yang keluar dari dalam perut bumi memiliki suhu yang hangat. Memiliki status yang sama dengan pemandian air hangat yang berada di komplek percandian gedong songo. Memiliki ukuran 3,5 meter x 5 meter berbentuk kotak persegi panjang, dengan kedalaman kisaran 1 meter. Bangunan kolam kuno itu berbahan baku batu andesit. Memiliki bilik untuk penempatan arca yang berada di bibir atau dinding kolam sebelah utara.

Kolam Pemandian C. Ngempon

Kolam Pemandian C. Ngempon

Konon ceritanya, bilik tersebut dulu terdapat arca terpahat dengan bentuk sosok wanita, memiliki hasta atau tangan yang banyak, dan berdiri di atas seekor hewan. Di duga, arca yang di maksud adalah sosok Dewi Durga Mahisasuramardini. Akan tetapi, arca tersebut belum dapat di ketahui, kabar keberadaanya, dan masih simpang siur. Kolam pemandian memiliki anak tangga sebagai akses masuk ke kolamnya. Akses anak tangga tersebut berada di sisi dinding kolam bagian barat. Jika kita melihat bangunan kolam pemandian tersebut merupakan tempat terbuka.

Kolam Pemandian C. Ngempon

Kolam Pemandian C. Ngempon

Akan tetapi, ketahui lah bahwa leluhur kita terdahulu, membangun kolam lengkap dengan kerangka atapnya. Artinya, kolam pemandian tersebut tidak terbuka, akan tetapi ada bangunan atap yang menaunginya. Buktinya apa kalau kolam pemandian tersebut di bangun bersamaan dengan atapnya. Beberapa komponen umpak yang berada di samping kanan dan kiri bibir kolam. Umpak umpak tersebut di fungsikan sebagai bantalan, atau lapik dari komponen berupa soko, atau tiang yang berbahan baku dari kayu. Dan jumlah dari umpak umpak tersebut adalah 14 buah. Dan kolam pemandian ini, memiliki tempat saluran pembuangan berbentuk jaladwara polos, yang berada di dinding kolam sebelah selatan. Saluran itu mengalir langsung ke sungai yang berada di sebelah selatan kolam tersebut.


Misalkan eskavasi itu di lanjutkan, pasti banyak temuan temuan baru yang akan bermunculan. Tidak usah jauh jauh dari perkomplekan candi ngempon. Cukup bagian luar pagar di seluruh penjuru mata angin. Pasti akan banyak bermunculan sisa sisa dari peradaban masa itu yang akan di angkat ke permukaan tanah. Selain luar pagar perkomplekan candi ngempon, ada beberapa lokasi titik temu benda cagar budaya lainnya. Berada diseberang kali, lebih tepatnya diantara pematang sawah. Temuan berupa dua buah yoni knock down dengan ukuran yang berbeda. Temuan itu berada di tempat yang berbeda pula. Walau pun sama sama di lahan persawahan. Dan temuan itu saling berdekatan, dan jarak ke dua temuan itu hanya 20 meter di antaranya. Jika di pertanyakan, sebenarnya ada misteri apa lagi di seberang kali tersebut. Dengan ditemukannya dua buah benda yang memiliki sakralitas yang di tinggikan oleh leluhur pada zaman itu. Mungkinkah hanya sebagai penanda kesuburan tanah saja. Atau, ada jejak bangunan candi, yang lengkap sendang kuno, dengan bentuk kolam pemandian yang belum terungkap secara keseluruhan. Jangan jangan, wilayah perkomplekan candi ngempon merupakan peradaban yang sangat besar .. ???
































Komentar

  1. Saya persilahkan untuk di kopi, bagi teman teman yang masih kuliah di bidang yang membaha tentang sejarah. Dengan senang hati

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU LUMPANG DAN UNFINIS YONI KENDALI SODO

SITUS CANDI DI MAKAM WALIULLOH KHASAN MUNADI

MAKAM WALIULLOH SYECH SUDJONO DAN KE DUA SAHABATNYA