" LANGGAM NISAN SYECH MAULANA IBRAHIM AL MAGHRIBI DAN KI AGENG PANTARAN "
Makam Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi dan Makam Ki Ageng Pantaran, letaknya berada sisi sebelah timur lereng Gunung Merbabu, di tepian aliran lahar dingin dari Gunung tersebut. Komplek makam berada di sisi sebelah timur, dan di sebelah utara aliran lahar dingin yang membentuk huruf leter " L ". Jarak di antara keduanya, berkisar 200 meteran dari sisi barat dah 70 meter dari sisi utara. Berada di Dusun Candisari, Desa Pantaran, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, di komplek makam ini kita bisa merasakan perjuangan dan sepak terjang para pendahulu kita. Walau pun secara nyata kita tidak pernah merasakan perjuangan tersebut di masanya. Berbagai macam kisah dan cerita, perjuangan itu bisa membawa sebuah harapan dan cita cita. Akan tetapi, semua hanya terdiam, seolah olah memori yang tersimpan disini menyampaikan pesan dengan rapi dan hening.
 |
Nisan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi
|
Banyak sekali tokoh tokoh dari pejabat pemerintahan, hingga tokoh tokoh yang memiliki tingkatan nasab keilmuan yang tidak di ragukan lagi. Dari berbagai masa atau periode kepemimpinan, yang dulu memiliki sepak terjang yang sangat apik. Hingga pada akhir kisah, hanya waktu yang mampu menentukan, menjemput dan mengakhiri semuanya. Memang sudah di gariskan, hanya batu nisan yang mampu memberikan keterangan dan pesan, untuk di sampaikan lewat seni pahatan. Sebenarnya ada keistimewaan apa di tanah ini, seolah tokoh tokoh tersebut memberikan wasiat, hingga masa akhirnya untuk menetap dan berpusara di tanah ini. Semua terkonsep, dan mengikuti jejak dari tokoh pembuka awalnya. Semua sudah tersusun, semua sudah tertata dengan rapi, semua sudah sesuai dengan urutan masa dan status sosialnya. Mulai dari masa kejayaan seorang tokoh pejabat publik dari Kasultanan Pajang, tokoh sepiritual dari kasultanan Mataram Islam, tokoh pejabat pemarintahan dari Kasunanan Surakarta, dan tokoh pejabat dari Kasultanan Jogjakarta. Secara keseluruhan, tokoh tokoh tersebut memang memiliki peranan penting di masanya. Karakter dan jiwa kepemimpinannya benar benar sudah terbentuk dari wibawa yang di sandangnya. Sehingga, mampu mengurukir sejarah, mampu memberikan keteladanan, mampu memberikan harkat, martabat, berupa adab, adat dan budaya.
 |
Makam Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi
|
Banyak kisah cerita yang bersumber dari masayarakat, menggambarkan karakter dari penokohan yang di keramatkan. Bahkan sang tokoh selalu di ceritakan dan mendapatkan posisi yang terbaik dari status sosialnya. Dengan dipaksakan untuk memenuhi porsi dari kisah cerita yang tidak seharusnya. Mengikutsertakan nama subyek, predikat, dan obyek seolah olah pembenaran itu telah terjadi dan sudah terjadi. Dari sini, semua akan terjawab dengan adanya bukti dari sepasang prasasti berupa batu nisan, yang mampu memberikan informasi kepada sosok tokoh yang di makamkan.
Di komplek makam Syech Maulana Ibrahim Al Magribi, terdapat banyak sekali makam makam kasepuhan dari berbagai peride. Dari akhir kasultanan Demak awal Kasultanan Pajang, Periode Mataram Islam Sultan Agung, Langgam Pakubuwono Periode 1800an awal, sampai periode pasca Perang diponegoro, Nisan nisan Langgam Hamengkubuwono memiliki kisah pahatan yang sama yaitu, Awal periode 1800an, hingga periode pasca Perang Diponegoro. Bentuk bangunan komplek pemakaman Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi memiliki 5 teras. Teras yang pertama dari bawah, komplek pemakaman periode pasca perang jawa, yang bercampur dengan pemakaman jaman moderen. Untuk teras yang kedua, komplek pemakaman dengan periode abad 19 pertengahan, bercampur dengan makam makam baru. Untuk teras ke tiga dan sampai teras ke 4, memiliki kisah cerita penempatan makam yang sama. Akan tetapi, ada yang menurutku agak janggal pada bagian teras ke 3. Terdapat makam yang terbilang paling sepuh dari segi pahatan nisannya. Dengan nama penokohan yang pernah di sampaikan, bernama Mbah Sholeh, memiliki status sosialnya dengan sebutan Kyai. Belum dapat di ketahui gelar jabatan beliau, hanya saja pahatan nisan yang berada di atas pusaranya memberikan informasi bahwa, beliau berasal dari Kasultanan Pajang. Pahatan nisan yang sangat polos, tanpa adanya ornamen yang memiliki arti seperti Purnama Sidi, Suryo Sumunar, sodo lanang atau soko tunggal. Hanya pahatan sabuk yang menghiasi bagian pinggang nisan, yang di jadikan sebagai identitas masa atau periodenya.
Kita akan bahas sartu persatu
Jika di perhatikan komplek makam sebesar ini, memiliki perbedaan dengan komplek makam para tokoh di wilayah lainnya. Baru kali ini dan melihat secara langsung, konsep penataan makam yang tidak seperti biasanya. Kurang begitu faham dengan konsep penataan tersebut. Jika di perhatikan, makam Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi memiliki perbedaan dengan komplek makam lainnya. Jika di perhatikan ke tempat lain, konsep penataan makam tertata sesuai dengan periodenya. Semakin kebawah, periodenya semakin muda. Akan tetapi, seolah olah di komplek makam Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi tidak berlaku dengan adanya konsep seperti itu. Buktinya, Makam Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi, justru bersanding dengan salah satu makam tokoh bernama Dewi Nawangwulan yang memiliki perbedaan periodenya.
 |
Susunan Jirat Makam Ki Pantaran
 | Bangunan Jirat Makam Ki Pantaran
|
|
Memiliki kisah cerita yang sama, Makam Ki Ageng Pantaran terletak pada teras ke dua dari atas. Makam tokoh Ki Ageng Pantaran bersanding dengan makam salah satu tokoh dengan sebutan Ki Ageng Mataram. Untuk pahatan nisan kedua tokoh tersebut memiliki perbedaan masa atau periodenya. Nisan Ki Ageng Pantaran dengan langgam Tembayat periode Mataram Islam Sultan Agung, sedangkan nisan untuk tokoh Ki Ageng Mataram dengan langgam nisan HB ( Hamengkubuwono ) periode 1800 an awal.
Setelah melihat konsep makam yang berada di dalam bangunan cungkup teras pertama dan ke dua. Kita beralih ke luar bangunan, lebih tepatnya berada di bagian teras ke empat. Terlihat makam yang paling tua dari hitungan periodenya. Makam tersebut di kelilingi makam dari tokoh tokoh yang beda periodenya. Bahkan untuk rentang waktunya selisih kisaran 250 tahunan. Telah di ketahui pusara tersebut, adalah tokoh penting di masanya dengan sebutan Mbah Kyai Sholeh. Bentuk dari pahatan nisan itu sendiri memberikan informasi Akhir Demak awal Pajang atau masa transisi. Dan sangat jelas sekali letak makam beliau, berada di bagian tengah tengah teras ke empat. Jika di haruskan mengikuti konsep penataan makam yang sebenarnya. Seharusnya, makam Simbah Kyai Sholeh berada di dalam bangunan cungkup paling atas atau teras pertama. Sedangkan untuk tata letak makam Syech Maulana Ibrahim Al Mahgribi dengan Ki Ageng Pantaran, berada pada teras baagian ke dua. Karena sudah jelas informasi dari pahatan nisan Simbah Kyai Sholeh lebih tua periodenya, jika di bandig nisan tokoh Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi dengan Ki Ageng Pantaran. Selisihnya kisaran 50 tahun di antara nisan keduanya. Nisan Mbah Kyai Sholeh periode Pajang, sedangkan nisan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi Periode Mataram Islam Sultan Agung. Tapi kenapa konsep penataan makam tidak di buat demikian, dalam arti, makam yang terbilang tua periodenya tidak di dalam, akan tetapi sebaliknya. Tidak ada yang di bedakan, dan tidak ada pengaruh dari kesenjangan sosial di antara keduanya. Semua mengacu pada nasab keilmuan. Jelas di katakan, atau jelas di sampaikan dalam typologi dan pahatan nisan masing masing tokoh. Bahwa, nasab keilmuan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi lebih tinggi jika di banding dengan Simbah Kyai Soleh. Sejak periode Wali Songo, nasab keilmuan dari seorang ulama besar itu di utamakan. Walau pun status sosial seperti, gelar jabatan dalam sistem pemerintahan itu sangat tinggi. Ulama itu adalah Sabdo Pandito Ratu, ucapan atau perintah ulama itu memiliki kesamaan dengan perintah dari Pendeta, Brahmana mau pun Raja. itu yang di jadikan pegangan hingga sampai sekarang.
 |
Langgam HB, Pasca Perang Jawa
|
Jika kita pahami, bangunan makam dari kedua tokoh antara Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi dengan Ki Ageng Pantaran hampir tidak memiliki perbedaan. Memang ada kesamaan di antara kedua bangunan tersebut. Yang pertama, bangunan makam kedua tokoh berbahan baku dari batu putih. Sama sama memiliki kadar kekerasan yang tidak terlalu tinggi jika di banding dengan batuan andesit yang seringnya di pergunakan untuk membangunan Candi. Memiliki pahatan atau ornamen penghias pada komponen komponen pajiratan. Pahatan ornamen yang di fungsikan sebagai penghias, mau pun orname yang memiliki tingkatan arti yang sangat luas. Semua di padukan, semua di ukir pada media yang sama. Secara keseluruhan, mulai dari bangunan jirat makam, pahatan nisan, ukiran penghias, telah mengadopsi dari komponen dan relief bangunan Candi. Coba di perhatikan saja setiap detail ukiran mau pun pahatan, mulai dari simbol yang memiliki arti dan keartistikan seni bidang hiasnya. Tidak ada perbedaan diantara bagian obyek keduanya, antara bangunan makam dengan bangunan candi.
 |
Langgam HB Pasca Perang Jawa
|
 |
Langgam HB, Pasca Perang Jawa
|
Sebenarnya istilah canden itu sendiri di serap dari kata dasar dari sebuah bangunan pemujaan berupa Candi. Sedangkan Candi itu sendiri memiliki arti yang merujuk kepada tempat peribadatan. Yaitu wujud bangunan peninggalan purbakala yang berasal dari peradaban hindu dan buddha. Bangunan tersebut di pergunakan sebagai tempat ritual untuk pemujaan Dewa dewa dalam keyakinannya. Bangunan candi juga memiliki istilah yang berasal dari kata Candika, yang berarti salah satu perwujudan Dewi Durga sebagai Dewi Kematian. Candi selalu di hubungkan dengan monumen tempat pendarmaan untuk memuliakan Raja yang setatusnya Anumerta ( yang sudah meninggal ). Adalah, membangun makam seseorang yang di tokohkan, karena memiliki keahlian di bidangnya. Setelah tokoh tersebut wafat mencapai 1000 hari, baru makam sang tokoh di bangun sedemikian rupa. Dengan dasar supaya, tokoh yang di maksud tetap di kenal sebagai tokoh yang pernah memiliki jasa besar pada saat membantu untuk kelancaran di sistem pemerintahan pada masanya.
 |
| Nisan Kyai Sholeh |
Sebelum membahas tentang pahatan nisan nisan komplek makam kasepuhan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi, pemembahasan langgam nisan di awali dari periodenya yang paling muda, yang terdapat pada komplek makam bagian teras pertama. Dan berlanjut ke terasa kedua, teras ke tiga dan teras ke empat. Karena konsep makam kasepuhan ini benar benar sudah tertata, dan terkonsep sesuai dengan periodenya. Untuk nisan nisan dengan periode paling muda terdapat pada teras pertama, atau teras paling bawah. Teras kedua, hanya terdapat beberapa makam dengan langgam nisan periode yang sama dengan teras pertama. Teras ketiga pun demikian, cuma bedanya di bagian teras ini terlihat paling istimewa. Karena, makam makam dengan periode yang sama lebih tertata, lebih rapi dan lebih banyak di bagian komplek ini. Muncul perbedaan di bagian teras ini, nampak sepasang nisan yang terpasang dan berdiri tegak pada bagian punjer tengah. Sepertinya nisan seorang tokoh pejabat penting di periodenya. Pahatan nisan ini telah menunjukan informasi tentang periode masanya. Menurut warga sekitar, terutama pakuncen makam, tokoh yang di maksud memiliki gelar dengan sebutan Kyai, dan memiliki nama dengan sebutan Mbah soleh. Nisan dari makam mbah soleh telah memberikan informasi lewat pahatannya, yaitu nisan periode akhir Kasultanan Demak, awal dari Kasultanan Pajang.
 |
| Nisan Langgam HB 1800 an awal |
 |
Nisan Langgam PB 1800 an awal
|
Pada bagian teras ke empat, terdapat beberapa makam tokoh tokoh penting lainnya. Akan tetapi perbedaan itu terletak pada periode penentuan angka tahunnya, dan perbedaan dari pahatan nisannya. Nisan dengan langgam Kasunanan Pakubuwono ada 2, dengan periode angka tahun 1800 an awal. Seharusnya, pusara yang lengkap dengan bangunan makam itu ada dua, akan tetapi untuk bangunan makam yang satu hanya meninggalkan panel panel jiratnya saja. Sedangkan untuk nisan ke duanya tidak di ketahui keberadaanya. Kemungkinan besar, di komplek makam bagian teras ke empat ini, tidak hanya dua saja makam dengan identitas yang memberikan informasi Langgam Pakubuwono, dugaan dan kemungkinan lebih dari 2. Cuma, untuk kondisi bangunan makam sudah di gantikan dengan pajiratan yang baru. Tidak hanya di periode 1800 an awal saja, nisan dengan periode pasca Perang Diponegoro, samapi periode awal 1900an, juga ada di komplek teras ke empat ini.
Terdapat bangunan cungkup yang lumayan besar, bangunan tersebut terkonsep seperti bangunan mushola yang memiliki beberapa ruangan. Ruang pertama yaitu ruang penerimaan tamu atau para pengunjung. Ruang kedua terdapat bilik kecil berukuran 4 x 3 meter, terdapat makam makam tokoh yang berkaitan dengan Kasultanan Pajang, dengan nama yang di sebutkan Ki Ageng Kebo Kanigoro beserta Istrinya yang bernnama Nyai Kemuning. Pada bagian ruangan ketiga, terdapat makam Kyai Ageng Pantaran dan Ki Ageng Mataram. Dalam Cerita rakyatnya, Ki Ageng Pantaran merupakan seorang tokoh Brahmana yang menjadi suri tauladan bagi penduduk warga masyarakat Desa Pantaran. Tokoh Agama dari keyakinan Buddha dari kerajaan Majapahit. Yang mengembara dan mengabdikan diri untuk bersentuhan, berinteraksi langsung dengan masyarakat. Mengajarkan budi pekerti, mengajarkan teladan dalam kebajikan, mengamalkan sumbangsihnya berupa tenaga dan pikiran, untuk membentuk karakter dan membangun sifat kemanusiaan. Sehingga tokoh tersebut di jadikan panutan di wilayah yang di diaminya. Kedatangan Syec Maulana Ibrahim Al Maghribi, telah mengubah semuanya. Tentu saja melewati beberapa tantangan, mulai adu ilmu kanuragan dan beradu nasab keilmuan yang di miliki oleh masing masing tokoh. Melalui berbagai tantangan yang di ajukan oleh Ki Ageng Pantaran, tokoh yang memiliki gelar dengan sebutan Syech tersebut, telah memenangkan dari tiap tahap tahapnya. Sehingga, Ki Ageng Pantaran menyatakan kekalahannya, dan memilih jalan untuk menyerah dan berguru untuk menuntut ilmu kepada Beliau Syech Maulana Ibrahim Al Magribi.
 |
Nisan Langgam HB Periode 1800 an
|
 |
Nisan Ki Ageng Pantaran
|
Makam Kyai Ageng Pantaran, bersanding dengan makam salah satu tokoh yang di sebutkan dengan nama Gelar, yaitu Ki Ageng Mataram. Artinya Pembesar dari Kasultanan Mataram atau tokoh yang di tuakan dari Kasultanan Mataram. Yang di maksud dengan Kasultanan Mataram apakah tokoh tersebut dari Kasultanan Mataram Islam. Jika pengamatan tertuju pada komponen nisan Ki Ageng Mataram, memberikan informasi bahwa tokoh tersebut berasal dari Kasultanan Jogjakarta. Karena langgam nisan beliau menunjukan nisan Hamengkubuwono periode 1800 an awal. Sebutan Mataram masih di pergunakan hingga sampai sekarang, antara Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Jogjakarta. Karena sebutan Mataram itu merupakan cikal bakal berdirinya Keraton keraton di Jawa tengah, antara Kasunanan dan Kasultanan.
 |
| Hiasan Bangunan Jirat |
Langgam nisan Ki Ageng Pantaran memberikan keterangan periodenya, yaitu Mataram islam Sultan Agung Hanyokrokusumo. Detail pada pahatan nisan memiliki beberapa hiasan yang terdapat pada bagian bagian tertebntu. Pada bagian mustaka nisan terpahat Matahari separuh, atau Suryo Sumunar dengan 5 sumburat atau 5 lidah api. Bagian permukaan nisan terdapat tumpal keris seolah olah akan menusuk matarari atau suryo sumunarnya. Terdapat kembang awan pada bagian tubuh nisan yang berada di samping kanan kiri nisan. Guratan pada pinggang memiliki satu setrip atau satu baris saja, yang menunjukan bahwa nisan tersebut mrmberikan keterangan jenis kelamin laki laki. Informasi perihat status sosial, beliau adalah seorang tokoh pejabat pemerintahan, sekaligus menyandang gelar dengan sebutan Gelar Ki atau Kyai Ageng. Gelar Ki atau Kyai belum tentu tokoh yang di makamkan adalah sosok ulama seperti yang kita bayangkan. Untuk dapat di sebut sebagai ulama dengan nasab keilmuan yang tinggi, dan memiliki ilmu tasyawuf yang tinggi, memang ada beberapa pahatan yang di jadikan simbul untuk memberikan keterangan demikian. Dan jika muncul sebuah pertanyaan apakah beliau, tokoh yang di makamkan berkeyakinan muslim. Pertanyaan itu tidak usah di jawab panjang lebar, karena pahatan nisan sudah mewakili dari sebuah jawaban.
 |
Jirat Makam Kyai A. Pantaran
|
 |
| Pinggang Nisan Kyai A, Pantaran |
Bangunan jirat makam Kyai Ageng Pantaran, menggunakan susunan batu kotak persegi terdiri dari 6 lapis. Lapisan pertama dari bawah, terpahat dengan profile pelipit genta atau pelipit Padma. Profil seperti ini memiliki kesamaan dengan komponen bangunan candi yang berada di bagian selasar atau kaki candi. Terdapat dua pelipit atau profile yang sama, hanya saja berbeda pada pemasangan atau penempatannya. Pemasangan profile tersebut terdapat pada lapis satu jirat makam dan lapis ke 5 jirat makam. Dan setiap profil atau pelipit tersebut, mendapatkan imbuhan pahatan berupa miniatur antefiks. Antefik terbagi menjadi tiga bagian, antefiks tengah, antefiks sambung dan antefiks sudut. Komponen jirat, pada lapis ke 2, ke 4 dan ke 5, memiliki beberapa pahatan ornamen penghias dengan berbagai bentuk. Ciri khas pahatan yang memberikan informasi identitas bangunan jawa tengahan berupa bunga ceplok piring. Ragam hias bunga ceplok piring sering di jumpai pada setiap bangunan kuno seperti Bangunan Candi, Bangunan Makam kasepuhan dan bangunan Masjid. Hiasan tapak dara yang memberikan simbol sebagai penolak balak, pahatan ini juga bisa kita jumpai pada konsep ragam hias bangunan kuno sama seperti di atas. Dan secara keseluruhan ornamen ornamen penghias itu telah mengadopsi dari relief bangunan Candi Hindu Buddha. Berbahan baku dari batu andesit, setiap komponen terlihat berwarna putih di karenakan, komponen pajiratan dan sepasang nisan sengaja di lumuri lapisan anti jamur. Dengan harapan supaya komponen komponen tersebut tidak rusak karena akan timbulnya jamur pada material, dan terkikis oleh waktu.
 |
| Nisan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi |
 |
| Nisan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi |
Terakhir adalah ruangan ke empat, merupakan pusara dari seorang tokoh yang memiliki gelar dengan sebutan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi. Makam beliau berada di tempat tertinggi jika di banding dengan penempatan makam makam tokoh lainnya. Di dalam ruangan ke empat ini, terbaring jazad dua orang tokoh yang memiliki peranan penting masing masing. Tokoh yang kedua seorang perempuan yang di anggap dalam cerita rakyat adalah istri dari Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi. Tokoh tersebut bernama Dewi Nawangwulan. Kisah penempatan makam di antaranya, memiliki cerita yang sama dengan ruangan ke tiga. Yaitu, makam yang di maksud sebagai istri tokoh Syech Maulana Ibrahim Al Amaghribi memiliki perbedaan pada periode angka tahunnya. Secara keseluruhan perbedaan itu sangat terang.
Mulai dari pahatan nisan di antara tokoh keduanya dan bangunan jirat makam tokoh keduanya. Pahatan nisan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi memiliki langgam Mataram Islam Sultan Agung Hanyokrokusumo. Sama dengan langgam nisan Kyai Ageng Pantaran. Sedangkan untuk nisa Dewi Nawangsih memiliki pahatan dengan langgam HB atau Hamengkubuwono periode 1800 an awal. Sangat jelas perbedaan dan rentang waktunya, selisihnya terpaut sangat jauh sekali, adalah 200 tahun lamanya. Dari sini sudah dapat di pahami bahwa, tidak mungkin tokoh Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi mempunyai atau memperistri Dewi Nawangwulan. Pahatan atau langgam nisan Syecah Maulana Ibrahim Al Maghribi dengan Langgam nisan Kyai Ageng Pantaran memiliki kesamaan pada periode angka tahunnya. Sama sama dari periode kasultanan mataram islam Sultan Agung Hanyokrokusumo. Dari bentuk dan bangunan jirat makam memiliki kesamaan. Akan tetapi, bentuk panel nisan memiliki perbedaan pada simbolnya. Kalau tidak teliti akan memberi keterangan yang merujuk pada nasab keilmuan yang sama. Secara informasi pun, dari pahatan nisan keduanya memberikan keterangan tentang status sosial yang sama. Sedangkan nisan tokoh Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi memberikan keterangan bahwa, beliau memiliki gelar dari tingkatan nasab keilmuan yang setara dengan wali songo. Dan pastinya tokoh yang di makamkan memiliki tingkatan sepiritual yang tinggi, di awali dari Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma'rifat.
 |
| Bangunan Jirat Makam |
Perbandingan periode angka tahun antara Pahatan nisan Kyai Sholeh, dengan Pahatan Nisan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi. Langgam nisan Kyai Sholeh memberikan informasi periode akhir masa kejayaan Kasultanan Demak, dan awal keemasan dari Kasultanan Pajang. Sedangkan untuk pahatan nisan dari Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi dengan periode masa Kasultanan Mataram Islam Sultan Agung Hanyokrokusumo, selisihnya akhir 1500 an dan awal 1600. Sepertinya ada konsep penataan pemakaman yang berbeda. Bukannya makam dengan periode paling tua berada pada bagian atau tempat yang di tinggikan, berada pada teras teratas bagian ke lima. Tapi kenapa makam Kyai Sholeh yang periodenya lebih tua malah berada di teras bagian ke tiga. Walau pun Kyai Sholeh mempunyai predikat lebih tua dari angka periodenya. Karena Kyai Sholeh hanya memiliki gelar dari status sosialnya saja. Inggat, gelar Kyai bukan berarti memiliki nasab keilmuan yag tingkatanya setara dengan sufi. Jika di banding dengan Syech Maulana Ibrahim Al Maghribi, walau pun periode angka tahunnya lebih muda, beliau jelas jelas memiliki nasab keilmuan yang setara dengan wali songo. Kejelasan tingkatannya, beliau adalah seorang sufi yang menguasai Ilmu sepiritual dengan tingkatan dasar sampai tingkatan akhir. Ingat, jabatan dalam sistem pemerintahan tidak menentukan tingginya nasab keilmuan seseorang. Akan tetapi sebaliknya, nasab keilmuan yang di miliki telah membawa tokoh Syech Maulana Ibrahim Al Magribi dalam kemuliaan dan dalam penghormatan terakirnya.
NB :
Sedangkan untuk kadar kekerasannya tidak sama dengan batu andesit. Untuk batuan jenis putih, sangat rentan dengan keadaan iklim di Nusantara. Mudah aus dan sangat rentan dengan benturan benda keras. Batuan atau material jenis ini, akan di pergunakan sesuai dengan keadaan sekitar.
Komentar
Posting Komentar