MENYINGKAP PERADABAN KUNO YANG TERTIMBUN MATERIAL FULKANIK GUNUNG SINDORO

" PERADABAN KUNO YANG HILANG DI LERANG GUNUNG SINDORO, SITUS LIYANGAN, PURBOSARI, NGADIREJO, TEMANGGUNG "

Situs Liyangan
Ketika alam memberikan segalanya, apa yang mampu kita perbuat untuk membalasnya. Yang maha kuasa telah mengamanahkan kepada kita, agar tetap merawat, melestarikan dan mempertahankan segala aspek dari Alam Nusantara. Perjalanan explore kali ini, menuju ke sebuah tempat yang memiliki kenangan bersejarah yang sangat membanggakan untuk negeri ini. Yang mencetak sebuah peradaban, yang mampu tumbuh dan berkembang, sehingga terbentuklah menjadi bagsa yang besar. Berbagai dari penjuru pelosok negeri, pernah bermukim dan menetap di sini. Aktifitas dari kehidupan kala itu tidak kalah dengan kehidupan di masa modern ini. Tumbuh pesatnya suatu peradaban, dapat kita lihat dari beberapa mahakarya yang pernah di ciptakan, Pernah di buat, pernah di agungkan, dan kini menjadi warisan budaya yang tak ternilai, yang menyimpan misteri untuk di pecahkan. Dulu tempat ini pernah menjadi peradaban yang sangat besar. Bisa di bayangkan, ketika peradaban itu selalu berdamai dengan alam sekitar. Menunjukan betapa ramah sambutan dari lingkungan sekitar.

Situs Liyangan
Liyangan merupakan bagian terpenting dari jaringan peradaban mataram kuno di jawa tengah. Situs ini berkembang sesuai dengah harapan dan kecerdasan mengolah tekhnologi, yang benar benar sudah maju di saat itu. Hingga mampu menciptakan peradaban yang telah tersetruktur, menunjukan adanya perencanaan pembangunan komplek peradaban yang sangat luas. Aspek pemukiman yang dibangun, dari sistem pertanian, dan tempat tempat untuk beribadah yang saling terhubung. Sehingga mampu membentuk satu kesatuan  kehidupan masyarakat pada masa itu. Hal ini menandakan  kedekatan budaya antara liyangan dan pusat peradaban mataram kuno sangat harmonis. Liyangan pada zaman dahulu merupakan sebuah komplek peradaban yang terkubur akibat bencana alam erupsi Gunung Sindoro. Belum dapat di ketahui pada abad keberapa peristiwa itu terjadi. Menurut seorang peneliti dari belanda, bernama Bemmelen pada tahun 1970, antara tahun 1600 sampai 1671 telah terjadi bencana alam yang sangat Dahsyat. Berupa meletusnya Gunung Sindoro di tahun tahun itu sebanyak tiga kali. Kalau memang benar berita itu pernah terjadi, berarti Liyangan adalah sebuah wilayah yang menjadi saksi bisu tentang bagai mana Gunung sindoro meluluhlantahkan daerah yang berada di seputarannya. Terbayangkan atau tidak, di tahun tahun itu, letusan Gunung Sindoro telah mengubur cita cita, dan merubah semua impian dari Leluhur bangsa.

Situs Liyangan
Jejak peradaban kuno yang berada di sebelah timur lereng Gunung Sindoro. Peradaban atau perkampungan kuno yang telah lama terkubur material Vulkanik dari letusan Gunung Berapi kala itu. Perkampungan ini terkubur lebih dari ribuan tahun lamanya. Kita bisa mendapatkan pemandangan yang sangat exotis, jika kita tidak salah memilih tempat. Pengambilan gambar, saya sengaja, atau saya awali dari bibir tebing sebelah timur. Karena, menurut saya pribadi, landscape yang saya ambil akan menjadi daya tarik yang sangat istimewa. Namun sayangnya, view dari gagahnya gunung sindoro, yang saya idam idamkan jadi back ground, tidak tampak kelihatan. Dikarenakan, cuaca sedang tidak bersahabat. Beda arah pandang, akan menunjukan keindahan perkampungan kuno jika di lihat dari tanah yang paling tinggi. Di tempat ini, kita bisa menikmati denah perkampungan kuno yang sudah di eskavasi, dan sudah di restorasi, terlihat semakin megah dan berwibawa. Saat pandangan mata membentang luas, sudah di pastikan obyek pertama kali yang tidak bisa luput adalah petirtaan kunonya. Seolah olah, petirtaan itu sebuah maskot dari situs peradaban tersebut.

Situs Liyangan
Situs Liyangan
Saat kita memasuki area perkampungan kuno, kita akan di suguhkan pemandangan berupa struktu berbentuk punden, yang memiliki ketinggian hingga 2 meteran. Dengan denah persegi panjang, berbentuk punden berundak memiliki dua teras. Belum dapat di ketahui mengenahi bangunan tersebut. Tidak jauh dari bangunan tersebut, tepatnya berada di sisi selatan, terdapat petirtaan kuno, dengan panel jaladwara yang berjumlah 5 buah yang masih asli, sedangkan panel jaladwara yang lainnya sudah replikasi atau panel buatan baru. Jika menurut penelitian para ahli, situs liyangan merupakan bekas pemukiman kuno yang memiliki karakter sangat komplek. Peninggalan kerajaan mataram kuno ini, memiliki peranan yang sangat penting, beberapa informasi yang sangat berharga. Mampu memberikan keterangan tentang kondisi di wilayah pemukiman tersebut. Jejak peninggalannya berupa perkampunagn kuno yang sudah tertata, dengan struktur tanah yang di huni berbentuk teras. Bangunan petirtaan dan sistem pertanian kuno kala itu. Di balik itu semua, kita bisa melihat gambaran kehidupan peradaban orang jawa, yang banyak terpahat pada relief bangunan candi candi di jawa tengaha.

Situs Liyangan
Setiap teras di betengi dengan sistem penguat bangunan dinding berbahan material dari batu. Yang terbagi dua susunan beda tampilan. Di antaranya susunan batu berpola dan terpahat berbentuk kotak, dengan susunan material batu tanpa berpola atau alami.  Keduanya memiliki fungsi yang sama. Yaitu, untuk penahan atau tahanan, supaya tanah tidak longsor ketika musim penghujan. Konstruksi demikian di sebut dengan baturan. Tinggi baturan berfariasi, ada yang 2 meter, dan ada juga yang tingginya mencapai 3 meteran. Selain baturan, komplek situs liyangan juga terdapat dinding tebal, yang di bangun menggunakan  susun material batu terpahat berpola kotak. Bagian pagar tersebut memiliki hiasan berupa kemuncak berbentuk pahatan mutiara, yang terpasang pada bagian punggung bangunan pagar. Di balik bangunan pagar bagian dalam, terdapat dua bidang tanah yang luamyan cukup luas. Kedua bidang tanah tersebut berbentuk teras. Teras pertama dan teras ke dua. Untuk teras pertama terdapat 2 bangunan yang di duga kuat, bangunan tersebut memiliki komponen soko atau tiang, dengan atap dan kerangka yang berbahan baku dari kayu. Sedangkan untuk teras ke dua, terdapat 4 bangunan yang membujur dari timur ke barat. Bangunan yang pertama dari timur, merupakan tempat pemujaan atau candi yang sakralkan. Dengan piranti pemujaan Yoni, yang memiliki yang lubang kotak bujur sangkar sebagai pengunci lingga. Di duga kuat, lingga tersebut juga berjumlah tiga buah, dan sekaligus melambangkan Tri Murti. 

Situs Liyangan

Di sisi barat bangunan candi, jika di tarik garis lurus, terdapat 3 bangunan dengan bentuk denah yang sama. Untuk bangunan yang berada di sebelah utara, terdapat bangunan dengan denah persegi panjang. Dengan susunan batuan berpola kotak berjumlah 5 lapis dari permukaan tanah, untuk trap dari bangunan ke duanya terdapat satu lapis. Bagian lantai atas terdapat umpak, yang di duga kuat merupakan komponen untuk landasan berdirinya tiang atau soko guru. Berdirinya soko guru di fungsikan untuk menyangga kerangka atap yang secara keseluruhan berbahan dari kayu.

Situs Liyangan
Situs Liyangan
Secara administratif Situs Liyangan berada di Dusun Liyangan, Desa Purbosari, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Provinsi Jawa Tengah. Area ini  terletak di lereng timur laut Gunung Sindoro. Setelah sempat terkubur lama, situs ini diketahui keberadaannya kembali. Saat tidak sengaja ditemukan oleh penduduk yang sedang menambang pasir pada tahun 2008. Situs tersebut terkubur material vulkanik setebal 9 meter.

Penemuan awal adalah berupa struktur kaki candi dengan yoni persegi panjang di atasnya. Struktur tersebut ternyata bukan struktur tunggal. Selanjutnya dalam proses penelitian, banyak ditemukan struktur-struktur lain serta beberapa artefak. Temuan selanjutnya terjadi bersamaan dengan kegiatan penambangan pasir melengkapi penemuan-penemuan sebelumnya yaitu berupa dua buah struktur batu yang terletak bersebelahan. Posisi kedua struktur ini di sebelah tenggara struktur bangunan candi yang telah ada sebelumnya.

Situs Liyangan
Situs Liyangan

Temuan struktur I merupakan terusan dari temuan struktur batu yang pernah ditampakkan dalam ekskavasi Balai Arkeologi bulan April 2010. Posisi kotak ekskavasi Balai Arkeologi berada pada jarak 2 m di barat laut struktur bangunan kayu. Temuan tatanan batu dihasilkan bersamaan dengan kegiatan penggalian pasir pada area tersebut. Saat ini dimensi tatanan batu yang telah tampak adalah panjang 2 m dan tinggi 1,5 m. Belum diketahui kedalaman lapisan batu temuan baru tersebut. Semua batu penyusun merupakan tatanan batu polos.

Situs Liyangan
Pernah menjadi pusat peradaban Hindu terbesar pada masanya, tak heran banyak ditemukan situs sejarah kuno di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah. Salah satu situs peninggalan tersebut ada di Situs Liyangan, Temanggung. Peradaban di Liyangan sudah ada sejak abad ke-2. Selanjutnya, pada abad ke-11 Masehi, terdapat erupsi besar Gunung Sindoro yang menghancurkan dan menimbun kawasan permukiman. Bahkan, beberapa sisa batuan dari erupsi tersebut masih bisa dijumpai di area ini. Sementara itu penamaan 'Liyangan' diambil dari nama sebuah dusun. Wilayah tersebut dahulu sangat luas dan sempat menjadi area penambangan batu dan pasir.

Situs Liyangan
Saat penemuan awal, pernah menjadi viral di dunia maya. Sehingga, banyak turis turis lokal, para peneliti, dari kedinas mengunjungi lokasi tersebut. Walau pun hanya sekedar mencari tahu tentang kebenaran temuan itu. Berbagai media datang untuk meliput kegiatan kegiatan di awal penemuan. Hingga, penelitian pun di awali sampai berkelanjutan di masa ini. Banyak orang berpendapat dan berasumsi menggunakan logika dalam berfikir. Akan tetapi, penggambaran dalam logika itu hanya menyampaikan situasi dan kondisi. Tentang sebab dan musabab kejadian dari penemuan. Para pengunjung khususnya, dari warga setempat dan turis lokal, mengutarakan sebuah kebanggaan atas jatidiri bangsanya. Sehingga, rasa bangga itu menyelimuti di dalam hati dan pikirannya. Memang, beberapa peneliti menyampaikan dan menuliskan tentang perkembangan demi perkembangan perihal terbukanya temuan itu. Bahkan ada yang berasumsi, seandainya situs liyangan ini di buka secara keseluruhan, pastinya jalur penghubung antara Tabupaten Temanggung dengan Kabupaten Wonosobo akan di alihkan, dan beberapa pemukiman dari warga akan di pindahkan. Sudah terbayang bukan, betapa itimewanya warisan dari leluhur bangsa. Mari kita cintai kearifan lokal yang bisa menunjukan kewibawaan bangsa kita.

Situs Liyangan
Kemudian, pada 2008, penambang pasir menemukan situs ini. Saat itu, ditemukan berbagai macam perkakas, baik yang terbuat dari tanah liat, keramik, logam, batu, hingga serat kain. Banyaknya penemuan penting tersebut membuat kawasan ini diambil alih oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah.





Komentar

Postingan populer dari blog ini

WATU LUMPANG DAN UNFINIS YONI KENDALI SODO

SITUS CANDI DI MAKAM WALIULLOH KHASAN MUNADI

MAKAM WALIULLOH SYECH SUDJONO DAN KE DUA SAHABATNYA