Selain jenisa pahatan flowra berupa bunga bungaan, pahatan relief yang berada pada bagian penghias pagar lainnya seperti suluran termasuk ikut meramaikan bidang hias petirtaan cabean kunti. Suluran adalah tumbuhan endemik yang menjadi ciri khas tanaman dataran rendah, yang berada di lereng pegunungan mau pun dataran rendah yang bukan wilayah pegunungan. Tanaman jenis ini sangat mudah di jumpai di wilayah mana pun. Saking mudahnya di dapat, leluhur pada jaman itu ikut mencantumkan pahatan, atau mengikut sertakan tanaman suluran untuk di jadikan media penghias pada bangunan klasic. Relief relief penggambaran tanaman tersebut ikut di tampilkan pada bangunan bangunan candi yang berada di seluruh wilayah jawa tengah. Seolah tanaman itu memang ciri khas tanaman endemik yang tumbuh liar di wilayah jwa tengah.
Bidang hias yang terdapat pada dinding pagar petirtaan terbagi dua bagian. Kususnya bidang hias bagian dalam pagar. Yang mendapatkan sekat pembatas sebuah relung dalam untuk penempatan arca. Untuk bidang hias dalam bagian sisi utara, terpahat jajaran satwa liar berupa burung burung berbagai jenis.
Dinding selatan bagian dalam sisi depan terdapat relief tiga ekor burung dengan paruh berbentuk bengkok, kuat dan melengkung ke bawah. Sedangkan paruh bagian atas lebih panjang, jika di banding dengan paruh bagian bawah. Paruh dengan bentuk yang demikian menunjukan bahwa, burung terebut adalah pemakan biji bijian dengan kulit yang keras. Burung Kakaktua di gambarkan dengan sikap seolah ingin terbang dengan terbukanya kedau sayap. Dengan membawa sekuntum bunga gandum, dengan cara menjepit tangkainya menggunakan kedua paruhnya. Pernyataan demikian memberikan keterangan, selain beras sebagai bahan makanan pokok utama yang di hasilkan dari pertanian, masyarakat pada jaman itu juga menanam gandum untuk memenuhi sumber pangan yang ke dua sebagai pendukungnya. Sedangkan untuk burung kakaktua, adalah hewan jenis burung endemik wilayah sekitar.
Hewan atau burung yang satu ini, adalah gambaran seekor burung dengan paruh yang panjang dan kuat. Paruh dengan desain demikian, biasanya terdapat pada seekor burung yang sering mencari makan dilahan basah seperti persawahan dan rawa. Bentuk paruh yang demikian sangat efisien untuk berburu katak, ikan serta serangga di lumpur. Dengan detailnya pahatan, dengan perawakan yang demikian, hewan yang di maksud adalah seekor burung bangau. Relief tersebut seharusnya memiliki kesamaan jumlah dengan relief di bagian panel lainnya. Akan tetapi, salah satu panel telah mengalami kerusakan yang sangat parah, dan tidak memungkinkan untuk di pasang kembali. Sehingga mengharuskan panel tersebut harus di ganti dengan menyisipkan batuan polos tanpa pahatan sebagai pengganti bidang hiasnya. Kedua burung tersebut terpahat dengan sikap sedang mencari makan di area persawahan. Setiap burung mendapatkan hasil buruan yang berbeda. Satu burung bangau mendapatkan hasil buruan berupa seekor katak. Sedangkan satu burung bangau mendapatkan hasil buruan berupa satu ekor ikan kecil.
 |
Tiga Orang Wanita yang sudah tua |
Jika melihat bidang hias berupa panel ini, seolah sedang menceritakan suatu kegiatan yang sudah berjalan. Kegiatan yang menggambarkan serangkaian ritual tahunan untuk menyambut dan memeriahkan suatu acara dengan konsep selamatan atau makan bersama. Selain terpahat dua orang anak laki laki dengan pahatan sikap jongkok. Anak laki laki paling tua usianya, berjongkok di depan salah satu anak laki laki yang usianya lebih muda. Di gambarkan sedang memegang sebuah benda ditangan sebelah kiri. Sedangkan untuk anak laki laki dengan usia muda, dengan sikap jongkok berada di belakang anak laki laki yang usianya lebih tua. Salah satu sikap tangan bagian kanan seolah sedang menyentuh pinggang anak laki laki di depannya. Keduanya berjongkok di belakang tiga wanita yang usianya lebih tua dari mereka berdua. Ketiga wanita tua tersebut di gambarkan dengan sikap duduk, melipat ke dua kakinya ke belakang menyamping. Menumpangkan salah satu tangan bagian kanan di atas pahanya masing masing. Di hadapan ketiga wanita yang tua, terdapat alat rumah tangga berupa bakul dari anyaman bambu yang berukuran besar. Bakul tersebut berisi nasi yang lengkap dengan lauk pauknya. Hanya terlihat dua lauk yang berbeda, berupa 3 ekor ikan munjahir yang bakar, dan 4 tusuk sate.
 |
Relung tengah Penempatan Arca |
Relung tengah penempatan sosok arca, dengan kondisi demikian blm dapat di ketahui sosok arca yang bernaung di dalamnya. Dan bangunan relung seharusnya terdapat relief berupa, kala makara, punggung naga, dan kepala kala penghias atas relung. Yang terlihat hanya satu penghias bagian kanan berupa punggung naga. Untuk panel penghias lainnya, kemungkinan rusak sehingga di haruskan untuk di ganti dengan panel baru berupa batuan polos tanpa, bidang hias yang terukir. Bagian relung ini juga berfungsi sebagai dinding pemisah dengan panel bagian sisi utara. Dan memberikan gambaran tentang adab dan kesopanan saat acara berlangsung. Seolah memberikan ruangan yang di khususkan, untuk kaum laki laki duduk terpisah dengan kaum perempuan. Sebaliknya, panel bagian selatan seolah memberikan gambaran, kaum perempuan duduk terpisah dengan pihak laki laki.
 |
Tiga orang laki laki paruh baya |
Di dalam suasana dan ke giatan yang sama, satu panel relief menggambarkan tiga orang laki laki paruh baya, sedang duduk bersila. Pakaian yang di kenakan berupa lembaran kain yang di lilit menggunakan stagen. Laki laki paruh baya paling belakang, sedang menunjuk ke salah satu salah satu tokoh yang di tuakan untuk memimpin upacara ritual adat. Sedangkan lakilaki paruh baya yang berada di bagian tengah, mengulurkan tangan dengan sikap kelima jari terbuka, seolah memberitahukan untuk memulai rangkaian acara. Laki laki paruh baya yang berada di depan, dengan sikap kedua tangan seolah memberi penghormatan sebagai tanda memulainya serangkaian acara ritual. Di depan tokoh yang di tuakan, terdapat obyek berupa bakul dari anyaman bambu yang berisi nasi yang lengkap dengan lauk pauknya. Di atas nasi ada ikan nila bakar, irisan seperempat telur rebus berjumlah dua iris, dan dua tusuk sate.
 |
Relief dua Anak Gadis |
Satu panel menggambarkan ada dua anak gadis yang sedang dalam posisi jongkok. Kedua anak gadis tersebut mengenakan perhiasan berupa anting, gelang dan kalung. Anak gadis yang di depan seolah mengulurkan tangan dan mengacungkan jarinya. Untuk tangan yang satu sedang memegang dua benda yang di duga sendok berbahan baku dari kayu. Dugaan, di depan anak gadis terdapat beberapa pecahan semacam gerabah yang terbelah menjadi 5 bagian. Sikap dari gambaran anak gadis yang berada paling belakang, tangan kanan memegang benda yang sama dengan benda yang di pegang anak gadis yang berada di depan. Tangn kiri memegang sebuah benda yang belum dapat di ketahui jenisnya. Keduanya dalam posisi berjongkok di belakan laki laki paruh baya.
Pada dinding sendang, yang membujur ke arah timur ke barat, terdapat panel hewan berupa burung. Sebenarnya, panel ini terdiri dari tiga ekor burung yang terpasang. Akan tetapi, dengan kenyataanya, jumlah burung hanya ada dua saja. Kemungkinan, panel yang satunya sudah aus atau rusak. Sehingga di haruskan dan disisipkan panel baru tanpa pahatan yang sama. Burung burung tersebut memiliki ekor yang sangat cantik. Secara keseluruhan, ekor ekornya di angkat ke atas. Terdapat bulatan hampir menyerupai bentuk oval pada bagian ujung ekor. Masing masing burung telah membawa sekuntum bunga, yang di cepit menggunakan paruh pada tangkainya. Pahatan detail pada panel ini telah memberitahukan, bahwa hiasan yang terpasang adalah Burung Merak. Itu artinya, burung merak termasuk salah satu hewan endemik yang berada di seputaran sendang pitu cabean kunti. Jenis burung tersebut ikut meramaikan isi alam seputaran cabean kunti.
Di bagian belakang panel yang terpahat relief burung merak, terdapat satu panel dengan gambaran tiga ekor burung. Seolah menggambarkan burung tersebut mempunyai sikap yang tegap dan besar. Ada tiga pahatan relief burung, akan tetapi satu relief mengalami kerusakan yang sangat parah. Sehingga, satu ekor relief burung tidak terlihat bentuk aslinya seara keseluruhan. Hanya meninggalkan pahatan bagian ekor yang memiliki kesamaan dengan ekor burung burung yang berada di belakangnya. Tiga ekor burung seolah sedang membawa hasil buruan. Jika di pahami, hasil buruan paling depan adalah seekor ayam dewasa yang di apit menggunakan paruhya. Burung yang kedua atau burung yang posisinya di tengan, dengan hasil buruan berupa anak ayam yang masih kecil. Untuk burung yang berada di posisi paling belakang, menunjukan hasil buruan seekor ular yang melilit paruh dari burung tersebut. Dengan sikap dan penggambaran demikian, relief tersebut menggambarkan salah satu hewan endemik yang berasal dari seputaran sendang pitu cabean kunti. Adalah tiga ekor elang jawa yang menunjukan exsistensinya di wilayah sendang pitu cabean kunti, dengan hasil buruan yang berbeda beda.
Jadi kesimpulan dari relief sendang lerep menggambarkan aktifitas masyarakat dengan kearifan lokal yang sudah terlaksana pada jaman itu, dan masih menjadi tradisi di beberapa tempat di pulau jawa khususnya. Seperti pulau bali, jawa timur, jawa tengah dan jawa barat, dan beberapa wilayah di DIY atau Daerah Istimewa Yogyakarta. Kearifan lokal berupa acara adat tahunan, yang terlaksana setiap masa musim tanam akan berlangsung, di wariskan dan masih berjalan hingga sampai saat ini. Acara tahunan itu di sebut dengan wiwitan atau awalan. Serangkaian acara selamatan yang dilaksanakan saat musim tanam akan di mulai. Biasanya acara tersebut terselenggara di lahan pertanian atau lahan persawahan. Adalah salah satu kegiatan dengan tujuan mengucap sukur kepada yang maha kuasa, berdoa dengan cara dan budayanya masing masing. Yang isinya tentang kebaikan hasil dari tanaman, di jauhkan dari hama, di jauhkan dari penyakit tanaman, dan di beri keberhasilan saat panen kelak.
 |
| Sendang Kaprawiran |
 |
| Sendang Kaprawiran |
Masih berada di komplek sendang lerep, tepatnya di sisi sebelah selatan, terdapat satu bangunan sendang yang cukup megah. Bangunan sendang tersebut memiliki kesamaan konstruksi dengan sendang jangkang, dan sendang lerep. Sendang Kaprawiran untuk sebutannya, atau sendang ke empat dari ke tujuh bangunan sendang komplek cabean kunti. Bangunan sendang yang di susun menggunakan material bahan baku dari batuan andesit ini, sama sekali tidak memiliki bidang hias seperti relief relief yang mampu menjelaskan sesuatu. Hanya panel 2 antefiks polos yang terdapat pada bagian samping kanan dan samping kiri ujung pagarnya. Terdapat 5 panel kemuncak polos tanpa pahatan relief. Bahkan untuk relief bunga ceplok piring, atau pun bunga seroja, tidak nampak satu pun bagian bagian panel tertentu. Secara keseluruhan, ruang atau media bidang hias kosong. Apakah kemungkinan bangunan sendang ke 4 atau sendang Kaprawiran memang belum jadi secara keseluruhan.
 |
| Sendang Sedayu / Panguripan |
 |
| Sendang Sedayu / Panguripan |
Lepas dari wilayah Desa Cabean Kunti, lebih tepatnya di Dusun Balong, Desa Margomulyo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Kedua wilayah tersebut terpisah dengan adanya sungai sebagai pembatasnya. Di dusun balong, terdapat dua sendang yang masih sekomplek dengan sendang cabean kunti. Akan tetapi, untuk penetapan administrasi keberadaan situs masih satu rangkaian. Jika di urutkan, kedua sendang ini menempati nomor 5 dan ke 6. Masing masing sendang memiliki sebutan sendiri sendiri. Sendang ke 5 memiliki dua sebutan, yaitu Sendang Sedayu atau Sendang Panguripan. Sedangkan sendang nomor 6, warga sekitar menyebutnya sendang Kaputren. Kondisi sendang Panguripan sangat memprihatinkan. Bangunan sendang yang seharusnya memiliki kesamaan dalam segi konstruksi bangunan, harus berupah secara keseluruhan menyerupai bentuk bangunan kolam penampungan. Dengan dinding pembatas menggunakan bahan material cor.
 |
| Sendang Sedayu / Panguripan |
 |
| Sendang Sedayu / Panguripan |
Di bangun berbentuk kotak persegi panjang. Sedangkan untuk panel panel bangunan yang asli dari sendang panguripan tersebar secara acak. Akan tetapi masih dalam lingkup sendang. Untuk konstruksi bangunan sendang ini, sebenarnya memiliki kesamaan dengan konsep bangunan sendang jangkang, sendang lerep dan juga sendang kaprawiran. Sangat terlihat jelas dari pahatan panel panelnya. Sebelum di bangun secara permanen, wujud atau kondisi dari bangunan sendang ini sudah sangat memprihatinkan dan berantakan. Dengan sumber mata air yang keluar dari perut bumi memiliki debit yang sangat besar, warga sekitar bermusyawarah untuk memanfaatkan sumber mata air tersebut untuk keperluan sehari hari. Dari kesepakatan itu, warga membangun dan membuat penampungan secar permanen.
 |
| Sendang Sedayu / Panguripan |
 |
Sendang Sedayu / Panguripan
|
Untuk penempatan panel dari sisa bangunan sendang yang asli, ada 5 titik di seputaran bangunan yang baru. Dan beberapa dari panel panel sisa bangunan, di manfaatkan untuk material bahan bangunan tanggul. Bagian terpenting seperti kemuncak dan antefiks, di tata dalam 2 titik yang berbeda dan masih satu area. Beberapa bagian dari panel bangunan masih berada dan terlihat jelas di dalam kolam penampungan. Sengaja tidak di keluarkan karena panel panel tersebut memiliki berat yang tidak mudah di angkat hanya menggunakan tenaga manusia. Belum dapat di ketahui untuk arah hadap dari bangunan sendang yang satu ini. Jika menurut cerita, bangunan sendang ini memiliki kesamaan arah hadapnya dengan bangunan bangunan sendang yang lainnya. Sumber mata air sendang, berada di sisi sebelah selatan, bagian kolam yang di anggap paling dalam menurut ukuran kedalaman. Dan salah satu pusat keluarnya debit mata air yang paling besar aktifitasnya.
 |
| Sendang Sedayu |
 |
Sendang Sedayu
|
Wilayah ini sebenarnya memiliki cerita yang sama dengan Desa Cabean kunti. Yaitu, tentang tata letak berdirinya bangunan sendang. Memang, perbedaan dengan Desa Cabean kunti, situs di Desa Margomulyo tergolong memiliki jarak yang lumayan berjauhan. Apa lagi Sendang Kedung Mayit. Berada jauh dengan tata letak kedua bangunan sendang ini. Antara sedang sedayu dengan sendang Sembodo. Setelah mengamati dari beberapa obyek terpenting dari bangunan sendang Sedayu. Perjalanan ini berlanjut ke sebuah tempat, yang secara kebetulan kedapatan bangunannya. Berupa sedang dengan konsep kontruksi bangunan yang sedikit agak berbeda.
 |
Sendang Sembodo atau Sendang Suci |
 |
Sendang Sembodo atau Sendang Suci |
Lebih di kenal dengan sebutan sendang sembodo, ada pula yang menyebutkan sendang suci. Semua nama itu mengarah kepada perihal tingkatan sepiritual. Karena, sendang ini adalah sebagai penutup kepada orang orang yang sedang menjalankan lelaku atau perjalanan sepiritual. Tata letak bangunan ini memang agak tersembunyi. Mungkin bagi para pengunjung, jarang sekali mengetahui keberadaan dari pada sendang ini. Bahkan akses untuk mengunjungi sendang ini sangat mudah. Selain tempatnya yang tersembunyi, bangunan sendang ini memiliki keistiewaan tersendiri. Yaitu bangunan yang masih berdiri dengan kokoh, dengan bangunan dinding pembatas bagian tengah, sengaja di desain seolah olah bangunan sendang tersebut memiliki dua tempat.
 |
| Sendang Sembodo |
 |
| Sendang Sembodo |
Sedang di sebelah utara di sebut sendang lanang, sedangkan sendang yang berada di sebelah selatan di sebut sendang wadon. Lanang mau pun wadon, adalah dua kalimat yang berasal dari bahasa jawa yang di maksudkan, sendang untuk baghian laki laki dan sendang untuk bagihan perempuan. Jika kita amati dari segi konsep konstruksi bangunan sendang, leluhur kita pada jaman itu sudah mengenal adab yang luhur. Di bangunnya sendang yang memiliki pagar pembatas atau sekat, seolah memberitahukan bahwa, konsep sendang itu di buat supaya aktifitas saat di sendang tidak berbaur antara laki laki dan perempuan. Lalu kenapa pagar pembatas tidak di bangun sampai ujung depan sendang, supaya benar benar terhalang secara keseluruhan. Pernyataan dari saya pribadi menggambarkan, leluhur kita pada jaman itu masih mengenal yang namanya sakralitas atau kuwalat. Jadi setiap ucapan, perbuatan dari tokoh yang di tuakan, selalu mendapatkan respon yang positif. Dan dengan semestinya perilaku dan perbuatan yang melanggar, atau meyimpang akan benar benar di tinggalkan, sesuai dengan perjalanan nuraninya.
 |
| Sendang Sembodo |
 |
| Sendang Sembodo |
Sembodo, untuk sebutan yang di duga sendang terakhir atau ke tujuh. Kalimat Sembodo berasal dari bahasa jawa yang berarti terkabul. Sembodo, mengalami perubahan bentuk kalimat, akan tetapi memiliki makna yang sama. Yaitu Kasembadan, atau dari kalimat kabul menjadi terkabulkan. Dari kalimat tersebutlah, yang memberikan predikat bahwa sendang ke tujuh ini, atau sendang sembodo ini, adalah akhir dari pencapaian perjalanan sepiritual manusia. Setelah melalui ritul berbagai macam persyaratan, yang memunculkan sebuah rintangan, atau cobaan yang berawal dari sendang pertama menuju sendang tahap terakhir, di nyatakan telah selesai. Sebenarnya keberadaan sendang ini bukan lah akhir dari perjalanan sepiritual. Padahal, untuk mencapai perjalanan sepiritual yang benar benar mutlak, persyaratan yang harus di penuhi, atau persyaratan yang harus di kunjungi bukan di sini. Ada salah satu sendang, jika menurut hitungan, dan menurut segi bangunan, tergolong sendang ke tujunya dari komplek sendag pitu cabean kunti. Memang, sangat jarang sekali sndang ini mendapatkan kunjungan dari orang luar. Kemungkinan besar yang tau akan keberadaan sendang ini hanya penduduk lokal saja. Lebih di kenal dengan sebutan Sendang Kedung Mayit. Memang agak aneh dari pelafalannya, terkesan mistis untuk di dengarnya.
 |
Sendang Kedung Mayit |
 |
Sendang Kedung Mayit |
Padahal, sendang sedayu dan sendang sembodo memiliki tata letak yang sudah tersembunyi. Bahkan hanya beberapa persen pengunjung yang tau dan benar benar faham tentang lokasi keberadaan kedua sendang tersebut. Akan tetapi, di antara sendang pitu cabean kunti, ada sebuah bangunan sendang yang lebih tersembunyi lagi. Masih berada di wilayah Desa Margomulyo, berada di ujung Desa paling selatan. Berdampingan dengan sungai pembatas wilayah. Di bawah rimbunan tanaman bambu di belakang rumah warga. Sendang tersebut memiliki sumber mata air yang cukup melimpah. Selain di manfaatkan oleh warga sekitar, aliran sumber mata air dari sendang tersebut juga di manfaatkan pihak Pondok Pesantren.
 |
Sendang Kedung Mayit |
 |
Sendang Kedung Mayit |
Tidak jauh beda dengan sendang sendang lainnya. Bahwa sendang kedung mayit juga memiliki sumber mata air yang sangat melimpah. Debit air yang di keluarkan dari dalam Perut Bumi sangat besar sekali. Sehingga mampu menyuplai air untuk warga dan lingkungan Pondok Pesantren. Bahkan sisa dari aliran tersebut di manfaatkan untuk mengairi lahan pertanian berupa sawah dan pertanian sayuran. Sendang ini memiliki cerita rakyat yang berbeda, dari sendang pitu cabean kunti. Seolah, sendang ini tidak di anggap keberadaannya dari alur cerita tersebut. Padahal kalau di cermati, bangunan sendang ini merupakah salah satu pelengkap dan akhiran dari sendang pitu cabean kunti.
 |
Sendang Kedung Mayit |
 |
Sendang Kedung Mayit |
Cerita yang beredar tentang sendang kedung mayit, tidak jauh beda dengan sendang sedang lain. Dengan kesamaan tentang kesakralan, dan kemistisan sendang. Di ceritakan bahwa, jika lewat di atas waktu Asyar, atau mendekati waktu Maghrib, warga sekitar di larang melintasi sendang tersebut. Padahal, kebanyakan aktifitas petani saat menggarap lahannya melewati sendang itu. Banyak yang bercerita dari pitutur sesepuh terdahulu. Dengan wejangan yang sudah di sematkan. Dari waktu yang sudah di tentukan, dan harus melewati sendang tersebut, maka orang itu akan mengalami kejadian yang aneh. Di mana kejadian itu akan bertemu dengan ramainya manusia yang berlalu lalang di seputaran sendang. Menggunakan pakaian adat jaman Kerajaan. Gambaran sebuah kegiatan dari cerita itu seolah olah mereka dengan berbagai macam beraktifitasnya di sendang sedang mengambil air menggunakan klenting, atau gentong kecil yang terbuat dari tanah liat, atau gerabah. Ada yang mencuci beras, aktifitas mandi, aktifitas orang pulang dari sawah dan mensucikan diri dari sisa sisa tanah yang menempel pada anggota badan. Mereka hanya terdiam, tanpa adanya tegur sapa, dan tanpa adanya suara yang keluar dari pergerakan mereka. Dari cerita yang beredar luas, warga yang pernah punya pengalaman demikian menceritakan. Dengan menggambarkan anggota bagian tubuh lengkap secara keseluruhan. Akan tetapi, mereka tidak punya muka, tidak ada kening, tidak ada mata, tidak ada hidung dan tidak ada mulut, putih, dan pucat warna kulitnya. Dan jika bejo atau pas apesnya, akan ketemu dengan sosok yang di maksud dalam cerita.
 |
Sendang Kedung Mayit |
 |
Sendang Kedung Mayit |
Pengamatan tertuju pada beberpa komponen dari bangunan sendang kedung mayit, dugaan memiliki kesamaan konsep konstruksi dengan bangunan sendang lain. Dengan kondisi yang memprihatinkan, selain tersebar di seputaran sendang, beberapa komponen dari bangunan sendang telah di manfaatkan untuk bahan bangunan cor. Komponen kompnen tersebut di tata seadanya, lalu dilakukan pengecoran, berbentuk bangunan penampungan air yang baru. Hanya menyisakan panel penghias berupa kemuncak, bagian punggung pagar dengan hiasan antefiks sambungnya. Dengan kondisi dan keadan yang demikian, jika mengamati kontur tanah yang berdinding dugaan bangunan sendang kedung mayit mengalami kerusakan karena roboh.
 |
Sendang Kedung Mayit |
 |
Sendang Kedung Mayit |
Penyebab tanah longsor yang berada di sebelah utara dan sebelah barat. Karena kontur tanah tersebut membentuk huruf " L ". Sehingga memungkinkan bangunan sendang berada di antara sudut tanah. Jadi, ketika longsor itu terjadi, tanh yang dari arah utara dan arah barat longsor secara kebersamaan. Hasil dari longsoran mendesak dan mendorong bangunan dengan kuat. Efek dari dorongan material tanah yang bercampur pasir, menyebabkan beberapa bangunan terkubur dan hanya menyisakan bagian punggung pagar dan hiasan kemuncak saja. Sumber mata air yang paling dominan, dengan debit air yang besar keluar dari sisi tebing sebelah barat. Rimbun dengan serangkaian pohon bambu, rimbun dengan rumput liarnya, berserakan dengan daun keringnya, bercampur dengan kelembaban. Sehingga, membuat tempat tersebut berkesan tidak memberikan kenyamanan. Di tambah lagi dengan cerita rakyat yang beredar luas, membuat tempat ini menyimpan misteri dan mistis.
 |
Sendang Kedung Mayit |
 |
Sendang Kedung Mayit |
Cerita rakyat memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan kearifan lokal suatu daerah. Apakah itu berdampak dengan kehidupan sekarang .. ??? Sangat berdampak sekali, apa lagi cerita itu di kait kaitkan dengan kehidupan masa lalu. Perihal yang tidak ada, seolah olah pernah terjadi. Lebih parahnya lagi, beberapa dari kejadian sangat di yakini, dan di suguhkan dengan peringatan peringatan tiap tahunnya. Padahal, secara analisis dan logika yang tepat, kehidupan masa lalu dalam cerita, semua itu tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi. Keyakinan itu memuncak ketika erita rakyat di bungkus dengan pedoman yang berbau sakral dan mistis. Yang pastinya, kejadian di luar nalar, dengan sikap mengagungkan bakalan terjadi. Mari kita sikapi dengan logika yang normal dan terbuka.
Cerita rakyat itu memiliki kebenaran untuk mempertahankan kearifan lokal suatu daerah. Ingat, hanya kearifan lokal saja, tidak lebih dari itu. Dan cerita rakyat termasuk dalam golongan atau memiliki peran dalam perlindungan Cagar Budaya. Kenapa demikian .. ??? Ketika cerita itu beredar, tersebar luas di kalangan masyarakat, dengan terbungkusnya cerita horor, di balut pula dengan cerita sakral dan mistis. Dari kejadian itu, perasaan takut akan kualat pun terselubung dalam pikiran. Karena doktrin pendahulu kita telah menjadikan Sugesti yang sangat kuat di dalam pribadi masyarakat seutuhnya. Dengan kenyataan yang berjalan telah memberikan pesan setiap masyarakat dan berlanjut kepada orang lain. Seolah itu semua benar terjadi dan berdampak buruk bagi pelanggarnya. Sehingga tak ada seorang pun yang bertingkah dan berani mendatangi, merusak, atau mengambil Situs tersebut. Karena sudah Percaya dengan yang namanya sugesti.
Komentar
Posting Komentar