SENDANG PITU CABEAN KUNTI, KECAMATAN CEPOGO, KABUPATEN BOYOLALI

" BENAR HANYA ADA EMPAT SENDANG SAJA .. ???, YANG LAIN TATA LETAKNYA DI MANA, APAKAH HANYA ORANG TERTENTU SAJA YANG MAMPU MELIHATNYA  .. ???"

Sendang Pitu Cabean Kunti
Penelusuran berawal dari rasa penasaran, hingga di lanjutkan dengan pembuktian. Masih mengadakan kegiatan blusukan di Desa Cabean Kunti, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Mendengar tentang adanya konsep kearifan lokal berupa relief yang terpahat pada sebuah bangunan Klasic. Yaitu susunan dinding pembatas berupa sendang, berbahan material dari batu andesit. Lebih di kenal dengan sebutan sendang pitu cabean kunti, sebuah komplek bangunan sendang yang di jadikan toponimi sebuah wilayah seluas Desa. Banyak kisah cerita yang terjadi di sendang pitu ini, yang di balut dengan legenda, yang berkembang hingga sampai saat ini. Sendang pitu cabean kunti, ternyata juga menyimpan jejak jejak sejarah yang sangat di sakralkan. Adanya kisah legenda yang di bungkus dengan cerita misteri,  membuat suasana sendang tersebut menjadi semakin Exotice. Apa lagi di kaitkannya dua tokoh legenda yang mungkin tidak asing lagi di telinga kita. Sehingga unsur dramatisnya seolah olah semakin nampak nyata. Dua tokoh legenda antara laki laki dan perempuan, telah di sematkan kedua nama tersebut dan di kisahkan saling menjalin hubungan asmara. Antara Jaka Bandung dan Dewi Kunti.

Sendang Pitu Cabean Kunti
Berawal dari perjalanan Jaka Bandung yang sedang melaksanakan perburuan di sebuah wilayah. Terdapat hutan yang sangat lebat, dengan pepohonan yang besar dan tinggi menjulang. Perburuan itu kerap sekali di lakukan oleh Jaka Bandung setelah usai acara triwulanan yang di adakan dari fihak Kerajaan. Acara Triwulanan tersebut mewajibkan atau mengharuskan para prajurit untuk berkumpul  mengadakan pertemuan langsung dengan Sang Raja, yang di adakan setiap tiga bulan sekali. Karena sudah menjadi tradisi secara turun temurun di sebuah Kerajaan.  Isi pertemuan Raja dengan para prajuritnya sudah barang tentu berupa pembekalan, dan latihan perang secara serentak yang digelar di alun alun kota raja. Sesi pembekalan yang di rangkai dengan latihan perang bersama, berlangsung selama tiga hari tiga malam. Di alun alun kota raja, para prajurit yang mengikuti kegiatan sampai selesai. Bahkan para prajurit dan para petinggi militer mendirikan tenda dan bermalam di lingkungan alun alun. Setelah acara tri wulanan selesai, salah satu dari Petinggi militer yang bernama Jaka Bandung meminta ijin kepada sang raja, guna melaksanakan kegiatan berburu dan melatih keterampilan dalam menggunakan Panah. Dengan mengajak beberapa para prajurit yang menguasai tentang bagai mana cara menggunakan senjata panah. Pagi itu, perburuaan besar besaran di laksanakan oleh para pemburu dari kerajaan, pastinya sudah mendapatkan ijin dari sang raja.

Sendang Pitu Cabean Kunti
Sendang Pitu Cabean Kunti
Sesampainya di hutan yang di tuju, tidak seperti pada perburuan yang sudah berlalu. Sampai matahari condong ke barat, tidak ada satu pun binatang buruan melintas. Seolah olah alam sedang memberikan tanda tanda yang kurang menguntungkan. Siang hari semakin beranjak, dan waktu sudah menunjukan sore hari. Jaka Bandung dan Para prajurit beristirahat di bawah rindangnya pepohonan besar hanya untuk sekedar melepas penat dan lelah. Angin berdesir lembut membelai wajah yang penuh dengan peluh. Entah dari mana, nampak dari kejauhan laju seorang wanita berjalan menembus lebatnya hutan rimba. Dengan hati yang tersentak, Jaka Bandung secara tidak sadar mengikuti langkah kecil sosok wanita yang di maksud. Di penghujung jalan, Jaka Bandung melihat sosok wanita yang masuk ke dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, berbentuk panggung, berkerangka dan berpagar dari kayu. Bahkan atapnya pun terbuat dari anyaman ijuk dari serat pohon kolang kaling. Sore berubah menjadi temaram, langit di ujung barat berubah menjadi merah merona. Menunjukan hari sudah hampir gelap menutupi dunia. Para prajurit bergegas pulang ke tenda, dan tidak menghiraukan kepergihan Jaka Bandung yang tidak memberikan keterangan. Di lain sisi, Jaka Bandung beranjak menitih laju langkahnya semakin pelan. Dengan menuju ke sebuah rumah yang berada di tengah hutan belantara. Rasa Penasaran itu membawa dirinya untuk mengetahui lebih lanjut tentang siapa sosok wanita yang berada di dalam rumah tersebut. Dengan langkah kecil tapi pelan, Jaka Bandung berusaha mengetuk salah satu tiang penyangga atap. Menunjukan bahwa tokoh dalam cerita ini ingin mengetahui tentang sosok wanita yang di maksudkan. Akhirnya, wanita itu keluar di temani seorang wanita yang usianya sudah terlihat tua. Di ceritakan, wanita tua dalam kisah cerita ini adalah seorang dayang yang membantu, menjaga, dan melindungi Dewi Kunti.

Sendang Pitu Cabean Kunti
Sendang Pitu Cabean Kunti
Singkat cerita, pertemuan awal menjadi sebuah harapan bagi Jaka Bandung untuk bisa mendekati dan menjalin hubungan asmara, dan berlanjut untuk meminangnya. Dengan berjalannya sang waktu, dari perkenalan menjadi sebuah ajang asmara. Tumbuhlah benih benih cinta yang muncul dari lubuk hati yang paling dalam. Hari berlalu menjadi minggu, minggu beranjak berganti menjadi bulan, dan bulan pun beranjak menjadi tahun. Cita cita Jaka Bandung yang tumbuh dari niatnya telah tersampaikan. Bahwa, Dewi Kunti akan di persunting untuk di jadikan istrinya. Awalnya Dewi Kunti menolak niat ajakan nikah dari Jaka Bandung. Semakin kuat niat dari Dewi Kunti untuk menggagalkan keinginannya, maka semakin kuat perasaan Jaka Bandung untuk meminangnya. Semakin di kekang, benih cinta itu semakin berbunga dalam sanubarinya. Semakin di kejar Dewi Kunti semakin menjauh, dan seolah olah sikap tersebut di anggap memberikan harapan. Semakin terpojoknya dengan keadaan, akhirnya Dewi Kunti menyanggupi ajakan perihal pernikahan itu. Akan tetapi, ada beberapa syarat yang di ajukan oleh Dewi Kunti yang harus di penuhi. Karena persyaratan tersebut di anggap sebagai mas kawin pernikahan. Ada dua syarat yang di ajukan kepada calon suaminya, dan kedua syarat tersebut harus di penuhi. Dan tidak boleh adanya penolakan dari Jaka Bandung. Dari sebuah keyakinan yang berlandaskan kekuatan dan sebuah pengakuan. Bahwa Jaka Bandung adalah seorang tokoh yang sakti, dan mampu memenuhi permintaan itu. Tanpa mendengarkan persyaratan yang di ajukan, dan tanpa berfikir panjang, Jaka Bandung menyanggupi. Padahal, ucapan seorang kesatria pantang untuk di tarik kembali. Karena saking bahagianya lamaran dari Jaka Bandung di terima oleh Dewi Kunti.

Relief Gana
Relief Gana
Permintaan yang pertama di ajukan adalah, ketika menikah tidak ada pesta besar, di adakan sederhana saja dan itu pun harus di rumah mempelai wanita. Tidak boleh mengundang tamu tamu agung dari kerajaan yang di rengkuhnya. Dari permintaan itu, di rasakan ada kejanggalan yang tidak masuk di akal. Akan tetapi, dengan rasa bimbang dan penuh dengan kecurigaan, Jaka Bandung menyanggupinya.

Sendang Pitu Cabean Kunti
Sendang Pitu Cabean Kunti
Untuk permintaan yang kedua, Dewi Kunti mengajukan persyaratan yang tidak biasanya, yang terjadi di kalangan pada umumnya. Yaitu, untuk di buatkan tujuh sendang yang di dalamnya mengalir sumber mata air yang jernih. Dan itu harus terwujud dalam satu malam dan tidak boleh melewati waktu Fajar menyingsing di ufuk timur. Padahal sudah sangat jelas, di daerah tersebut sangat jauh dari aliran sungai mau pun sumber mata air. Dengan dalih, supaya anak turunnya besok tidak kesusahan untuk mencari air di kemudian hari. Setelah di sebutkan persyaratan kedua sebagai mas kawin, ternyata syarat itu berupa tantangan yang di rasa sangat berat. Seolah ada niat yang tidak wajar, yang tidak di inginkan dan itu tidak harus terjadi. Memang ada unsur kesengajaan yang di buat oleh Dewi Kunti. Supaya Jaka Bandung mengurungkan niat melamarnya. Dengan tekat yang sudah matang, Jaka Bandung secara tidak sadar menjawab dan menyanggupinya. Seketika itu, syarat yang ke dua langsung di kerjakan, seolah olah tidak mau menyia nyiakan waktu sedetik pun. Jaka Bandung mulai bergerak mencari sumber mata air di seputaran area rumah itu. Semakin kebingungan dengan permintaan yang kedua, dan sumber mata air belum juga di temukan. Akhir dari sebuah pencarian, kesaktian yang di miliki Jaka Bandung pun di keluarkan. Sikap bersemedi di lakukan untuk memanggil Jin jin penghuni hutan belantara.

Sendang Pitu Cabean Kunti
Guna dimintai bantuan, untuk mencari dan menemukan mata air berjumlah tujuh sumber. Dan memerintahkan para jin untuk membangun sumber sumber tersebut. Menjadi sebuah bangunan sendang yang indah dan megah. Bangsa jin berkumpul dan mematuhi perintah dari Jaka Bandung, seketika itu para jin bergegas untuk mengerjakan perintahnya. Akan tetapi, kejadian itu telah di ketahui oleh Dewi Kunti. Dengan kecurangan yang di lakukan oleh Jaka Bandung, Dewi kunti tidak tinggal diam melihat kejadian ini. Dewi Kunti mencari akal, untuk menggagalkan pekerjaan yang di lakukan oleh bangsa Jin. Dewi Kunti ingat, bahwa jin tidak akan bertahan lama ketika mendengar ayam jantan berkokok, dan lesung untuk menumbuk padi berbunyi. Karena, bunyi bunyian itu menandakan fajar akan mulai menyingsing dari ufuk timur, dan hari sudah menjelang pagi. Cara yang di lakukan untuk menggagalkan pekerjaan jin itu sangat sederhana. Bersama mbok dayang, Dewi Kunti lari ke arah matahari terbit. Di sisi sebelah timur, Dewi Kunti bersama Mbok dayang mengumpulkan dahan dahan kering lalu di bakarnya. Hingga api itu menyala besar, dan menimbulkan warna merah merona dari bagian timur. Keduanya bergegas pulang ke rumah dan membunyikan lesung secara bersahut sahutan. Di waktu itu, ayam pejantan mulai berkokok keras, seolah olah waktu menjelang pagi itu sudah terjadi. Dari semua akal akalan Dewi Kunti, para jin berhenti mengerjakan tugas dari Jaka Bandung. Mereka pulang ke alamnya, dan menyatu dengan pohon pohon besar, bernaung supaya terhindar dari sengatan terik matahari pagi. Mulai dari sinilah, Jaka Bandung tak kuasa menahan kesedihan, karena pekerjaan yang sudah hampir selesai terbengkalai sia sia. Akhirnya, sarat yang kedua gagal di jalankan, karena pernikahan tersebut tidak akan pernah terjadi. Jaka Bandung putus asa dengan keadaan, berlalu dan beranjak pergi meninggalkan Dewi Kunti. Dia kembali kekerajaan dan tidak pernah bertemu dengan sosok Dewi Kunti lagi.

Sendang Jangkang & Sidotopo
Dari cerita rakyat itu, memang memiliki pesan moral yang secara langsung di sampaikan kepada kita.  Pesan moral untuk mendidik adab, supaya berbudaya, dan memiliki jati diri ketika dinyatakan sebagai orang yang berilmu. Tidak boleh serta merta mengeluarkan putusan, seolah olah memiliki kemampuan di atas segalanya. Ingat, orang pintar bukan berarti pintar, dan orang bodoh tidak selamanya bodoh.

Sekelumit cerita rakyat yang mampu bertahan hingga sampai saat ini. Menunjukan bahwa bukti kearifan lokal mampu dan memiliki peranan untuk melindungi, melestarikan Cagar Budaya di Nusantara.       

Sendang Jangkang
Sendang Sido Topo
Komplek sendang pitu yang pertama atau Sendang Jangkang, dan Sendang Sidotopo yang kedua, terpisah adanya jalan penghubung dua wilayah pedesaan, antara Desa Cabean Kunti dengan Desa Gunungmijil. Walau pun masih satu komplek, Sendang ke tiga yang di sebut Sendang Lerep dan sendang ke empat, sendang Kaprawiran berada di sisi barat jalan, sedangkan untuk Sendang Jangkang dan Sendang Sido topo berada di sisi timur jalan. Ke empat sendang tersebut masih dalam satu komplek. Hanya sendang ke 5, 6, dan ke 7 yang di bangun secara terpisah. Sendang Jangkang dan sendang Sido Topo, memiliki perbedaan dalam segi konsep bangunannya. Perbedaan itu sangat terlihat jelas pada ukuran panjang dan lebar keduanya. Sendang Jangkang cenderung memiliki bangunan yang sangat mewah dengan tampilan pagar pembatas. Dengan panel penghias pada bagian punggung pagar, seperti susunan antefiks dan susunan panel dari kemuncak atau mustaka. Sedangkan untuk sendang sidotopo memiliki ukuran berbentuk bujur sangkar, hampir menyerupai bangunan sumur kuno. Tanpa adanya bangunan pembatas yang berdiri, dan hiasan di setiap sisi sudutnya. Jika melihat konsep bangunan sendang sidotopo, mengingatkan bentuk bangunan ini hampir memiliki kesamaan konsep dengan bangunan Sumur Songo yang berada di Desa Candi Gatak.

Sendang Jangkang
Batu Pasujudan PB X
Di antara kedua bangunan sendang, terdapat sebuah batu yang hampir membentuk kotak Jajar Genjang. Batu tersebut sangat di keramatkan oleh warga masyarakat sekitar. Dan di yakini bahwa, batu tersebut merupakan pasujudan Kanjeng Sunan Kalijaga, yang selanjutnya di pergunakan dalam melaksanakan sholat oleh Kanjeng Sinuhun Pakubuwono Ke 7, berlanjut kepada beliau Kanjeng Sinuhun Pakubuwono ke VIII, IX dan ke X. Batu pasujudan tersebut yang memisahkan di antara sendang Jangkang dan Sendang Sidotopo. Seolah menjadi fungsi kesakralan atas kenaikan derajat atau kenaikan level sepiritualitas manusia. Karena, tata letaknya yang berada di antara kedua sendang tersebut. Dengan adanya cerita yang demikian, komplek sendang cabean kunti semakin terasa sangat kental dengan kesakralannya. Konon ceritanya, jika ingin menaikan pamor dalam kehidupan, kususnya bagi pelaku sepiritual di wajibkan untuk mandi di sendang pitu. Sebagai awalan, mandi di sendang Jangkang terlebih dahulu, di lanjutkan ke sendang sidotopo, hingga berlanjut sampai sendang Kaprawiran. Maka, pamor dari pelaku sepiritual akan meningkat dengan syarat syarat tersebut. Mandi yang di sertai dengan perjalanan sepiritual, dan persyaratan itu harus dilakukan tengah malam di atas jam 12. Dari cerita yang beredar di kalangan masyarakat, bahwa setiap sendang memiliki keistimewaan masing masing. Ada yang mempunyai pengalaman, kalau di rasakan saat meminum air dari sendang Cabean Kunti, memiliki rasa yang berbeda beda, walau pun terlihat dari warna air, kondisi air, jernihnya air secara nyata itu sama.

Sendang Lerep

Ada yang berpendapat, bahwa sendang  yang ketiga, atau Sendang Lerep untuk sebutannya, masih berada dalam lingkungan satu komplek dengan sendang jangkang dan sendang sidotopo. Keberadaan sendang itu mepet dengan vondasi jalan penghubung dua wilayah. Sama sama memiliki sumber mata air sendiri, artinya sumber mata air tersebut tidak saling terhubung dari sendang sendang yang lainnya. Konsep bangunan yang tidak memiliki kesamaan seperti bangunan bangunan sendang lainnya. Yang memiliki serangkaian panel seperti sendang jangkang dan sendang Sido Topo. Melainkan, sendang yang satu ini seolah olah di buat dengan sengaja dan sangat sederhana sekali. Tanpa konsep bentuk bangunan, tanpa komponen penghias, dengan denah yang tidak beraturan. Berkesan seperti penampungan air yang terjadi secara alamiah yang di sebabkan oleh faktor alam. Memang ada beberapa panel panel dari sebuah bangunan yang terletak di bibir sendang. Yang membuat sendang tersebut seolah olah belum selesai di buat, dan berkesan seperti sendang yang benar benar kuno dalam segi usianya. Kalau di amati secara detail, sebenarnya panel panel tersebut menunjukan bagian dari sebuah komponen bangunan pagar. Yang tata letaknya berada pada bagian punggung pagar pembatas yang mengelilingi sendang. Dugaan sementara, panel panel tersebut merupakan salah satu bagian dari kedua sendang, antara Sendang Jangkang, atau Sendang Sidotopo.
  
Sendang Sido Topo

Keseluruhan sendang, berada di bawah pepohonan yang memiliki batang pokok keras. Dengan ukuran diameter lingkar yang sangat besar. Sehingga membuat suasana atau lokasi keberadaan sendang itu terkesan sangat sejuk, nyaman dan tentram. Banyak yang berpendapat bahwa, sendang ini sangat cocok bagi para tokoh tokoh yang sedang belajar tentang sepiritual. Apa lagi yang sedang menjalankan ritual ritual untuk meningkatkan tahapan yang di tuntutnya. Sendang ini memberikan manfaat dengan energi dari alam yang bisa di rasakan. Seperti sebuah ketenangan, yang mungkin bisa menbantu saat prosesi pengamalan sebuah ritual. Membantu menenangkan hati, ketika menerima gangguan dari pikiran yang kurang fokus pada sebuah ikatan. Membantu mendinginkan kepala, saat memikirkan kejadian yang di anggap bisa menggugurkan perjalanan ritual. 
 
Sendang Jangkang

Sendang Sido Topo

Sendang Sido Topo

Sendang jangkangSendang Sidotopo, Sendang Lerep, Sendang Kaprawiran, Sendang Panguripan, Sendang Kaputren, Sendang Pengantin, dan Sendang Semboda adalah nama nama sebutan dari sendang pitu. Banyak yang menyebutkan, bahwa sendang pitu cabean kunti tidak sama seperti yang di sampaikan oleh beberapa cerita yang beredar. Akan tetapi, beberapa dari cerita tersebut memiliki kemungkinan dengan unsur kesengajaan untuk di sembunyikan keberadaannya. Karena dengan cara seperti itu, sendang sendang yang jarang terpublikasi, akan terasa aman dari sentuhan para pengunjung dari luar. Tidak di harapkan, sendang sendang tersebut akan rusak pada akhirnya.

Sendang Cabean Kunti

Sendang pitu cabean kunti, memang memiliki cerita rakyat, dan cerita mistis dari berbagai fersi. Konon ceritanya di hari hari tertentu, lebih tepatnya di atas waktu tengah malam. Jika memang benar benar di hari keberuntungan, akan di perlihatkan sesosok wanita cantik. Kemunculannya bukan turun dari atas, melainkan keluar dari batang pohon yang besar, yang berada disisi sendang utama. Berjalan layaknya manusia biasa, sosok tersebut diringi perwujudan wanita dengan usia yang sudah tua. Sosok wanita cantik yang menggunakan ageman seperti halnya seorang puteri dari Kerajaan. Gambaran yang pernah di ceritakan, wanita itu berambut panjang dan di biarkan terurai. Dengan memakai mahkota kecil berbahan emas, sebagai penghias kepala bagian depannya saja. Ageman untuk pakaian menggunakan kemben dari kain yang berwarna hijau. Untuk bawahan yang di pakai sosok tersebut menggunakan Jarik lurik dengan di lilit menggunakan Bengkung, setagen atau kendit. Dan di lilit ulang menggunakan sabuk yang konon ceritanya berbahan dari emas. Bagian samping kanan dan kiri pinggang terdapat hiasan sampur atau selendang, yang ikut terlilit bersamaan bengkung dan sabuk emasnya. Sampur atau selendang itu memiliki warna yang sama dengan kemben yang di kenakan. Hiasan pada bagian tubuh terdapat dua anting anting yang menghiasi bagian daun telinga dengan bahan logam mulia berupa emas. Kalung yang besar, tergantung pada bagian leher berbahan dari logam mulia. Dengan hiasan mata kucing berupa permata yang berada di bagian tengah kalung tersebut. Dua kelat bahu yang terpasang pada kedua lengan, gelang yang terpasang di kedua tangan, dan mengenakan cincin di antara jari bagian tengahnya. Menggunakan gelang kaki dengan motif yang sama, dengan berbahan logam mulia berupa emas.

Sendang Lerep

Sedangkan gambaran sosok wanita tua mengenakan ageman jarik lurik, lengkap dengan kemben berwarna hitam, dengan motif garis lurus pada bagian sisi kain berwarna emas. Bersanggul atau bergelung dengan hiasan konde motif setangkai bunga, yang terbuat dari bahan emas. Daun telinga berhias dua anting, dua kelat bahu yang menghiasi bagian lengan, dua perhiasan yang melingkar di pergelangan tangannya. Secara keseluruhan, perhiasan yang di pakai berbahan dari Emas. Sosok wanita tua ini berjalan di sisi samping kanan agak kebelakang. Dengan membawa tungku dari gerabah, yang berisi arang yang mengeluarkan asap dengan aroma wangi wangian bunga. Kedua sosok ini berjalan dari sendang yang pertama, hingga menuju ke sendang yang ke empat. Selebihnya menghilang dengan menyusuri lorong waktu di gelapnya malam. Cerita tentang apa yang di lakukan oleh kedua sosok itu ketika berada di sendang. Tidak melakukan kegiatan apa apa, kedua sosok tersebut hanya memutari sendang sebanyak satu kali putaran. Bahkan tanpa menyentuh air, atau tanpa ada aktifitas yang berkaitan dengan sendang. Akan tetapi, ada satu hal yang menurut kesadaran mungkin memiliki perasaan yang sama. Ketika mengunjungi sendang tersebut, seolah olah kita bisa ikut merasakan aktifitas di kehidupa kala itu. Didukung pepohonan dengan batang yang besar, tinggi menjulang, suasana sunyi dan gemercik aliran sungai yang mengalir. Semua terasa ketika renungan itu tertuju pada sebuah obyek, yang seolah olah memberikan informasi tentang kemegahannya. Dengan melihat detail beberapa hiasan berupa relief yang terpahat lengkap pada bangunan sendang. Seolah olah, pahatan relief menghipnotis pikiran dan membawa kita kedunianya.

Sendang Jangkang

Gambaran relief yang memberikan keterangan tentang kehidupan alam bebas dan kesibukan masyarakat pada jaman itu. Kehidupan alam yang memberikan gambaran lengkap dengan satwa liarnya.  Hasil dari alam melalui tahap pengelolaan oleh masyarakat yang menjadi bahan pangan. Rasa gemah ripah loh jinawi terpancar pada setiap pahatan pahatan relief, dan sangat bisa dirasakan kedamaiannya kala itu. Gambaran dalam relief yang terpahat pada salah satu bangunan dinding sendang, kehidupan masyarakat pada masa itu adalah bercocok tanam. Mengelola bumi sesuai dengan apa yang di harapkan demi mewujudkan ketahanan pangan. Relief relief tersebut terpasang rapi berjajar sesuai dengan konsep bangunannya.

Ada relief Ghana sendang ke tiga atau sendang Lerep

Relief Ghana
Relief Ghana

Relief Ghana terpasang pada dinding pagar bagian depan, yang terdapat di ujung pagar sisi kiri dan sisi kanan. Sosok Ghana merupakan makhluk kahyangan, akan tetapi bukan sosok Dewa. Ghana memiliki perawakan kecil atau kerdil. Tidak tinggi besar seperti makhluk kahyangan pada umumnya. Tidak pula berperawakan tinggi sejajar seperti manusia pada umumnya. Kecil, kerdil dengan tubuh gempal, perut buncit, dengan sikap jongkok, kedua tangan  sedang mengangkat beban berupa bangunan Candi. Wajah yang menakutkan merupakan simbol untuk mengusir roh jahat. Gestur dan bentuk Gana berbeda beda, sesuai dengan kearifan lokal daerah tersebut. Dalam keyakinan hindu, gana adalah pelayan dewa siwa yang tinggal di Gunung Kailash. Menunjukan bahwa, relief gana memiliki makna dengan arti penolak balak. Menggunakan hiasan berupa dua gelang tangan dan dua gelang kaki. Mengenakan kain penutup yang di lilitkan melingkar di bawah perut sampai di atas lutut.

Relief bunga Seroja

Relief Bunga Seroja
Relief Bunga ceplok piring








Sedangkan untuk relief pagar pembatas sendang, setiap dinding luar bagian sisi utara, sisi barat, dan sisi selatan, terpahat hiasan berupa tiga kuntum bunga yang berbeda beda. Untuk bagian sisi utara terpahat tiga kuntum bunga ceplok piring di dalam bingkai. Pahatan bunga tersebut memenuhi media bingkai yang di terapkan. Untuk bagian sisi barat, terdapat pahatan bunga ceplok piring yang sama sama di dalam bingkai. Bingkai yang berhias tanaman suluran bagian dalam, dan masih mengikuti bentuk dari  pada pahatan bunga yang di maksud. Setiap pahatan bunga, seolah olah menggambarkan jenis jenis tumbuhan endemik yang pernah tumbuh di wilayah sini. Dalam pahatan relief sebuah bangunan klasic, entah itu petirtaan mau pun bangunan candi, akan di munculkan pahatan berupa relief yang menggambarkan keadaan sekitar. Keadaan masyarrakatnya, gambaran dari segi kegiatan masyarakat, gambaran dari segi lingkungannya, dan gambaran dari segi alam dan isinya.

Bunga ceplok piring
Berbingkai Tanaman Suluran
Selain jenisa pahatan flowra berupa bunga bungaan, pahatan relief yang berada pada bagian penghias pagar lainnya seperti suluran termasuk ikut meramaikan bidang hias petirtaan cabean kunti. Suluran adalah tumbuhan endemik yang menjadi ciri khas tanaman dataran rendah, yang berada di lereng pegunungan mau pun dataran rendah yang bukan wilayah pegunungan. Tanaman jenis ini sangat mudah di jumpai di wilayah mana pun. Saking mudahnya di dapat, leluhur pada jaman itu ikut mencantumkan pahatan, atau mengikut sertakan tanaman suluran untuk di jadikan media penghias pada bangunan klasic. Relief relief penggambaran tanaman tersebut ikut di tampilkan pada bangunan bangunan candi yang berada di seluruh wilayah jawa tengah. Seolah tanaman itu memang ciri khas tanaman endemik yang tumbuh liar di wilayah jwa tengah.

Bidang hias yang terdapat pada dinding pagar petirtaan terbagi dua bagian. Kususnya bidang hias bagian dalam pagar. Yang mendapatkan sekat pembatas sebuah relung dalam untuk penempatan arca. Untuk bidang hias dalam bagian sisi utara, terpahat jajaran satwa liar berupa burung burung berbagai jenis.

Relief Burung Kaka Tua
Dinding selatan bagian dalam sisi depan terdapat relief tiga ekor burung dengan paruh berbentuk bengkok, kuat dan melengkung ke bawah. Sedangkan paruh bagian atas lebih panjang, jika di banding dengan paruh bagian bawah. Paruh dengan bentuk yang demikian menunjukan bahwa, burung terebut adalah pemakan biji bijian dengan kulit yang keras. Burung Kakaktua di gambarkan dengan sikap seolah ingin terbang dengan terbukanya kedau sayap. Dengan membawa sekuntum bunga gandum, dengan cara menjepit tangkainya menggunakan kedua paruhnya. Pernyataan demikian memberikan keterangan, selain beras sebagai bahan makanan pokok utama yang di hasilkan dari pertanian, masyarakat pada jaman itu juga menanam gandum untuk memenuhi  sumber pangan yang ke dua sebagai pendukungnya. Sedangkan untuk burung kakaktua, adalah hewan jenis burung  endemik wilayah sekitar.

Relief Burung Bangau
Hewan atau burung yang satu ini, adalah gambaran seekor burung dengan paruh yang panjang dan kuat. Paruh dengan desain demikian, biasanya terdapat pada seekor burung yang sering mencari makan dilahan basah seperti persawahan dan rawa. Bentuk paruh yang demikian sangat efisien untuk berburu katak, ikan serta serangga di lumpur.  Dengan detailnya pahatan, dengan perawakan yang demikian, hewan yang di maksud adalah seekor burung bangau. Relief tersebut seharusnya memiliki kesamaan jumlah dengan relief di bagian panel lainnya. Akan tetapi, salah satu panel telah mengalami kerusakan yang sangat parah, dan tidak memungkinkan untuk di pasang kembali. Sehingga mengharuskan panel tersebut harus di ganti dengan menyisipkan batuan polos tanpa pahatan sebagai pengganti bidang hiasnya. Kedua burung tersebut terpahat dengan sikap sedang mencari makan di area persawahan. Setiap burung mendapatkan hasil buruan yang berbeda.  Satu burung bangau mendapatkan hasil buruan berupa seekor katak. Sedangkan satu burung bangau mendapatkan hasil buruan berupa satu ekor ikan kecil. 

Relief Dua Anak laki laki
Tiga Orang Wanita
yang sudah tua
Jika melihat bidang hias berupa panel ini, seolah sedang menceritakan suatu kegiatan yang sudah berjalan. Kegiatan yang menggambarkan serangkaian ritual tahunan untuk menyambut dan memeriahkan suatu acara dengan konsep selamatan atau makan bersama. Selain terpahat dua orang anak laki laki dengan pahatan sikap jongkok. Anak laki laki paling tua usianya, berjongkok di depan salah satu anak laki laki yang usianya lebih muda. Di gambarkan sedang memegang sebuah benda ditangan sebelah kiri. Sedangkan untuk anak laki laki dengan usia muda, dengan sikap jongkok berada di belakang anak laki laki yang usianya lebih tua. Salah satu sikap tangan bagian kanan seolah sedang menyentuh pinggang anak laki laki di depannya. Keduanya berjongkok di belakang tiga wanita yang usianya lebih tua dari mereka berdua. Ketiga wanita tua tersebut di gambarkan dengan sikap duduk, melipat ke dua kakinya ke belakang menyamping. Menumpangkan salah satu tangan bagian kanan di atas pahanya masing masing. Di hadapan ketiga wanita yang tua, terdapat alat rumah tangga berupa bakul dari anyaman bambu yang berukuran besar. Bakul tersebut berisi nasi yang lengkap dengan lauk pauknya. Hanya terlihat dua lauk yang berbeda, berupa 3 ekor ikan munjahir yang bakar, dan 4 tusuk sate. 

Relung tengah
Penempatan Arca
Relung tengah penempatan sosok arca, dengan kondisi demikian blm dapat di ketahui sosok arca yang bernaung di dalamnya. Dan bangunan relung  seharusnya terdapat relief berupa, kala makara, punggung naga, dan kepala kala penghias atas relung. Yang terlihat hanya satu penghias bagian kanan berupa punggung naga. Untuk panel penghias lainnya, kemungkinan rusak sehingga di haruskan untuk di ganti dengan panel baru berupa batuan polos tanpa, bidang hias yang terukir. Bagian relung ini juga berfungsi sebagai dinding pemisah dengan panel bagian sisi utara. Dan memberikan gambaran tentang adab dan kesopanan saat acara berlangsung. Seolah memberikan ruangan yang di khususkan, untuk kaum laki laki duduk terpisah dengan kaum perempuan. Sebaliknya, panel bagian selatan seolah memberikan gambaran, kaum perempuan duduk terpisah dengan pihak laki laki.

Tiga orang laki laki
paruh baya
Di dalam suasana dan ke giatan yang sama, satu panel relief menggambarkan tiga orang laki laki paruh baya, sedang duduk bersila. Pakaian yang di kenakan berupa lembaran kain yang di lilit menggunakan stagen. Laki laki paruh baya paling belakang, sedang menunjuk ke salah satu salah satu tokoh yang di tuakan untuk memimpin upacara ritual adat. Sedangkan lakilaki paruh baya yang berada di bagian tengah, mengulurkan tangan dengan sikap kelima jari terbuka, seolah memberitahukan untuk memulai rangkaian acara. Laki laki paruh baya yang berada di depan, dengan sikap kedua tangan seolah memberi penghormatan sebagai tanda memulainya serangkaian acara ritual. Di depan tokoh yang di tuakan, terdapat obyek berupa bakul dari anyaman bambu yang berisi nasi yang lengkap dengan lauk pauknya. Di atas nasi ada ikan nila bakar, irisan seperempat telur rebus berjumlah dua iris, dan dua tusuk sate.

Relief dua
Anak Gadis
Satu panel menggambarkan ada dua anak gadis yang sedang dalam posisi jongkok. Kedua anak gadis tersebut mengenakan perhiasan berupa anting, gelang dan kalung. Anak gadis yang di depan seolah mengulurkan tangan dan mengacungkan jarinya. Untuk tangan yang satu sedang memegang dua benda yang di duga sendok berbahan baku dari kayu. Dugaan, di depan anak gadis terdapat beberapa pecahan semacam gerabah yang terbelah menjadi 5 bagian. Sikap dari gambaran anak gadis yang berada paling belakang, tangan kanan memegang benda yang sama dengan benda yang di pegang anak gadis yang berada di depan. Tangn kiri memegang sebuah benda yang belum dapat di ketahui jenisnya. Keduanya dalam posisi berjongkok di belakan laki laki paruh baya.

Relief Burung Merak
Pada dinding sendang, yang membujur ke arah timur ke barat, terdapat panel hewan berupa burung. Sebenarnya, panel ini terdiri dari tiga ekor burung yang terpasang. Akan tetapi, dengan kenyataanya, jumlah burung hanya ada dua saja. Kemungkinan, panel yang satunya sudah aus atau rusak. Sehingga di haruskan dan disisipkan panel baru tanpa pahatan yang sama. Burung burung tersebut memiliki ekor yang sangat cantik. Secara keseluruhan, ekor ekornya di angkat ke atas. Terdapat bulatan hampir menyerupai bentuk oval pada bagian ujung ekor. Masing masing burung telah membawa sekuntum bunga, yang di cepit menggunakan paruh pada tangkainya. Pahatan detail pada panel ini telah memberitahukan, bahwa hiasan yang terpasang adalah Burung Merak. Itu artinya, burung merak termasuk salah satu hewan endemik yang berada di seputaran sendang pitu cabean kunti. Jenis burung tersebut ikut meramaikan isi alam seputaran cabean kunti.

Di bagian belakang panel yang terpahat relief burung merak, terdapat satu panel dengan gambaran tiga ekor burung. Seolah menggambarkan burung tersebut mempunyai sikap yang tegap dan besar. Ada tiga pahatan relief burung, akan tetapi satu relief mengalami kerusakan yang sangat parah. Sehingga, satu ekor relief burung tidak terlihat bentuk aslinya seara keseluruhan. Hanya meninggalkan pahatan bagian ekor yang memiliki kesamaan dengan ekor burung burung yang berada di belakangnya. Tiga ekor burung seolah sedang membawa hasil buruan. Jika di pahami, hasil buruan paling depan adalah seekor ayam dewasa yang di apit menggunakan paruhya. Burung yang kedua atau burung yang posisinya di tengan, dengan hasil buruan berupa anak ayam yang masih kecil. Untuk burung yang berada di posisi paling belakang, menunjukan hasil buruan seekor ular yang melilit paruh dari burung tersebut. Dengan sikap dan penggambaran demikian, relief tersebut menggambarkan salah satu hewan endemik yang berasal dari seputaran sendang pitu cabean kunti. Adalah tiga ekor elang jawa yang menunjukan exsistensinya di wilayah sendang pitu cabean kunti, dengan hasil buruan yang berbeda beda.
Panel Seperangkat Kemuncak

Jadi kesimpulan dari relief sendang lerep menggambarkan aktifitas masyarakat dengan kearifan lokal yang sudah terlaksana pada jaman itu, dan masih menjadi tradisi di beberapa tempat di pulau jawa khususnya. Seperti pulau bali, jawa timur, jawa tengah dan jawa barat, dan beberapa wilayah di DIY atau Daerah Istimewa Yogyakarta. Kearifan lokal berupa acara adat tahunan, yang terlaksana setiap masa musim tanam akan berlangsung, di wariskan dan masih berjalan hingga sampai saat ini. Acara tahunan itu di sebut dengan wiwitan atau awalan. Serangkaian acara selamatan yang dilaksanakan saat musim tanam akan di mulai. Biasanya acara tersebut terselenggara di lahan pertanian atau lahan persawahan. Adalah salah satu kegiatan dengan tujuan mengucap sukur kepada yang maha kuasa, berdoa dengan cara dan budayanya masing masing. Yang isinya tentang kebaikan hasil dari tanaman, di jauhkan dari hama, di jauhkan dari penyakit tanaman, dan di beri keberhasilan saat panen kelak.

Sendang Kaprawiran
Sendang Kaprawiran
Masih berada di komplek sendang lerep, tepatnya di sisi sebelah selatan, terdapat satu bangunan sendang yang cukup megah. Bangunan sendang tersebut memiliki kesamaan konstruksi dengan sendang jangkang, dan sendang lerep. Sendang Kaprawiran untuk sebutannya, atau sendang ke empat dari ke tujuh bangunan sendang komplek cabean kunti. Bangunan sendang yang di susun menggunakan material bahan baku dari batuan andesit ini, sama sekali tidak memiliki bidang hias seperti relief relief yang mampu menjelaskan sesuatu. Hanya panel 2 antefiks polos yang terdapat pada bagian samping kanan dan samping kiri ujung pagarnya. Terdapat 5 panel kemuncak polos tanpa pahatan relief. Bahkan untuk relief bunga ceplok piring, atau pun bunga seroja, tidak nampak satu pun bagian bagian panel tertentu. Secara keseluruhan, ruang atau media bidang hias kosong. Apakah kemungkinan bangunan sendang ke 4 atau sendang Kaprawiran memang belum jadi secara keseluruhan.

Sendang Sedayu / Panguripan
Sendang Sedayu / Panguripan
Lepas dari wilayah Desa Cabean Kunti, lebih tepatnya di Dusun Balong, Desa Margomulyo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Kedua wilayah tersebut terpisah dengan adanya sungai sebagai pembatasnya. Di dusun balong,  terdapat dua sendang yang masih sekomplek dengan sendang cabean kunti. Akan tetapi, untuk penetapan administrasi keberadaan situs masih satu rangkaian. Jika di urutkan, kedua sendang ini menempati nomor 5 dan ke 6. Masing masing sendang memiliki sebutan sendiri sendiri. Sendang ke 5 memiliki dua sebutan, yaitu Sendang Sedayu atau Sendang Panguripan. Sedangkan sendang nomor 6, warga sekitar menyebutnya  sendang Kaputren. Kondisi sendang Panguripan sangat memprihatinkan. Bangunan sendang yang seharusnya memiliki kesamaan dalam segi konstruksi bangunan, harus berupah secara keseluruhan menyerupai bentuk bangunan kolam penampungan. Dengan dinding pembatas menggunakan bahan material cor.

Sendang Sedayu / Panguripan
Sendang Sedayu / Panguripan
Di bangun berbentuk kotak persegi panjang. Sedangkan untuk panel panel bangunan yang asli dari sendang panguripan tersebar secara acak. Akan tetapi masih dalam lingkup sendang. Untuk konstruksi bangunan sendang ini, sebenarnya memiliki kesamaan dengan konsep bangunan sendang jangkang, sendang lerep dan juga sendang kaprawiran. Sangat terlihat jelas dari pahatan panel panelnya. Sebelum di bangun secara permanen, wujud atau kondisi dari bangunan sendang ini sudah sangat memprihatinkan dan berantakan. Dengan sumber mata air yang keluar dari perut bumi memiliki debit yang sangat besar, warga sekitar bermusyawarah untuk memanfaatkan sumber mata air tersebut untuk keperluan sehari hari. Dari kesepakatan itu, warga membangun dan membuat penampungan secar permanen.

Sendang Sedayu / Panguripan
Sendang Sedayu / Panguripan
Untuk penempatan panel dari sisa bangunan sendang yang asli, ada 5 titik di seputaran bangunan yang baru. Dan beberapa dari panel panel sisa bangunan, di manfaatkan untuk material bahan bangunan tanggul. Bagian terpenting seperti kemuncak dan antefiks, di tata dalam 2 titik yang berbeda dan masih satu area. Beberapa bagian dari panel bangunan  masih berada dan terlihat jelas di dalam kolam penampungan. Sengaja tidak di keluarkan karena panel panel tersebut memiliki berat yang tidak mudah di angkat hanya menggunakan tenaga manusia. Belum dapat di ketahui untuk arah hadap dari bangunan sendang yang satu ini. Jika menurut cerita, bangunan sendang ini memiliki kesamaan arah hadapnya dengan bangunan bangunan sendang yang lainnya. Sumber mata air sendang, berada di sisi sebelah selatan, bagian kolam yang di anggap paling dalam menurut ukuran kedalaman. Dan salah satu pusat keluarnya debit mata air yang paling besar aktifitasnya.

Sendang Sedayu
Sendang Sedayu
Wilayah ini sebenarnya memiliki cerita yang sama dengan Desa Cabean kunti. Yaitu, tentang tata letak berdirinya bangunan sendang. Memang, perbedaan dengan Desa Cabean kunti, situs di  Desa Margomulyo tergolong memiliki jarak yang lumayan berjauhan. Apa lagi Sendang Kedung Mayit. Berada jauh dengan tata letak kedua bangunan sendang ini. Antara sedang sedayu dengan sendang Sembodo. Setelah mengamati dari beberapa obyek terpenting dari bangunan sendang Sedayu. Perjalanan ini berlanjut ke sebuah tempat, yang secara kebetulan kedapatan bangunannya. Berupa sedang dengan konsep kontruksi bangunan yang sedikit agak berbeda.

Sendang Sembodo atau
Sendang Suci
Sendang Sembodo atau
Sendang Suci
Lebih di kenal dengan sebutan sendang sembodo, ada pula yang menyebutkan sendang suci. Semua nama itu mengarah kepada perihal tingkatan sepiritual. Karena, sendang ini adalah sebagai penutup kepada orang orang yang sedang menjalankan lelaku atau perjalanan sepiritual. Tata letak bangunan ini memang agak tersembunyi. Mungkin bagi para pengunjung, jarang sekali mengetahui keberadaan dari pada sendang ini. Bahkan akses untuk mengunjungi sendang ini sangat mudah. Selain tempatnya yang tersembunyi, bangunan sendang ini memiliki keistiewaan tersendiri. Yaitu bangunan yang masih berdiri dengan kokoh, dengan bangunan dinding pembatas bagian tengah, sengaja di desain seolah olah bangunan sendang tersebut memiliki dua tempat.

Sendang Sembodo
Sendang Sembodo
Sedang di sebelah utara di sebut sendang lanang, sedangkan sendang yang berada di sebelah selatan di sebut sendang wadon. Lanang mau pun wadon, adalah dua kalimat yang berasal dari bahasa jawa yang di maksudkan, sendang untuk baghian laki laki dan sendang untuk bagihan perempuan. Jika kita amati dari segi  konsep konstruksi bangunan sendang, leluhur kita pada jaman itu sudah mengenal adab yang luhur. Di bangunnya sendang yang memiliki pagar pembatas atau sekat, seolah memberitahukan bahwa, konsep sendang itu di buat supaya aktifitas saat di sendang tidak berbaur antara laki laki dan perempuan. Lalu kenapa pagar pembatas tidak di bangun sampai ujung depan sendang, supaya benar benar terhalang secara keseluruhan. Pernyataan dari saya pribadi menggambarkan, leluhur kita pada jaman itu masih mengenal yang namanya sakralitas atau kuwalat. Jadi setiap ucapan, perbuatan dari tokoh yang di tuakan, selalu mendapatkan respon yang positif. Dan dengan semestinya perilaku dan perbuatan yang melanggar, atau meyimpang akan benar benar di tinggalkan, sesuai dengan perjalanan nuraninya.

Sendang Sembodo
Sendang Sembodo
Sembodo, untuk sebutan yang di duga sendang terakhir atau ke tujuh. Kalimat Sembodo berasal dari bahasa jawa yang berarti terkabul. Sembodo, mengalami perubahan bentuk kalimat, akan tetapi memiliki makna yang sama. Yaitu Kasembadan, atau dari kalimat kabul menjadi terkabulkan. Dari kalimat tersebutlah, yang memberikan predikat bahwa sendang ke tujuh ini, atau sendang sembodo ini, adalah akhir dari pencapaian perjalanan sepiritual manusia. Setelah melalui ritul berbagai macam persyaratan, yang memunculkan sebuah rintangan, atau cobaan yang berawal dari sendang pertama menuju sendang tahap terakhir, di nyatakan telah selesai. Sebenarnya keberadaan sendang ini bukan lah akhir dari perjalanan sepiritual. Padahal, untuk mencapai perjalanan sepiritual yang benar benar mutlak, persyaratan yang harus di penuhi, atau persyaratan yang harus di kunjungi bukan di sini. Ada salah satu sendang, jika menurut hitungan, dan menurut segi bangunan, tergolong sendang ke tujunya dari komplek sendag pitu cabean kunti. Memang, sangat jarang sekali sndang ini mendapatkan kunjungan dari orang luar. Kemungkinan besar yang tau akan keberadaan sendang ini hanya penduduk lokal saja. Lebih di kenal dengan sebutan Sendang Kedung Mayit. Memang agak aneh dari pelafalannya, terkesan mistis untuk di dengarnya.

Sendang Kedung
Mayit
Sendang Kedung
Mayit
Padahal, sendang sedayu dan sendang sembodo memiliki tata letak yang sudah tersembunyi. Bahkan hanya beberapa persen pengunjung yang tau dan benar benar faham tentang lokasi keberadaan kedua sendang tersebut. Akan tetapi, di antara sendang pitu cabean kunti, ada sebuah bangunan sendang yang lebih tersembunyi lagi. Masih berada di wilayah Desa Margomulyo, berada di ujung Desa paling selatan. Berdampingan dengan sungai pembatas wilayah. Di bawah rimbunan tanaman bambu di belakang rumah warga. Sendang tersebut memiliki sumber mata air yang cukup melimpah. Selain di manfaatkan oleh warga sekitar, aliran sumber mata air dari sendang tersebut juga di manfaatkan pihak Pondok Pesantren.

Sendang Kedung
Mayit
Sendang Kedung
Mayit
Tidak jauh beda dengan sendang sendang lainnya. Bahwa sendang kedung mayit juga memiliki sumber mata air yang sangat melimpah. Debit air yang di keluarkan dari dalam Perut Bumi sangat besar sekali. Sehingga mampu menyuplai air untuk warga dan lingkungan Pondok Pesantren. Bahkan sisa dari aliran tersebut di manfaatkan untuk mengairi lahan pertanian berupa sawah dan pertanian sayuran. Sendang ini memiliki cerita rakyat yang berbeda, dari sendang pitu cabean kunti. Seolah, sendang ini tidak di anggap keberadaannya dari alur cerita tersebut. Padahal kalau di cermati, bangunan sendang ini merupakah salah satu pelengkap dan akhiran dari sendang pitu cabean kunti.

Sendang Kedung
Mayit
Sendang Kedung
Mayit
Cerita yang beredar tentang sendang kedung mayit, tidak jauh beda dengan sendang sedang lain. Dengan kesamaan tentang kesakralan, dan kemistisan sendang. Di ceritakan bahwa, jika lewat di atas waktu Asyar, atau mendekati waktu Maghrib, warga sekitar di larang melintasi sendang tersebut. Padahal, kebanyakan aktifitas petani saat menggarap lahannya melewati sendang itu. Banyak yang bercerita dari pitutur sesepuh terdahulu. Dengan wejangan yang sudah di sematkan. Dari waktu yang sudah di tentukan, dan harus melewati sendang tersebut, maka orang itu akan mengalami kejadian yang aneh. Di mana kejadian itu akan bertemu dengan ramainya manusia yang berlalu lalang di seputaran sendang. Menggunakan pakaian adat jaman Kerajaan. Gambaran sebuah kegiatan dari cerita itu seolah olah mereka dengan berbagai macam beraktifitasnya di sendang sedang mengambil air menggunakan klenting, atau gentong kecil yang terbuat dari tanah liat, atau gerabah. Ada yang mencuci beras, aktifitas mandi, aktifitas orang pulang dari sawah dan mensucikan diri dari sisa sisa tanah yang menempel pada anggota badan. Mereka hanya terdiam, tanpa adanya tegur sapa, dan tanpa adanya suara yang keluar dari pergerakan mereka. Dari cerita yang beredar luas, warga yang pernah punya pengalaman demikian menceritakan. Dengan menggambarkan anggota bagian tubuh lengkap secara keseluruhan. Akan tetapi, mereka tidak punya muka, tidak ada kening, tidak ada mata, tidak ada hidung dan tidak ada mulut, putih, dan pucat warna kulitnya. Dan jika bejo atau pas apesnya, akan ketemu dengan sosok yang di maksud dalam cerita.

Sendang Kedung
Mayit
Sendang Kedung
Mayit
Pengamatan tertuju pada beberpa komponen dari bangunan sendang kedung mayit, dugaan memiliki kesamaan konsep konstruksi dengan bangunan sendang lain. Dengan kondisi yang memprihatinkan, selain tersebar di seputaran sendang, beberapa komponen dari bangunan sendang telah di manfaatkan untuk bahan bangunan cor.  Komponen kompnen tersebut di tata seadanya, lalu dilakukan pengecoran, berbentuk bangunan penampungan air yang baru. Hanya menyisakan panel penghias berupa kemuncak, bagian punggung pagar dengan hiasan antefiks sambungnya. Dengan kondisi dan keadan yang demikian, jika mengamati kontur tanah  yang berdinding dugaan bangunan sendang kedung mayit mengalami kerusakan karena roboh.

Sendang Kedung
Mayit
Sendang Kedung
Mayit
Penyebab tanah longsor yang berada di sebelah utara dan sebelah barat. Karena kontur tanah tersebut membentuk huruf " L ". Sehingga memungkinkan bangunan sendang berada di antara sudut tanah. Jadi, ketika longsor itu terjadi, tanh yang dari arah utara dan arah barat longsor secara kebersamaan. Hasil dari longsoran mendesak dan mendorong bangunan dengan kuat. Efek dari dorongan material tanah yang bercampur pasir, menyebabkan beberapa bangunan terkubur dan hanya menyisakan bagian punggung pagar dan hiasan kemuncak saja. Sumber mata air yang paling dominan, dengan debit air yang besar keluar dari sisi tebing sebelah barat. Rimbun dengan serangkaian pohon bambu, rimbun dengan rumput liarnya, berserakan dengan daun keringnya, bercampur dengan kelembaban. Sehingga, membuat tempat tersebut berkesan tidak memberikan kenyamanan. Di tambah lagi dengan cerita rakyat yang beredar luas, membuat tempat ini menyimpan misteri dan mistis.

Sendang Kedung
Mayit
Sendang Kedung
Mayit
Cerita rakyat memiliki peranan yang sangat penting dalam mengembangkan kearifan lokal suatu daerah. Apakah itu berdampak dengan kehidupan sekarang .. ??? Sangat berdampak sekali, apa lagi cerita itu di kait kaitkan dengan  kehidupan masa lalu. Perihal yang tidak ada, seolah olah pernah terjadi. Lebih parahnya lagi, beberapa dari kejadian sangat di yakini, dan di suguhkan dengan peringatan peringatan tiap tahunnya.  Padahal, secara analisis dan logika yang tepat, kehidupan masa lalu dalam cerita, semua itu tidak pernah ada dan tidak pernah terjadi. Keyakinan itu memuncak ketika erita rakyat di bungkus dengan pedoman yang berbau sakral dan mistis. Yang pastinya, kejadian di luar nalar, dengan sikap mengagungkan bakalan terjadi. Mari kita sikapi dengan logika yang normal dan terbuka.

Sendang Kedung
Mayit
Sendang Kedung
Mayit
Cerita rakyat itu memiliki kebenaran untuk mempertahankan kearifan lokal suatu daerah. Ingat, hanya kearifan lokal saja, tidak lebih dari itu. Dan cerita rakyat termasuk dalam golongan atau memiliki peran dalam perlindungan Cagar Budaya. Kenapa demikian .. ??? Ketika cerita itu beredar, tersebar luas di kalangan masyarakat, dengan terbungkusnya cerita horor, di balut pula dengan cerita sakral dan mistis. Dari kejadian itu, perasaan takut akan kualat pun terselubung dalam pikiran. Karena doktrin pendahulu kita telah menjadikan Sugesti yang sangat kuat di dalam pribadi masyarakat seutuhnya. Dengan kenyataan yang berjalan telah memberikan pesan setiap masyarakat dan berlanjut kepada orang lain. Seolah itu semua benar terjadi dan berdampak buruk bagi pelanggarnya. Sehingga tak ada seorang pun yang bertingkah dan berani mendatangi, merusak, atau mengambil Situs tersebut. Karena sudah Percaya dengan yang namanya sugesti.  



























































Komentar

Postingan populer dari blog ini

SITUS CANDI DI MAKAM WALIULLOH KHASAN MUNADI

WATU LUMPANG DAN UNFINIS YONI KENDALI SODO

MAKAM WALIULLOH SYECH SUDJONO DAN KE DUA SAHABATNYA